Spiritualitas dan Modernitas: Tantangan Agama di Masa Depan (4)

DARI apa yang telah saya paparkan di beberapa bagian sebelumnya, tidak lain merupakan segenap keresahan dan kegalauan yang kemudian berusaha menimpali segala paradoksnya kehidupan. Kesenjangan demi kesenjangan yang dirasakan, pada titik tertentu melahirkan kekhwatiran yang amat menguras tenaga dan pikiran—atau bahkan menuju keadaan yang amat pesimis. Bagaimana mungkin kita memalingkan dari segala bentuk materi di tengah dunia—yang justeru bergantung pada materi itu sendiri. Sungguh suatu yang hal amat sulit dan bahkan mustahil.

Meskipun demikian, kita masih banyak kesempatan untuk sekedar meminimalisasi berbagai paradoks yang ada. Meskipun pada kenyataannya, tanpa disadari kita tengah diarahkan—dan bahkan dipaksa untuk menyakini—bahwa di masa depan sains lebih menjanjikan untuk membantu kehidupan manusia dibandingkan agama. Tetapi pada kenyataan lain, manusia juga tetap tidak bisa lepas dari unsur spiritualitas—karena agama berperan dalam ranah rohani sebagai kendaraan sprititual manusia dalam memahami hidup dan bahkan lebih dari itu.

Dari semua kehawatiran yang ada saat ini, ada satu keadaan yang juga sangat memungkinkan—yakni tentang ketidakmampuan manusia untuk membedakan antara yang profan dengan yang sakral. Sebagaimana yang mungkin akan terjadi di masa depan; tentang keadaan—dimana manusia semakin sulit menemukan sebuah makna dan esensi. Kecanggihan tehknologi menyebabkan manusia kehilangan kedalaman—sehingga wajar jika manusia tak lagi mampu memaknai.

Kecanggihan tehknologi telah menyeretnya dan menjalin hubungan yang begitu intim—bahkan lebih intim daripada hubungan dengan sesuatu yang Ilahiah. Sehingga dari hubungan itu pula—menyebabkan manusia memiliki kecederungan pola pikir yang serba mekanistik. Lalu apa bedanya manusia dengan mesin dan benda-benda lainnya?

Jika pada awalnya perbedaan manusia dengan benda—dikarenakan ia memiliki potensi memaknai dan menilai, maka di masa depan, hanya sedikit manusia yang dapat melakukannya. Sebab, kita dilatih dan diajari di sekolah-sekolah, institusi dan perguruan-perguruan tinggi. Sebagaimana manusia—agamapun juga demikian. Meskipun ritual-ritual tetap dijalankan, namun nilai dan makna dalam ritual dan ibadah mengalami distorsi.

Bukan hal yang tidak mungkin, mengingat segala aktivitas manusia saat ini mulai diteknologisasi, realitas-realitas yang divirtualkan, ruang-ruang suci buatan, kitab-kitab suci yang telah digitalisasi—dan tidak menuntut kemungkinan jika ibadah-ibadah lainnya pun juga akan mengalami hal yang sama.

Pada keadaan semacam inilah, maknah dan nilai perlahan terkikis oleh aspek material yang terkandung di dalam “raksasa” yang kita sebut sebagai teknologi. Pencampuran entitas, peleburan esensi, dan simpang-siurnya nilai-nilai merupakan hasil dari benturan dua aspek tersebut. Sehingga yang suci dicemari oleh yang kotor—yang Ilahiah dicemari oleh yang duniawi—spiritual dicemari oleh material—demikian juga yang transenden dicemari oleh yang imanen. Semua seakan tak lagi dapat dibedakan, bahkan absurd dan kabur. Semua seakan hancur berantakan—yang kemudian pada titik puncaknya—kemungkinan besar akan menimbulkan sebuah  revolusi yang tak pernah terbayangkan.

Tentang kesucian, agama dan spiritualitas, kini—bahkan nati mungkin hanya sebatas artifisial dan pendangkalan semata. Yang sakral dianggap profan, yang imanen dianggap transenden. Maka tak heran jika ada banyak sekali yang mengalami keterjebakan dan menganggap beragama secara artifisial-simbolik melaui penampakan-penampkan dangkal semacam itu dianggap sebagai representasi iman yang transenden.

Di masa depan, spiritual seakan tak ada lagi ruang. Sebab ia akan selalu dihadapkan dengan berbagai kontradiksi atas berbagai paradoksnya kehidupan. Spiritualitas bukan lagi menjadi sesuatu yang transeden, melainkan telah berubah menjadi imanen dan terdistorsi dan terdeviasi dalam sebuah realitas tanda dan pencitraan semata.

Keadaan itu semacam halu atau mitos dari hasil konstruksi budaya di masa depan. Demikian juga dromologi budaya di masa sekarang dan masa yang akan datang—telah, dan akan terus merongrong masuk ke dalam ruang-ruang privat manusia, bahkan ruang-ruang suci keagamaanpun telah—dan akan terus dijamah secara habis-habisan.

Tidak ada yang tidak mungkin, dengan sedikit awas dan peka melihat keadaan hari ini, akan membuat kita semakin sadar tentang bagaimana kondisi yang akan datang. Sebuah pergeseran dan laju kebudayaan yang begitu cepat. Benturan demi benturan antar peradaban pun tak dapat dielakan. Generasi-generasi yang tak lagi mengenali identitas, leluhur dan bahkan agama seakan menjadi tumbal peradaban di zaman yang akan datang.

Percaya atau tidak; dari berbagai persoalan dan tantangan yang tengah kita hadapi saat ini merupakan bukti, bahwa sejarah awal pembentukan modernitas yang ada kini memang dibangun melalui cara-cara yang tidak manusiawi, brutal dan keji—atau dengan kata lain—peradaban yang lahir dari “bibit busuk.” Tetapi meskipun demikian, sejarah juga mengajarkan bahwa apapun yang tumbuh kea arah titik ekstrem—pada akhirnya juga akan berkembang ke arah penghancuran dirinya sendiri.

Ancaman lubang ozon merupakan contoh dari sebuah pertumbuhan yang amat melampaui titiknya. Alih-alih ingin mensejahterakan umat manusia—namun malah menjadi ancaman serius bagi masa depan kita. Lalu dengan hati yang terketuk nan sadar—dan juga khawatir—kemudian muncul pertanyaan; apa langkah yang mesti harus kita lakukan untuk menghentikan atau meminimalisir keadaan ini.? []

Ilustrasi: Positive Catalog

Tinggalkan Komentar

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *