Bertaqwalah Semampumu

TUHAN dalam menurunkan ajaran kepada hamba-Nya tidak pernah terkesan memaksa sekalipun sifatnya sangat penting dan pada hakikatnya hamba-Nya pasti bisa menegakkan ajaran tersebut, ada saja celah yang diberikan Tuhan untuk memudahkan dan celah untuk meringankan. Padahal Tuhan menurunkan syariat yang kemanfaatannya sepenuhnya buat hamba-Nya, Tuhan hanya memposisikan dirinya sebagai titik fokus agar hamba-Nya melakukan yang seragam dan terbaik.  Tuhan tidak otoriter dan tidak memaksakan kehendak, sekalipun dua sikap itu sangat mungkin Tuhan lakukan, tetapi lagi-lagi Tuhan mendahulukan sifat bijaksana ketimbang memaksakan kehendak-Nya, Tuhan ingin seluruh ajarannya terlaksana berdasarkan kesadaran penuh dari hamba-Nya.

Tuhan tidak menginginkan hamba-Nya terbebani dengan perintah dan ajaran-Nya, sehingga seluruh ajarannya ditutup dengan kalimat bijaksana “Ittaqullah mastatha’tum” Bertakwalah kepada Allah semampumu. Kalimat sederhana ini mengandung muatan yang sungguh proporsional sesuai potensi yang sudah diberikan Tuhan kepada hamba-Nya. Artinya ukuran semampumu itu bukan semau-mau kita, namun disesuaikan dengan kondisi hamba-Nya. Kitalah yang menerjemahkannya dengan cermat dan jujur. Nabi membantu umatnya untuk memahami kalimat singkat dari Tuhan di atas dengan sabda beliau :“Ightanim khamsan qabla khamsin: syababaka qabla haramika, wa shihhataka qabla saqamika, wa ghinaaka qabla faqrika, wa faraaghaka qabla syughlika, wa hayaataka qabla mautika”. Manfaatkanlah yang lima sebelum datang lima perkara yang lain: mudamu sebelum tuamu, sehatmu sebelum sakitmu, kayamu sebelum miskinmu, waktu senggangmu sebelum kesibukanmu, dan hidupmu sebelum matimu.” Al hadits

Nabi mengingatkan kita bahwa potensi dan kemampuan kita ada batasnya, sebelum batas itu sampai pada titik kulminasi, berusahalah untuk takwa. Badan kita punya batas akhir untuk kuat menyangga kehidupan kita, maka selagi badan masih kuat berbuatlah yang terbaik. Contoh shalat, tatkala badan ini masih kuat, shalatlah dengan shalat terbaik, karena suatu masa badan ini akan sampai pada suatu waktu akan mengalami kelemahan.  Lisan ini juga ada batas masa di mana dia akan mengalami kegagalan untuk berkomunikasi, maka selagi masih memiliki kemampuan, gunkanlah untuk berkomunikasi yang baik, seperti mengaji, memberi nasehat, menyuarakan kalimat toyibah. Telinga juga punya masa di mana dia akan mengalami kelemahan mendengar, maka selagi pendengaran masih jernih gunakanlah untuk melaksanakan yang terbaik dari apa yang kita dengar, jika azan masih terdengan di telinga, bersegeralah untuk menuju Tuhan, sebelum pendengaran ini tidak bisa mendengarkan suara. Mata kita juga akan ada masanya tidak mampu melihat dengan sempurna, maka selagi masih memiliki kemampuan melihat, gunakanlah untuk mengamati, memperhatikan, dan membaca sebanyak-banyaknya. Pikiran juga memiliki batas kemampuan untuk normal, ada masanya akan melemah, selagi masih kuat dan masih mampu, maka gunakanlah untuk proses berpikir dan merenungi semua gejala dan fenomena yang ada.

Demikian pula usia, kita pernah mengalami masa anak-anak, remaja, dan dewasa. Gunakanlah secara proporsional kapan kita menjadi anak-anak, kapan kita menjadi remaja, dan kapan menjadi dewasa. Pada tahapan usia ini Tuhan telah membekali kita dengan kemampuan yang berbeda dan proporsi yang berbeda pula, maka gunakanlah kemampuan itu sesuai posisi dan proporsinya. Kekayaan (bukan hanya harta) juga punya batas, maka selagi masih kita miliki, maksimalkanlah pemanfaatannya sebelum kemiskinan itu merenggutnya. Juga waktu luang, kata nabi waktu luang sering menggiring manusia untuk lengah dan lalai, maka selagi masih memiliki banyak waktu, gunakanlah secara maksimal sebelum tergantikan dengan kesibukan yang tiada batas. Usia hidup dan kematian juga akan kita rasakan dengan alamiah, maka hiduplah dengan segala aktifitas dan kemampuan orang hidup, sebelum kematian menggulung kesempatan hidup yang kita miliki.    

Arahan Tuhan untuk bertaqwa semampumu tidak lain bahwa Tuhan ingin kita all out dan maksimal dalam menggunakan kemampuan itu, Tuhan tidak ingin kita menyia-nyiakannya. Dunia memang permainan dan senda gurau, tetapi kehidupan kita adalah serius dan ada tanggung jawab, maka terjemahkanlah maksud Tuhan dengan penuh kesadaran dan serius. Penting kita renungkan apa yang ditulis Kang Wahid (dalam Dua Suara Tuhan) bahwa kesadaran dan keseriusan menyikapi titah Tuhan adalah bagaimana agama itu meresap menjadi kesadaran, pengetahuan, kepribadian, dan identitas bagi pemeluknya. Tengoklah Nabi, bagaimana beliau mencontohkan kepada umatnya bahwa semua titah Tuhan dilakoni dengan penuh kesadaran dan serius (semampunya) dengan cara menjadikan syariat Tuhan sebagai bagian dari kepribadiannya yang dikemas dengan kalimat indah oleh Aisyah “Khuluquhu al qur’an”. Sepak terjang Nabi adalah implementasi dari al qur’an. Jadi ibadahnya, muamalahnya, dan karakternya lahir dari kesadaran penuh bahwa nabi itu harus patut dan patuh sesuai  aturan Tuhannya.

Ada satu frase di kalangan para ulama dan fuqaha untuk memahami lebih dalam dari pesan Tuhan “bertaqwalah semampumu” yakni bahwa manusia beriman tidak dituntut untuk menjadi Malaikat dan tidak pula diperkenankan menjadi syaitan. Artinya tunaikanlah titah Tuhan dengan takaran yang tidak lebih dan takaran yang tidak kurang (bahasa agamanya “Kaffah”).[]

Ilustrasi: pixabay.com

Tinggalkan Komentar

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *