Spiritualitas dan Modernitas: Tantangan Agama di Masa Depan (3)

TRAGEDI seperti kejahatan kemanusiaan sebagaimana yang telah saya singgung merupakan implikasi terhadap kesadaran obyektif (kebendaan) manusia yang lahir dari prespektif “keluasan”. Padahal manusia adalah subyek—yang seharusnya juga memilik kesadaran subyek. Namun bukankah pada banyak kenyataan, kita cenderung menganggap dan memposisikan manusia lain sebagai obyek (benda)?

Menempatkan dan memperlakukan seseorang sebagai obyek (benda) merupakan kejahatan kemanusiaan—karena telah merendahkan harkat dan martabat manusia lain; ini semua merupakan implikasi dari paradigma sains modern melalui budaya inderawi yang telah mendarah daging—hingga merongrong sisi kemanusiaan kita. Walhasil; manusia tak menghiraukan unsur kedalamannya.

Dalam banyak hal, kita selalu dilatih bahkan diajarkan di institusi-institusi pendidikan yang seharusnya melahirkan manusia, namun kini beralih menjadi semacam pabrik pencetak mesin dan robot. Padahal pendidikan adalah cara tentang bagaimana menjadi manusia dan memanusiakan manusia. Dengan kata lain, institusi yang seharusnya mencetak manusia, kini berubah menjadi pencetak mesin.

Marwah mulia pendidikan telah terpangkas oleh adanya kepentingan-kepentingan materialistik di dalamnya. Kapitalisasi pendidikan dan peraktek pelacuran intelektual—secara sadar telah menodai konstitusi negara yang ingin mencerdaskan kehidupan Bangsa. Belum lagi biaya pendidikan yang mahal, membuat generasi kita mengubur dalam-dalam keinginan dan impiannya untuk mengenyam pendidikan. Bukankah mereka juga berhak untuk mendapatkannya?

Keadilan, kesejahteraan, kedamaian, kemiskinan, kelaparan, pelanggaran HAM dan masih banyak lagi yang lainnya—adalah masalah yang belum terselesaikan oleh Bangsa ini. Begitupun dengan janji-janji “sampah” politik sejak puluhan tahun lamanya masih menjadi omong kosong belaka bagai buih lautan. Secara fisik kita memang terlihat seperti manusia; namun secara pikiran, kita tak ubahnya robot yang selalu dikontrol—yang kemudian kita mempertanyakan di mana letak kehendak bebas kita sebagai manusia?

Secara fisik kita memang terlihat seperti manusia; namun secara pikiran, kita tak ubahnya robot yang selalu dikontrol—yang kemudian kita mempertanyakan di mana kehendak bebas sebagai manusia. Sepertinya kita memang harus mengakui, bahwa ada populasi baru yang menghuni dunia ini.

Kita memang harus gelisah dan bahkan perlu meragukan sisi kemanusiaan kita. Mungkin secara jasad kita memang terlihat seperti manusia; memiliki kepala, tangan, kaki, wajah, badan dan seterusnya—namun bentuk luar bukanlah aspek yang dapat diindetikan secara sepenuhnya kepada manusia. Karena jika demikian cirinya, lalu apa bedanya kita dengan hewan lainnya?

Meskipun struktur fisik kimia kita sama dengan hewan; seperti kebiasan makan, minum, sex dan seterusnya—namun aspek eksternal bukanlah esensi yang dimiliki secara unik oleh kita. Sebagaimana ketika saya mengatakan dan menunjuk; ini adalah tangan, kaki, dan wajah saya, namun tangan, kaki, dan wajah saya tidaklah sama­—atau identik dengan saya. Hubungan saya dengan tangan, kaki dan muka saya adalah hubungan kepemilikan, bukan hubungan intirinsik.

Dengan kata lain, saya dibadankan (embodied) dalam dan melalui badan saya; buka saya adalah badan saya—atau badan saya adalah saya. Karena embodied, maka saya dengan badan saya tidak bisa dipisahkan selama kehidupan alam material. Bila badan saya bukan saya, maka semua apa yang saya miliki, seperti kekayaan, jabatan dan lain-lain (obyek)—yang bisa dipisahkan dengan saya adalah juga tidak bersifat intirinsik atau bukan merupakan esensi utama dari saya (subyek).

Dalam beberapa kenyataan, kita hampir tak bisa lagi membedakan dan menyadari antara kedua aspek tersebut. Jikapun bisa, kecenderungan terhadap aspek keluasan dan eksternal akan menjadi hal yang diutamakan. Kita mengalami keterjebakan dalam banyak hal. Keterjebakan oleh hasil cara pandang kita dalam memahami esensial kehidupan. Seolah dengan sengaja—kita dibuai oleh kegemerlapan hiruk pikuknya dunia—yang kemudian menjadikan kita manusia yang kering terhadap spiritualitas.

Kedua hal ini semakin lama semakin direduksi oleh kecenderungan manusia-manusia mekanistik yang menjadi ciri sebuah benda (obyek). Hanya benda yang tak membutuhkan spiritualitas—sementara kita membutuhkan itu—ketika kesadaran kita sebagai manusia benar-benar diaktifkan. Namun pada kenyataanya, untuk merasakan hal-hal yang semacam itu terasa sangat sulit. Seperti mengharapkan cahaya di tengah lorong gelap yang pengap. Seperti mencari permata di tengah tandusnya kehidupan yang banal.

Pengendalian hasrat di tengah arus besar modernitas kadang menakutkan. Gelora hasrat atas pengaruh zaman yang menuju post-modern saat ini—semakin menghanyutkan kita dalam lorong ekstasi kebendaan, dalam lembah kepanikan  dan di dalam lumpur kotradiksi. Sebuah zaman yang di dalamnya menjadikan kita kehilangan arah dan tujuan. Di tengah badai krisis moral yang menghantami kita begitu dahsyat, di tengah turbulensi yang menyelimuti kita, dan di tengah rimbah hasrat yang mengelilingi kita, serta di tengah kepanikan materi yang menghantui—dan lalu kita akan bertanya; “kemanakah umat manusia itu sesungguhnya akan di bawah?

 Kita terbawa dan terhimpit di dalam kerumunan sampah-sampah peradaban. Bahkan kini agama menjadi pegangan yang amat rapuh. Kita menanggalkannya demi sebuah kehidupan yang dianggap lebih realistik dan normal dan dengan lantang berkata: “yang kita butuhkan saat ini bukan dalil-dalil keagamaan, melainkan nilai-nilai kemanusiaan”. Spiritualitas seolah menjadi sangat asing dan berdebuh. Kita bagai bak kosong yang telah lama tak diisi oleh air yang kemudian retak dan hancur berkeping-keping. Sebagaimana hancur leburnya peradaban yang dibangun oleh para pendahulu-pendahulu kita.

Dalam situasi semacam ini, kita hanya ada dua pilihan: hanyut dan lebur dalam ketertenggelaman dunia yang hingar atau menepi dalam kesunyian kesendirian. Sebab, kehingar-bingaran dunia saat ini lebih menakutkan daripada alienasi. Setidaknya dalam kesendirian kita lebih jernih dalam melihat segala hal. Setidaknya dalam keheningan kita dapat merenung dan kembali pada keintiman Ilahiah sebagai pemenuhan dahaga spiritual dari tandusnya kehidupan. Namun melihat kenyataan seperti saat sekarang—kita mungkin bertanya; masih adakah ruang-ruang kontemplasi di tengah zaman yang diselimuti oleh keberlimpahan unsur materialism?

Tentu saja, semakin kita menyelami segala kemungkinan yang akan terjadi—kita semakin dibuat cemas terhadap peradaban umat manusia di masa yang akan datang. Semua terasa tidak lama lagi; mengingat dengan segala kecanggihan teknologi saat ini—menjadikan manusia sangat bergantung padanya. Sebab, semua keinginan dan kebutuhan umat manusia dapat diperoleh dengan sekejap mata, tanpa harus bersusah payah meminta dan memohon melalui ritus-ritus yang tak lagi dimaknai sebagaimana mestinya… (lanjut ke bagian 4)

Ilustrasi: pixabay.com

Tinggalkan Komentar

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *