Ketika Kehidupan Menuju Titik Lemah

MANUSIA diciptakan Tuhan dengan batas-batas (daedline) yang sudah tercatat dalam janji Tuhan bersamaan dengan proses penciptaannya. “Likulli ummatin ajal.” Tuhan ciptakan manusia dengan batas-batas waktu yang jelas. Termasuk di dalamnya batas usia yang sudah ditetapkan sejak cikal-bakal penciptaan manusia. Tidak hanya usia, namun seluruh raga dan kehidupan kita ada ajal atau batas waktu yang telah ditetapkanNya.

Itulah sebabnya Tuhan menghendaki agar kita benar-benar memaksimalkan potensi diri pada deret waktu sebelum datangnya batas-batas yang ditetapkan Tuhan menghampiri tubuh dan jiwa kita, sebagaimana firmanNya, “Fastabiqul Khairot.” Berlomba-lombalah kamu dalam kebaikan. Ini mengandung makna kita harus mengimbangi berjalannya waktu dengan melaksanakan amaliah positif lagi bermakna, karena dengan habisnya waktu dikerat oleh detik sama artinya kita kehilangan kesempatan.

Kita mulai dengan merenungkan otak yang berfungsi untuk berpikir, ia memiliki kelemahan dan pada waktu-waktu tertentu akan ada masanya tidak mampu berpikir rasional, tidak mampu berpikir jernih, tidak mampu berpikir cerdas, tidak mampu berpikir obyektif. Adakalanya pula otak ini akan tumpul, ada masanya otak ini akan lemah, dan ada waktunya otak ini akan kehilangan fungsi yang sebenarnya.

Sebelum sampai kepada batas waktu, idealnya harus kita manfaatkan dengan sebaik mungkin untuk berpikir jernih, untuk berpikir sehat, berpikir jujur, berpikir tentang kebenaran, berpikir tentang kebaikan. Jangan sampai otak ini tiba pada batas di mana ia mengalami kelemahan fungsi sebelum menggunakannya untuk berpikir yang baik, yang jernih, untuk berfikir jujur dan obyektif.

Kemudian hati juga punya kelemahan, punya batas waktu untuk bisa merasakan sesuatu, punya batas waktu untuk kuat menangkap cahaya kebenaran, punya tenggang waktu untuk mampu memberi pertimbangan, ada masa akan mengalami disfungsi, ada kalanya tidak mampu menangkap sinyal-sinyal yang masuk  kedalam bashirah (sanubari), adakalanya akan suram dalam menangkap petunjuk kebaikan.

Sebelum hati ini lemah, sebelum hati ini tumpul, sebelum hati ini sakit, sebelum hati ini kehilangan fungsi, gunakanlah untuk menimbang yang baik-baik, gunakanlah untuk mengangankan yang benar, gunakanlah untuk mengangankan yang maslahat, gunakanlah untuk mengangankan yang manfaat, gunakanlah untuk mengangankan yang positif. Jangan sampai tiba saat di mana hati ini mengalami kelemahan fungsi sebelum digunakan pada hal-hal yang baik dan benar.

Selanjutnya mata juga punya batas waktu untuk kuat melek, untuk kuat melihat dengan jelas, untuk kuat melihat dengan tajam, untuk mampu melihat tulisan-tulisan yang kecil dengan tajam, untuk melihat cahaya dengan jelas, untuk melihat sinar dengan terang, dan punya batas waktu untuk mampu merekam dan menangkap obyek dari jarak jauh.

Sebelum batas itu datang, sebelum waktu lemahnya datang, manfaatkanlah mata ini untuk melihat sesuatu yang benar, melihat sesuatu dengan benar, melihat sesuatu dengan penglihatan yang bijaksana, menggunakannya untuk lebih banyak membaca, dan lebih banyak terjaga untuk sesuatu yang jujur dan maslahat.

Telinga kita juga ada batas waktu untuk mampu mendengar, untuk mampu menangkap suara yang jelas, untuk menangkap bunyi-bunyian dengan terang, untuk bisa menangkap bisikan-bisikan. Selagi masih memiliki fungsi yang sehat dalam mendengar, gunakanlah untuk mendengar secara jujur, manfaatkanlah untuk arif dalam menyimak, dan fungsikanlah untuk menyimak dengan maksimal.

Kaki kita pun juga ada batas waktu untuk mampu berdiri tegak menyangga tubuh kita, ada waktunya dia lemah,  tidak mampu berdiri tegak, tidak kuat menopang, tidak kuat melangkah dengan tegap, dan ada kalanya tidak sanggup bertumpu. Selagi kaki ini masih memiliki fungsi yang sehat, kuat, dan kokoh gunakanlah secara maksimal dan terbaik untuk menopang dan menyangga kebaikan yang akan dilakukan tubuh kita.  

Tangan dengan jari jemarinya yang lincah saat ini pun punya batas waktu untuk bisa bergerak lincah, ada kalanya akan mengalami kelelahan, dan ada saatnya akan mengalami kegagalan gerak motorik. Selagi masih lentur dengan gerakan motorik yang indah dan nyaman, gunakanlah untuk beraktivitas dengan baik, untuk beraktivitas dengan sempurna, dan gunakan secara maksimal dalam akitivitas-aktivitas terpuji.

Tuhan mengingatkan sekaligus memberikan tantangan bagi kemanfaatan seluruh potensi hidup yang diberikan kepada kita, “Alladzi khalaqal mauta wal hayata liabluakum ayyukum ahsanu amala.” Bahwa kematian dan kehidupan yang kita jalani hanya untuk memberi tantangan kepada kita—siapa yang paling maksimal dalam menggunakan dan memanfaatkan potensi-potensi raganya sebelum potensi itu mengalami disfungsi.

Saatnya kita membaca dan menyoal diri kita masing-masing, sudahkah kita menggunakan potensi-potensi yang diberikan Tuhan dalam raga ini secara maksimal dalam menunaikan tugas dan fungsi kita sebagai makhluk budaya, makhluk sosial, dan makhluk beragama? Ingatlah bahwa waktu terus berjalan mengantarkan kita pada deadline menuju titik lemah. Kata Filosof Romawi, “Even God can not change the past.“ Bahkan Tuhan pun tidak bisa mengubah masa lalu.[]

Ilustrasi: pixabay.com

1 komentar untuk “Ketika Kehidupan Menuju Titik Lemah”

Tinggalkan Komentar

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *