Menjadi Pribadi yang Satu Kata dengan Perbuatan

DALAM kajian tentang aqidah pada majlis-majlis ilmu sering kita diperdengarkan dengan pernyataan yang dijadikan pegangan dan komitmen orang-orang beriman, bahwa  orang beriman atau mukmin itu adalah orang yang meyakini sesuatu itu dengan hatinya, kemudian menyuarakan kebenaran dari keyakinan itu dengan lisannya, dan mengaplikasikan apa yang diyakini dan apa yang disuarakan dalam bentuk aksi nyata.

Pernyataan komitmen ini semakna dengan konsistensi antara apa yang ada di hati terpantul dalam perilaku dan omongan, itulah distingsi dari orang beriman yakni seimbang antara apa yang ada di hatinya dengan apa yang nampak dari prilaku dan omongannya, jika tidak seimbang antara ketiganya, maka posisi kita akan merosot jauh ke posisi Munafik.

Keunikan kita sebagai manusia memang diberi kemampuan atau potensi untuk meng-kamuflase diri dan keadaan. Tetapi potensi kamuflase itu tidak boleh menjadi penciri apalagi menjadi kepribadian atau karakter kita, karena keunikan itu hanya sebuah potensi yang penggunaannya hanya tatkala berada pada stuasi dan kebutuhan yang sifatnya dhorury, apabila sedang berada pada kondisi normal, kemampuan atau potensi kamuflase itu tidak boleh dimunculkan menjadi sifat maupun karakter diri.

Satu fakta tentang potensi kamuflase yang menjadi sifat dan karakter seseorang dapat kita jumpai pada saudara-saudara kita yang menyuarakan kalimat-kalimat atau diksi-siksi indah dan memukau (baca; membual) padahal apa yang dikatakan itu bisa jadi bertentangan dengan hatinya, dan berbeda dengan apa yang teraplikasi dalam perbuatan dan tindakan nyata terutama tatkala berada dalam susana dan situasi hening.

Di dalam hening biasanya melakukan persekongkolan dengan nafsu, bersekongkol dengan keinginan—bukan dengan kebutuhan, bersekongkol dengan ambisi diri—bukan dengan kemampuan diri, bersekongkol dengan jin dan kawan-kawannya—bukan dengan Tuhan dan Rasul-Nya, bersekongkol dengan manusia cerdik—bukan dengan manusia cerdas.

Persekongkolan semacam itu biasanya bersifat hening, karena hati dan prilaku semacam itu tidak pantas apabila dilakukan pada posisi ramai, akhirnya kita membuat tameng, prisai, hijab, dan citra diri dengan kemampuan orasi yang mengedepankan konsep-konsep ilahi, dalil kenabian, dan aksioma para alim ulama.

Sepintas dalam pandangan khalayak, kita ini layaknya Malaikat yang ke 11 di luar yang sepuluh yang masyhur itu, disebabkan orasi kita sangat riligus, mimik wajah kita sangat agamis, bahasa tubuh kita sangat surgawi dan jauh dari ciri-ciri zalim dan munafik, padahal apa yang terdengar oleh khalayak berbeda dengan apa yang terlintas di hati dan apa yang teraplikasi dalam perbuatan.

Apabila kita merasa berada pada posisi seperti di atas ini, maka marilah kita mencoba membaca dan memahami pesan-pesan moral dari Tuhan bahwa Dia tidak menaruh simpati pada seorang hamba apabila menjadikan praktek tidak satunya kata dengan perbuatan menjadi kebiasaan.

Salah satu ancamanNya terdapat di dalam surat ke 61 ayat 3, “Kaburo maqtan indallahi antaqulu mala taf’alun”, Amat besar kebencian di sisi Tuhan bahwa kamu mengatakan apa-apa yang tidak kamu kerjakan.

Dalam pesan yang lain tentang ketidaksukaan Tuhan terhadap kita yang menggunakan potensi kamuflase menjadi kebiasaan dan penciri kita, sebagaimana Tuhan dialogkan dengan diksi yang berbeda namun satu maksud dengan surat ke 61 ayat 3 di atas, kata Tuhan, kamu sama seperti hewan bahkan bisa jadi lebih rendah atau lebih hina.

Lahum qulubun la fafqahuna biha, walahum a’yunun la yubshiruna biha, walahum adzanun la yasma’una biha, ulaika kal an’ami balhum adhal.”

Mereka mempunyai hati, tetapi tidak mempergunakannya memahami (ayat-ayat Tuhan),  mereka mempunyai mata tetapi tidak mempergunakannya melihat (tanda-tanda kekuasaan Tuhan), dan mereka mempunyai telinga tetapi tidak dipergunakan untuk mendengar (ayat-ayat Tuhan), mereka itu sebagai binatang ternak bahkan lebih sesat lagi. Demikian Tuhan pertegas tentang posisi Kamuflase dalam pandangan Tuhan di surat ke 7 ayat 179.

Kalau peringatan dan pesan-pesan Tuhan seperti di atas tidak juga kita jadikan rujukan dan pelajaran untuk membuat kita sadar, maka tunggulah tatkala Tuhan sangat mungkin untuk tidak peduli dengan kita.

Wujudnya bisa saja dalam hidup kita akan terjadi suatu perubahan besar di mana kebanyakan manusia di sekitar kita tiba-tiba menjadi tidak suka dengan kita, teman-teman dekat mulai menjauh, orang-orang sholeh mulai tidak simpati, orang-orang baik mulai menyingkir, orang-orang alim tidak lagi membalas sapaan kita,

Pada saat yang sama giliran orang-orang yang tidak baik mulai mendekat, orang-orang yang tidak rasional mulai mendikte kita, orang-orang yang tidak tulus mulai mengedukasi kita, dan pada akhirnya rasionalitas diri menjadi tumpul, idealisme dan ketajaman bashirah dalam hati kita menjadi tidak peka.

Jika kondisi di atas terjadi pada kita, maka bersegeralah untuk memperbaiki diri, kembalilah pada kesadaran bahwa penting untuk mendialogkan antara apa yang ada di hati, dengan apa yang terdengar dari lisan, dan apa yang terlihat dalam perbuatan, sehingga ketiga unsur itu sedapat mungkin seimbang untuk mewujudkan diri menjadi pribadi yang unggul dengan label satunya kata dengan perbuatan.[]

Ilustrasi: artikula.id

Tinggalkan Komentar

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *