“Bararea” dan Kegalauan Kita di Media Sosial

Peleburan entitas di era modern telah melahirkan keadaan yang dilematis. Dengan segala kecanggihan dan kemudahan yang ditawarkan tehnologi, satu sisi menimbulkan gangguan kecemasan (anxiety disorder) khususnya terhadap masa depan kemanusiaan.” Kecemasan dan kegalauan atas indetitas yang kian hari kian terkikis oleh gelombang besar yang bernama globalisasi. Bagaimana tidak, dalam satu jam saja kita bisa berada di berbagai tempat untuk menengok aktivitas manusia di berbagai belahan dunia. Dalam keadaan yang tanpa disadari kita mengalami imitasi dan hegemoni kebudayaan secepat kedipan mata.

Laju kebudayaan dan teknologi tidak hanya menimbulkan kecemasan dan kegaluan, namun juga telah menyeret manusia pada “kedangkalan”. Meski tehknologi menawarkan kemudahan dalam aksesibilitas dalam memperoleh informasi, namun kemajuannya juga menyebabkan manusia mengalami disorientasi dari “menjamurnya” informasi (information spill over). Karena telalu banyaknya informasi menyebabkan orang kebingungan dan hilangnya kedalaman. Keadaan ini sekaligus menjadi tantangan besar bagi generasi milenial sebagai pengguna aktif internet dan media sosial. Nicholas Carr mengatakan bahwa generasi pengguna internet adalah “orang-orang dangkal” (the shallows) yang terbiasa menyantap informasi secara instan tanpa kedalaman, (Haidar Bagir, 2017: 36).

Baca juga: Intelektual Publik dan Media

Meminjam istilah Budi F Hardiman: aku “klik”, maka aku ada. Sehingga bukan lagi “aku berpikir maka aku ada” melainkan “aku klik, maka aku bisa menjadi apa saja. Manusia, selain sebagai “homo sapiens” kini telah berubah menjadi “homo digitalis”. Dua predikat ini mendorong manusia untuk rela melakukan apa saja demi sebuah eksistensi. Teknologi yang saat ini selalu berada di samping manusia melahirkan hubungan yang intim dan menyasar sampai keadaan paling subtil dalam hubungan kemanusiaan kita. Melalui teknologi, manusia terus mengalami revolusi; dari makhluk biologi menjadi makhluk bioteknologi, yakni perpaduan “manusia” dan aspek mekanistik (“robot”) yang dibentuk dari hasil keintiman interaksi antara manusia dengan benda-benda elektronik, sehingga dari proses keintiman tersebut mengubah pola pikir dan eksistensi manusia dalam banyak hal.

Refleksi atas fenomena ini kemudian menghantarkan kami pada istilah lokal yang menggelitik, yakni bararea—yang dalam bahasa Bima bermakna “kacau” atau “amburadul”. Istilah tersebut keluar begitu saja saat berdiskusi tentang ragam prilaku manusia di media sosial. “Bararealistik” ini semacam kamuflase dari dualisme prinsip hidup yang bertentangan atau keadaan anomali dan kesenjangan—di mana manusia bisa menjadi apa dan siapa saja di berbagai platform media sosial yang tersedia. Sikap dan perkataan manusia tipe bararea ini cenderung ditentukan oleh platforms media sosial mana ia berada.

Manusia dengan tipe ini adalah manusia yang dihasilkan oleh jenis media social.  Meskipun mereka lahir dari rahim manusia, akan tetapi mereka lebih banyak diasuh oleh media sosial—sehingga terbentuklah karakter yang bararea. Ia bisa saja bersikap bijak di ruang istagram, namun pada saat yang berbeda, atau bahkan sama—juga bisa menjadi sosok yang “beringas” di ruang facebook, dan begitu pun seterusnya. Bahkan jika ditelusuri, perubahan psikologis dari karakter bararea ini merupakan gejala ringan dari penyakit psikopat, karena selain “anti” terhadap kehidupan sosial, mereka juga memiliki tempramen yang sulit untuk diprediksi.

Kehidupan mereka sangat mekanistik karena lebih banyak menghabiskan waktu di dunia maya (semu), daripada di dunia nyata (real), bahkan perang-perang pun juga dilakukan secara online, menghujat secara online, mencaci dan memaki orang lain tidak harus bertemu fisik dengan orang tersebut. Hal yang sebaliknya, justru ketika ia berhadapan langsung dengan orang yang ia hujat, seakan akan tidak terjadi apa-apa (adem ayem). Inilah dunia yang seolah-olah—di mana manusia bisa menjadi sosok yang asik dan lucu di media sosial, namun belum tentu di dunia nyata—bahkan justru sebaliknya; sosok yang asik dan lucu tersebut bahkan menjengkelkan dan garing atau “gagal lucu”.

Kekacauan pada tipe manusia yang bararea ini juga merupakan potret dari kekacauan zaman—yang disebabkan oleh media teknologi informasi. Pada 1960’an, Marshall McLuhan menulis sebuah buku yang berjudul Understanding Media—yakni buku yang membahas secara lugas tentang dahsyatnya kekuatan media. McLuhan dengan sangat orisinil menyampaikan bahwa media bukan saja hanya sebagai sarana untuk menyampaikan informasi, namun justru sesunggungnya media adalah isi pesan itu sendiri. Kemudian dalam edisi infografisnya, judul buku McLuhan tersebut diubah menjadi Media is the Massage.

Sepintas seperti tak ada yang aneh dalam edisi infografis buku McLuhan tersebut. Tapi coba perhatikan kata “massage”. Jika merujuk dalam bahasa Inggris, kata pesan seharusnya message bukan massage. Haidar Bagir, mengungkapkan bahwa konon, penulisan kata massage ini awalnya adalah kesalahan perancang sampul dalam mengeja judul, tetapi McLuhan justru meminta agar judul bukunya itu tetap menggunakan kata “massage” ketimbang “message” —yang merupakan gagasan asli buku tersebut. Sebab sebagaimana kata “message” ungkap Haidar Bagir, bisa dibaca sebagai “mess age” yang bermakna “berantakan” atau “zaman kacau”. Kata “massage” sendiri sebagai suatu kesatuan—selain juga bisa dibaca “mass age” — yang bermakna “pijatan”.

Baca juga: Politik Media: Penebar Harapan atau Ratapan?

Haidar Bagir mengungkapkan bahwa informasi telah dikemas dengan suatu cara yang begitu memikat, sehingga orang-orang tergoda dan terhanyut olehnya (baca: tersihir). Dilihat sebagai konsep-konsep yang berada dalam satu kesatuan, pesan (message) telah menyihir (me-massage) orang—boleh jadi dalam suatu cara yang manipulatif sekaligus negatif—sehingga melahirkan zaman yang penuh kekacauan (mess age). Maka kita telah mendapatkan jawaban atas kekacauan yang terjadi. Penjelasan ini sekaligus dapat dijadikan rujukan tentang keadaan yang bararealistik tadi—di mana zaman era revolusi digital seperti sekarang ini telah melahirkan generasi-generasi yang bararea.

Semakin deras laju kebudayaan (baca: dromologi budaya) maka semakin kacau dan bararea juga manusianya. Sehingga keadaan dan situasi ini mengharuskan kita memiliki pegangan yang kuat sebagai tameng untuk menghalau derasnya arus globalisasi yang kian hari kian menghanyutkan. Kemajuan peradaban ini harus tetap dilihat sebagai tantangan besar bagi generasi kedepannya. Keterbukaan mereka terhadap berbagai informasi pada sisi yang sama—mereka juga dituntut untuk menemukan pijakan agar tidak kehilangan arah atau mengalami apa yang disebut sebagai hybridation of identity []

Catatan:
Tulisan ini diadaptasi dari bacaan penulis dari buku, Islam Tuhan, Islam Manusia: Agama dan Spritualitas di Zaman Kacau (2017), karya Haidar Bagir dan Aku Klik Maka Aku Ada: Manusia dalam Revolusi Digital (2021) karya F. Budi Hardiman dan Sebuah Dunia Yang Dilipat (2004) karya dari Yasraf Amir Piliang.

Tentang kata bararea, umumnya diucapkan untuk menunjukan kekesalan terhadap orang yang melakukan perbuatan konyol, tidak jelas, atau perbuatan yang membuat orang lain merasa tidak nyaman.

Ilustrasi: Lifestylekompas.

Tinggalkan Komentar

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *