Ibadah Profetik Sebagai Puncak Ibadah

Manusia merupakan hasil kreasi Tuhan yang amat sempurna dengan bahan baku yang tentunya lengkap dan terbaik dibanding makhluk lain. Oleh karena kesempurnaan penciptaan itulah Tuhan menghendaki agar manusia senantiasa beribadah.

Menyadari kehendak Tuhan itu, maka kehidupan yang kita jalani pada hakikatnya adalah kompetisi. Di dalam Al Qur’an Tuhan ingatkan kita di dalam surah al Mulk ayat 2, “Allazi khalaqal mauta walhayata liyabluwakum ayyukum ahsanu ‘amala”. Bahwa Tuhan menjadikan mati dan hidup semata-sama ingin melihat, siapa di antara manusia yang paling baik amalnya.

Ayat di atas adalah ayat kompetisi, yang harus kita sikapi dengan semangat untuk menang, karena rasioanlisasi dari sebuah kompetisi  adalah mencapai kemenangan. Tidak pernah ada dalam satu kompetisi di mana pesertanya ikut berlomba dengan semangat untuk kalah.

Dalam kehidupan di pentas jagat raya ini, bentangan waktu yang kita jalani adalah lapangan perlombaan—semua manusia menjadi peserta dari kompetisi itu. Maka mempersiapkan diri untuk menang adalah sikap ideal bagi seluruh peserta lomba.

Ada empat tingkatan kemenangan dalam ajang kompetisi yang kita ikuti, sebagaimana rumusan para alim yang diuraikan Fakhruddin Faiz dalam forum “Ngaji Filsafat” di Masjid Jenderal Soedirman Yogyakarta, bahwa tingkatan posisi kemenangan dalam kompetisi ibadah yang diperlombakan ada empat, yakni formalitas, intlektualitas, mistik, dan profetik.

Ibadah formalitas menjadi posisi kemenangan yang paling rendah, di mana para kompetitornya ikut berlomba dalam beribadah hanya sebatas berpartisipasi, hanya ikut-ikutan tanpa mempersiapkan diri dengan bekal dan kecakapan yang dipersyaratkan, dia hanya ikut meramaikan dengan gerakan dan prilaku seadanya dan sekenanya tanpa dibarengi ambisi dan semangat meraih kemenangan.

Itulah orang yang melakukan ibadah dengan semangat menggugurkan kewajiban, tidak memperhatikan kualitas dan kesungguhan dalam kompetisi. Misalnya dalam salat, mulai dari berdiri, takbir, ruku’, sujud, duduk di antara dua sujud, hingga gerakan salam dilakukan tanpa penghayatan sama sekali, karena tidak memiliki pemahaman yang cukup tentang materi kompetisi.

Tuhan menyentil kompetitor yang berada pada level terendah ini di surah al anfal ayat 35, “Wa mā kāna ṣalātuhum ‘indal-baiti illā mukā`aw wa taṣdiyah…”. Shalat yang mereka lakukan di sekitar Baitullah itu, tidak lain hanyalah siulan dan tepukan tangan belaka.

Kemudian tingkatan posisi kemenangan ketiga adalah ibadah intelektualitas, yakni para kompetitor mengikuti perlombaan dengan bekal pengetahuan yang cukup tentang materi yang diperlombakan, tidak sekadar ikut-ikutan dan tidak pula asal berpartisipasi mengugurkan kewajiban, namun memiliki semangat untuk menang dengan bekal pemahaman yang cukup.

Itulah orang-orang yang melakukan gerakan-gerakan ibadah dengan penuh peresapan—Dia tahu mengapa gerakan takbir, ruku’, sujud, duduk, dan sterusnya hingga salam dilakukan dengan tumakninah dan tidak tergesa-gesa?. Dia juga mengilmui mengapa harus patuh dan tunduk membersamai imam dalam seluruh gerakan-gerakannya dengan sabar tanpa mendahului?. Dia juga tahu kapan waktunya untuk menyempurnakan seluruh tahapan-tahapan dalam perlombaan dan kapan harus meringkasnya.

Tuhan memuji pemenang ini dengan pujian bijaksana di surah al Isra’ ayat 36, “Wa lā taqfu mā laisa laka bihī ‘ilm…”, Dan janganlah kamu mengikuti apa yang kamu tidak mempunyai pengetahuan tentangnya.

Selanjutnya tingkatan posisi kemenangan kedua adalah Ibadah dengan mistik, di mana para kompetitor tidak saja memahami dan mengilmui materi lomba, tidak saja melaksanakan perlombaan dengan penuh peresapan, tetapi dia berusaha untuk totalitas menuju arsy Tuhan dalam ibadah yang dilakukannya. Dia berdiri, ruku’, sujud, duduk, hingga salam dipasrahkan semuanya secara total kepada Tuhannya. Dalam ibdahnya dia terputus dengan sekitarnya, bahkan dia terputus dengan dirinya sendiri.

Nabi saw memberikan label terhadap umat yang demikian dengan hadisnya yang cukup indah, “ashsholatu mi’rajul mukminin”. Shalat itu adalah mi’rajnya orang beriman., di mana raga kasar orang beriman memang tampak dalam gerakan-gerakan ibadahnya, namun ruhnya menerawang jauh ke Sidratul Muntaha.

Jika diibaratkan badan manusia itu cangkang dan ruh adalah isinya, maka dalam ibadahnya kepada Tuhan, ruhnya terlepas dari cangkangnya melesat menuju ma’rifat dengan Tuhan.

Berikutnya pemenang terbaik peringkat pertama adalah pelaku ibadah yang profetik, di mana para kompetitor perlombaan tidak saja menjadi peserta yang memiliki pengetahuan yang cukup tentang materi lomba, tidak pula hanya totalitas, namun mampu memberikan pelajaran dan petuah-petuah penuh makna tentang ibadah yang dia lakukan, mampu mendialogkan materi ibadah dengan dakwah bil qaul dan bil hal.

Dia tidak hanya mampu melakukan gerakan, tetapi mampu menjelaskan seluruh konsep rasional dari materi perlombaan, mampu menyadarkan orang-orang betapa gerakan-gerakan dalam ibadah yang dia lakukan itu sarat  dengan manfaat dan nilai bagi kehidupan.

Di sinilah Tuhan memuji para kompetitor yang menjadi juara dengan pujian yang sempurna di surah Az zumar ayat 9, “qul hal yastawil-ladzina ya‘lamuna wal-ladzina la ya‘lamuna…”. Katakanlah, ”Apakah sama orang-orang yang mengetahui dengan orang-orang yang tidak mengetahui?”.

Itulah level tingkatan kualitas ibadah yang kita kompetisikan dalam kehidupan kita di jagat raya ini, saatnya kita membaca diri masing-masing, pada posisi peringkat ke berapakah ibadah kita selama ini? Kita harus mampu mencapai puncak kemenangan dalam ibadah kepada Tuhan, yakni menghadap keharibaan-Nya dengan medali ibadah profetik.       

1 komentar untuk “Ibadah Profetik Sebagai Puncak Ibadah”

  1. Alhamdulillah…..
    Pencerah jum’at penuh berkah kembali lagi dan smoga selalu ada….aamiin
    Ketika membaca diri pada posisi peringkat keberapakah diri ini?? Wallahu a’lam…
    Namun harapan dan keinginan serta semangat untuk meraih yg terbaik dlm kompetinsi hidup di panggung jagat raya ini smoga Allah mudahkan dan Ridhoi….aamiin🤲
    Terimaksih penuh syukur atas nasihat berharga ini ayahanda,semoga Allah curahkan kesehatan ke’afiatan selalu dimanapun ayah berada…aamiin Yaa Rabbal alaamiin…..🤲🤍🤍🤍

Tinggalkan Komentar

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *