Nabi-nabi Baru

Indonesia lahan subur bagi para nabi-nabi baru. Belum empat puluh hari perginya nabi Lia Eden, yang memantik kembali ingatan kita akan ‘mukjizat’ kenabian itu. Nabi Lia bersaksi mendapat wahyu dari Jibril, hingga ia berhasil mendirikan Jemaah Salamullah dan aktif menyebarkan wahyu yang diterimanya.

Tindakan Lia itu menghebohkan seluruh Indonesia. Ekspresi keagamaan yang sedikit keluar dari pakemnya selalu menjadi buah bibir di mana-mana. Syukurnya tak ada bentrokan fisik yang besar, tapi sebagai konsekuensi, Lia Eden harus dua kali keluar masuk bui, dengan alasan menodai agama.

Pakem lima agama besar ini tak bisa diganggu gugat di Indonesia. Sebagai negara dengan kultur dan peran agama yang besar, Indonesia kian sinis dengan munculnya agama-agama baru. Setiap muncul agama seorang pengaku nabi dan pembawa agama baru selalu kita respon dengan hujatan. Tak terkecuali kasus terakhir dari Joseph Paul Zhang yang mengaku nabi ke dua puluh enam sekaligus menghina Nabi Muhammad.

Baca juga: Isra Miraj: Refleksi Politik Kepemimpinan Nabi

 Tak ubahnya dengan nasib Lia Eden dan kelompok Ahmadiyah yang belum sepenuhnya diterima negara, kelihatannya nasib yang sama juga akan dialami oleh Joseph Paul Zhang: dihujat dan dijebloskan dalam penjara. Sesingkat itulah progres nabi-nabi baru di Indonesia. Belum berkembang, sudah mati. Hanya yang kekeh saja yang bisa terus eksis mengembangkan dakwah dan wahyunya.

Ada pertanyaan yang menggelitik dan iseng mengapa ada saja yang mengaku nabi di Indonesia, walau mereka sudah tahu pasti itu akan dihujat dan paling jauh masuk penjara, apa mereka sudah bosan dengan hidup yang baik-baik saja, atau mereka ingin merasakan tirakat dalam kesunyian di penjara?

Mari kita analisis kecil-kecilan.

Rindu Sang Nabi

Dalam sejarahnya, umat Islam pernah mengalami pergolakan yang cukup panjang dengan munculnya nabi palsu sepeninggal Nabi Muhammad SAW. Asumsi saya mengapa banyak sekali muncul nabi-nabi baru sepeninggal Rasul saat itu yakni kerinduan akan sosok ‘penyelamat’ dan pemimpin umat. Dengan kerinduan dan tuntutan umat yang begitu besar siapa yang akan menggantikannya, muncullah tokoh-tokoh yang diam-diam menunggangi kerinduan umat tersebut.

Di samping mereka juga akan mendapatkan legitimasi sosial yang kuat dengan basis massa yang sudah tak susah untuk mulai mengikrarkan diri sebagai seorang nabi.

Di zaman sekarang, apakah kerinduan pada sosok nabi itu kembali? fenomena nabi batu era milenial kebanyakan sebagai gerakan kontra wacana dari ‘gagalnya’ orang beragama dalam menjamin tatanan hidup yang baik dan damai. Sehingga nabi baru era kontemporer itu hendak memberi jalan alternatif lain dalam menjalani kehidupan.

Tapi ya apa yang mau dikata, belum sempat mencari jalan alternatif dan menyebarkan ajarannya, borgol polisi, mulut netizen sudah langsung menodongnya dari sana sini. Seperti biasa netizen maha benar atas segala yang dianggapnya benar. Di sinilah diperlukan kearifan menahan diri, sebelum semuanya clear.

Produksi nabi Baru

Benarkan pintu kenabian sudah tertutup dengan predikat khataman Nabi dari Nabi Muhammad? setidaknya pertanyaan dasar itu yang membuat Prof. Dr. Al Makin terpantik untuk meneliti fenomena kenabian setelah Nabi Muhammad. Dalam bukunya Nabi-nabi Nusantara, Al Makin menulis kisah-kisah mereka yang mendaku sebagai nabi itu.

Tesis dasar Al Makin adalah nabi yang sering dipersepsikan sebagai utusan Tuhan itu memang benar adanya, tetapi jika nabi dilihat dari konteks gerakan sosial fenomena munculnya nabi baru itu tidak bisa dihilangkan. Karena selalu ada produksi yang terus menerus karena disebabkan kultur religius masyarakat Indonesia.

Baca juga: Spiritualitas dan Modernitas: Tantangan Agama di Masa Depan (3)

Jadi, jika kita menggunakan tesis dari Al Makin ini, bahwa munculnya orang yang mengklaim sebagai nabi adalah fenomena biasa yang bisa dikatakan lumrah terjadi. Kita tinggal menunggu waktu saja dari mana dan kelompok apa dia mengklaim diri sebagai nabi.

Jika menurutnya telah ada sekitar enam ratus nabi baru dari seluruh Nusantara ini. dari Lia Eden hingga Sensen Komara yang mempunyai beribu pengikut. Jadi sebaiknya sebagai manusia Indonesia yang sudah terbiasa mendengar fenomena kenabian semacam ini, sebaiknya kita tak perlu bersikap berlebihan.

Manusia Indonesia harus belajar dari kasus-kasus sebelumnya. Seperti yang dibilang tadi, nasib nabi baru itu tak jauh-jauh amat dari kejaran polisi dan hujatan netizen. Maka dari itu, sebagai netizen yang budiman, berhentilah menghujat nabi-nabi baru dan simpan HP mu, mulailah bersikap cuek dan biasa-biasa saja atau dengan sambil sedikit menertawakannya.

Ilustrasi: Noqtah Art

Tinggalkan Komentar

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *