Isra’ Mi’raj: Refleksi Politik Kepemimpinan Nabi

Mengapa perjalanan Rasulullah SAW dalam waktu satu malam dengan menaiki Buraq atau yang dikenal dengan Isra’ rute perjalananya dari Masjidil Haram (Makkah) ke Masjidil Aqsha, Al Quds, Palestina?. Mengapa tidak ke tempat lain?. Mesir, misalnya.

Inilah pertanyaan menggelitik yang harus dijawab. Karena selama ini pengajian-pengajian untuk memperingati isra’ mi’raj Rasulullah SAW selalu membicarakan tentang ketetapan serta kewajiban shalat wajib lima kali sehari. Jarang atau bahkan tidak banyak mubaligh yang memberikan kajian menggunakan tema Isra’ Mi’raj sebagai titik awal kemajuan politik Islam.

Peristiwa Isra’ Mi’raj terjadi setelah wafat paman dan istri Rasullullah SAW, sebelum peristiwa ini Nabi Muhammad dan para pengikutnya mendapatkan tekanan politik dari segala sendi kehidupan yang digencarkan oleh kaum Quraish, baik dalam ekonomi, sosial maupun budaya, disanalah pembuktian keteladanan dan kearifan Rasulullah SAW sebagai pemimpin untuk pengikutnya (koalisi murni karena Allah SWT).

Rasulullah SAW mensiasati dua hal penting, yakni ideologi dan sistem yang dibangun haruslah kuat, akurat dan sejalan dengan fitrah manusia. Shiddiq, amanah, tabligh, dan fathonah dalam menghadapi pelbagai persoalan serta ancaman, Allah SWT mempunyai kehendak dan rencana baik untuk selanjutnya menghadiahi Rasulullah sebuah perjalanan menuju Arsy yang kemudian dikenal dengan istilah Isra’ dan Mi’raj.

Baca juga: Menguji Gagasan Demokrasi Takwa; Buya Hamka

Dimensi politik kepemimpinan sang Nabi pada peristiwa Isra’ Mi’raj menurut Prof. Dr. Muhammad Rawwas Qal’ah Jie, seorang guru besar di Kuwait, melalui kitabnya Qira’ah Siyasiyah Li Sirah Nabawiyah, beliau membaginya menjadi  tiga bagian penting mengenai dimensi politik, sosial dan spiritual di balik peristiwa yang terjadi pada tahun pertama sebelum hijrah itu.

Pertama, Rasulullah SAW tampil menjadi imam ketika shalat bersama para nabi yang membawa agama samawi sebelumnya. Artinya Rasulullah SAW adalah pemimpin. Dengan demikian telah terjadi perubahan politik yang sangat mendasar. Fakta ini menunjukkan terjadinya pergeseran kepemimpinan dari Bani Israil kepada umat Muhammad.

Kedua, kepemimpinan dunia beralih ke Rasulullah SAW, dapat dikatakan demikian sebab agama samawi yang masih ada, yakni Yahudi dan Kristen, adalah agama Bangsa Israel. Akan tetapi orang-orang yang mengemban agama tersebut sudah tidak layak lagi untuk memimpin. Mereka telah menjual agama dan ideologi dengan harga murah, mendistorsi agama dan mengganti petunjuk-petunjuk yang menjadi ciri khasnya.

Ketiga, pemimpin atau penguasa atas Baitul Maqdis, sesungguhnya peristiwa Isra’ ke Baitul Maqdis menunjukkan bahwa Al Quds adalah bakal wilayah kekuasaan Daulah Islam yang akan berdiri. Artinya beliaulah sejatinya pemimpin Baitul Maqdis yang merupakan rumah suci salah satu wilayah di antara sejumlah wilayah Islam nantinya akan berkibar di sana bendera Islam.

Keberhasilan Rasullah SAW juga bisa dilihat ketika memimpin dan membangun negara Madinah, menjadikan negara tersebut dipuji dan dijadikan representasi negara modern, tidak terlepas dari strateginya ketika meletakkan fondasi dan kon­struksi masyarakat madani. Dalam konteks ini, Nabi menggariskan etika dan tanggung jawab bersama dalam sebuah dokumen yang dikenal ‘Piagam Madinah’ (Mitsaq al-Madinah). Piagam inilah yang oleh kalangan sejarawan modern dikenal sebagai ‘Manifesto Politik’ Nabi.

Sehingga menjadi pelajaran berharga teruntuk umat Islam, sebuah kepemimpinan yang tetap relevan sampai kapanpun (shalih likulli zaman wal makan). Menjadi dambaan terwujudnya reformasi untuk masyarakat baru, yakni terciptanya masyarakat madani yang secara gemilang telah dibangun Nabi ketika beliau memimpin negara Madinah. Sampai akhirnnya Robert N Bellah, misalnya, menyebut masyarakat madinah merupakan masyarakat modern.

Kepemimpinan Islam bukan diktator (imam bisa diingatkan bila salah dan diganti bila batal). Pemimpin dipilih oleh rakyat untuk bisa menjalankan tugas sesuai dengan syariat dari Tuhan Yang Maha Esa, maka sudah benar bahwasanya konstitusi kita tidak tersurat “demokrasi” namun kerakyatan yang dipimpin oleh hikmat kebijaksanaan dalam permusyawaratan perwakilan  harus dikedepankan dan menjadi ruh pemimpin di negara ini.

Pemimpin Penebar Cinta

Rasulullah SAW seorang figur dan sosok pemimpin yang sangat mencintai rakyatnya secara tulus. Hal ini dibenarkan oleh kawan maupun lawan. Seperti penulis astronom barat Michael Hart dalam buku “100: A Ranking of the Most Influential Persons in History” (100: urutan orang yang paling berpengaruh dalam sejarah), menempatkan Rasulullah SAW sebagai pemimpin yang paling berpengaruh urutan pertama sepanjang waktu.

Melihat kebesaran figur Rasulullah SAW, menimbulkan rasa ingin tahu gerangan yang menjadi rahasia keberhasilan dakwah dan kepemimpinan Rasulullah SAW. Ternyata, rahasianya sangat sederhana. Rasulullah SAW adalah pemimpin yang menebarkan cinta dan kasih sayang kepada rakyatnya. Ini dilakukan bukan demi politik pencitraan, popularitas, dan kekuasaan, tetapi dilakukan dengan penuh ketulusan dan keikhlasan demi kebaikan umatnya.

Hal ini ditegaskan dalam Alquran surat At-Taubah (Qs : 9:128), Allah SWT berfirman, Artinya: “Sungguh telah datang kepadamu seorang Rasul dari kaummu sendiri, berat terasa olehnya penderitaanmu, sangat menginginkan (keimanan dan keselamatan) bagimu, amat belas kasihan lagi Penyayang terhadap orang-orang mukmin”.

Baca juga: Cara Tolak Bala dalam Politik

Rasulullah SAW mengorbankan jiwa dan raganya, demi cinta dan kasih sayang kepada umatnya. Misalnya, ketika Beliau datang hendak berdakwah ke suatu kampung, disambut dengan lemparan batu hingga kedua kakikanya luka  berlumuran darah. Sampai akhirnya datang Malaikat Jibril menawarkan bantuan, “Bagaimana kalau kampung itu dihancurkan dengan dihujani batu?” Jawab Rasulullah SAW, “Jangan, karena mereka kaum yang belum mengerti” (Innahum qaum laa ya’lamun). Justru selanjutnya beliau mendoakan supaya penduduk kampung itu mendapat petunjuk dari Allah SWT.

Selanjutnya juga ketika seorang kafir yang ingin menemui Rasulullah SAW dengan membawa pedang yang sudah diasah tajam dan bersumpah menuju Makkah untuk mempertaruhkan nyawanya. Begitu bertemu orang yang dipanggil Muhammad darahnya mendidih, kata-kata kasar dan penuh caci maki berhamburan dari mulutnya. Mendengar itu semua Rasulullah SAW hanya tersenyum saja, senyuman beliau mengembuskan cahaya, dan cahaya itu menyadarkannya dan meluluhkan hati keras lelaki kafir itu.

Berdasarkan sunah Rasulullah SAW, seorang muslim tidak akan pernah menggunakan lidah dan tangannya untuk menyakiti siapa pun. Ia mengajarkan masyarakatnya untuk selalu tolong menolong sehingga menjadi pribadi orang  yang akan mendatangkan keselamatan, kebahagiaan, dan kesejahteraan kepada orang-orang di sekitarya, yang artinya  dapat berikhtiar  beserta tawakal kepada  Allah  SWT. 

Selanjutnya, menjadi pertanyaan kita hingga saat ini apakah pemimipin negara Indonesia sudah meneladani Rasullullah dalam berpolitik dan bernegara lalu apakah sikap calon kepemimpinan kita sesuai dengan yang dimiliki oleh Rasulullah. Maka jawabanya bisa dikatakan iya apabila rakyat Indonesia sekarang hidup bahagia, tentram, dan pemimpinya dapat menebarkan cinta serta kedamaian layaknya negara madinah yang bernuansakan keadilan, inkluvisme, dan demokratisasi.

Hemat penulis, bahwa Rasulullah SAW bukan hanya seorang pemimpin agama, melainkan juga pemimpin Negara. Beliau negarawan yang paling sukses dalam sejarah dunia bisa memimpin politik dan diplomator terbaik yang patut di contoh oleh para pemimpin-pemimpin di Negara ini. Indonesia membutuhkan sosok pemimpin seperti Rasulullah yang dapat menjadikan Indonesia role model Negara-negara Timur dan Barat kelak. Dengan meneladani sikap kepemimpinan Rasulullah, insyaAllah para pemimpin bangsa ini tau bagaimana cara menjadikan Indonesia menjadi sebuah entitas Negara yang maju dan berkeadilan.

Ilustrasi: kerincitime.co.id

Tinggalkan Komentar

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *