Belajar Tidak Menjadi Inkonsisten

MANUSIA percaya bahwa Tuhan dekat sedekat urat nadi, Tuhan ada di mana-mana, Tuhan melihatnya sekalipun dia tidak melihat Tuhan. Bahkan dia percaya bahwa Tuhan maha mengetahui yang nampak dan tak nampak, Tuhan diyakini punya malaikat yang ditugasi mengawal manusia tanpa mengenal batas waktu dan tempat. Dan kebanyakan manusia beriman sangat yakin dengan hal itu.

Dengan keyakinan yang tertanam dalam hatinya itu, lahirlah pernyataan-pernyataan yang menguatkan kebenaran keyakinannya. Berbagai pernyataan indah itu sering kita dengar, misalnya, apapun yang dilakukan jangan pernah membayangkan dirimu sendirian, jangan pernah membayangkan bahwa dirimu tidak diketahui oleh siapapun, jangan pernah membayangkan bahwa dirimu luput dari pengawasan Tuhan. Dan banyak lagi berbagai macam statemen yang melambangkan kesadaran rohani akan hadirnya Tuhan dalam sendi-sendi kehidupannya.

Bayangkan andai statemen itu menjadi irisan dari kesadaran semua manusia (baca: mukminun) dan melekat menjadi kepribadian dan karakter–sungguh mukminun itu benar-benar akan menjadi umat terbaik yang tampil di tengah-tengah manusia. Namun kebanyakan manusia itu ragu dengan keyakinannya, lupa dengan statemennya, ingkar terhadap pengetahuan yang dimilikinya, berseberangan dengan kebaikan yang dia praktikkan, dan bahkan menjadi tandingan atas apa yang dia ketahui tentang nilai kebenaran yang dia yakini. Dasar manusia makhluk yang inkonsisten terhadap keyakinannya sendiri.

Di tengah keyakinannya tentang keberadaan Tuhan yang maha wujud dan maha qarib, pada saat yang sama manusia malah menyombongkan dirinya, sombong dengan jabatannya, sombong dengan ketaatannya, sombong dengan ilmunya, sombong dengan pengetahuannya, sombong dengan kecantikan dan ketampanannya, dan sombong dengan kekuatan dan hartanya. Lalu di manakah kesadaran akan keberadaan Tuhan?

Manusia juga angkuh dan congkak, merasa lebih baik dari manusia lain, merasa lebih taat dari manusia lain, merasa lebih cerdas dari manusia lain, merasa lebih kuat dan lebih kaya dari manusia lain. Lalu di manakah kesadaran akan keberadaan Tuhan?

Manusia juga sering tidak jujur dalam hidupnya, menukar kebenaran dengan kebatilan, menutupi kejahatan dengan sikap halusnya, menutupi salahnya dengan kemampuan retorikanya, mengkaburkan kejahatannya dengan statemen keilmuannya. Lalu di manakan kesadaran akan keberadaan Tuhan?

Tatkala berada di tengah-tengah komunitas sosial, ia tampil sebagai ulama, bahkan tampil sebagai seorang faqih. Ia sangat berbeda ketika bertransaksi, ketika bernegosiasi, ketika berjanji dan ketika memegang kekuasaan. Lalu di manakah kesadaran akan keberadaan Tuhan?     

Tuhan memang maha shabur, sangat sabar menghadapi karakter makhluknya yang suka bermain-main dalam hidupnya. Tuhan sudah maha konsisten dengan aturan-aturan yang Dia keluarkan. Hal itu dapat kita cermati komitemen-Nya pada surah ke-7 ayat 182 “Dan orang-orang yang mendustakan ayat-ayat kami, nanti kami akan menarik mereka dengan berangsur-angsur, dengan cara yang tidak mereka ketahui.

Tuhan sungguh bijaksana, dilihatnya gerak-gerik hambanya dengan tidak bosan-bosan, diikutinya perjalanan hambanya dengan tidak jemu-jemu, ditunggunya hambanya dengan lapang dada untuk mendapatkan kesadarannya sendiri, padahal hamba-Nya berada pada posisi yang inkonsisten.

 Sebagai pesan moral, ingatlah bahwa Tuhan tidak tidur dan tidak lengah. Semut hitam yang berjalan di kegelapan malam Tuhan ketahui. Berusahalah sedikit demi sedikit untuk mendidik diri sendiri agar mampu berlaku konsisten terhadap keyakinan dengan menyeimbangkan antara apa yang diyakini dengan apa yang diperbuat. Jadikan keyakinan itu sebagai pijakan dalam melakukan segala aktifitas, baik aktifitas fisik maupun psikis.

Tuhan sudah menciptakan manusia dengan sebaik-baik penciptaan. Tidak cukup dengan bahan dasar itu, Tuhan berikan aturan hidup yang cukup indah melalui firman-Nya untuk kita baca, fahami,  dan amalkan. Tidak cukup juga dengan firman, Tuhan utus Rasul sebagai suri tauladan langsung melalui omongannya, sikapnya, maupun diamnya sekalipun.

Dengan begitu tidak ada alasan yang bisa membenarkan kita untuk inkonsisten terhadap apa yang kita yakini dan pahami tentang Tuhan dan dengan apa yang kita praktikkan dari keyakinan itu. Nabi sudah mengajarkan kita tentang keyakinan akan keberadaan Tuhan. Kalau sudah yakin, Nabi meminta kita untuk menggigitnya dengan gigi garaham agar keyakinan itu konsisten dengan perbuatan dan sikap kita.

Tidak ada yang mampu mengeluarkan kita dari sikap inkonsisten itu, kalau kita sendiri enggan untuk memulainya. Tuhan berbicara dengan penuh kewibawaan “Innallaha la yughairru ma biqaumin hatta yughairru ma bianfusimin” Tuhan tidak berkenan merubah siapapun kalau yang bersangkutan tidak berikhtiar merubah dirinya.

Nabi memperjelas komitmen Tuhan itu dengan bahasanya yang khas “Ibda’ binafsik,mulailah dari dirimu sendiri. Kaum Santri memperluas pemahaman itu dengan untaian kata-kata indah “mulailah dari dirimu, mulailah dari yang kecil, dan mulailah dari sekarang.”

Kita jangan nyaman dengan sikap inkonsisten itu, karena akan menjadi catatan hidup yang tersimpan dan terjaga dengan rapi. Ingatlah pada satu masa bahwa kita akan berpindah menuju satu titik di dunia lain (barzakh) di mana kita akan melihat dan membaca sendiri catatan yang pernah kita goreskan sendiri pada dunia sebelumnya. Konsistenkah kita atau inkonsisten?[]   

Ilustrasi: pixabay.com

1 komentar untuk “Belajar Tidak Menjadi Inkonsisten”

  1. Nanda Zahratu Raudah

    Assalamualaikum wr wb ..
    Muhasabah diri setelah membaca catatan ayahnda…..,,semoga saya pribadi n semua pembaca bisa trus berproses menjdi insan yg lbih baik ke depannya, jalan yg di ridhoiNya…..aamiin
    Jazakallahu khairan katsir atas sirahan rohani pagi ini ayahanda….smoga Allah sll mencurahakan rahmat n hidayahNya untuk ayahnda n kluarga..aamiin

Tinggalkan Komentar

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *