Menjadi Intelektual Publik yang Asyik

“Menjadi Intelektual Publik yang Asyik”  merupakan tema yang diusung dalam launching Alamtara.co, Selasa, 21 Juli 2020. Adapun narasumber yang dihadirkan yaitu:  Amin Mudzakkir (Peneliti LIPI), Dr. Kadri (Pakar komunikasi UIN Mataram) dan Ibu Twediana Budi Hapsari, Ph.D (Kaprodi KPI UMY Yogyakarta). 

Bapak Dr. Abdul Wahid sebagai founder Alamtara.co dalam kata sambutannya secara singkat menyampaikan rasa syukur  kepada Allah SWT atau launchingnya portal website Alamtara.co yang dihadiri oleh redaktur Alamtara.co serta karib kerabat di dalam maupun di luar negeri. Meskipun dilakukan secara virtual namun tidak mengurangi kehikmatan acara tersebut. Selain itu  beliau menaruh harapan bahwa kelak Alamtara.co akan menambah semarak literasi,  semarak wacana sosial keagaamaan maupun hal lainnya.

 Selain itu beliau menyampaikan bahwa tema tersebut sengaja  diusung dilatarbelakangi oleh  kegelisahan yang terus menggelayut atas realitas  yang terjadi. Dunia akademik diibaratkan seperti menara gading dimana pusat-pusat gagasan atau  ilmu mengalami kebuntuan tidak terserap ke publik karena terhalang komunikasi. Intelektual muda dalam menyalurkan ide atau gagasan cenderung menggunakan bahasa-bahasa  yang hanya dipahami oleh kalangan tertentu saja.  Pada sisi lain banyak produksi wacana bersifat instan berseliweran  yang diserap oleh  publik dengan mudah sehingga  melahirkan sikap-sikap yang tidak selaras baik dalam berbudaya maupun dalam kehidupan sosial beragama. Alamtara. co diharapkan dapat menjembatani hal itu sehingga ide atau gagasan dari  para intelektual publik dapat dikemas dengan bahasa yang sederhana sehingga dapat dipahami oleh seluruh lapisan masyarakat. Jika hal itu terwujud maka akan dapat meredam konflik-konflik sosial yang dilatarbelakangi oleh informasi-informasi hoax.

Berikut  beberapa rangkuman materi yang simpulkan dari ketiga narasumber.  Bapak  Amin Mudzakkir mengungkapkan bahwa intelektual tidak hanya terbatas pada dosen, peneliti atau mereka yang bergerak di dunia akademik semata. Intelektual bisa siapapun yang dengan kemampuan intelektualnya mau melakukan transformasi atau perubahan di dunia publik. Intelektual publik kebanyakan tidak lahir dari akademisi formal. Intelektual mampu mencerna gagasan-gasan yang sulit dan menyampaikan kembali gagasan tersebut dengan bahasa yang mudah.  Semakin mudah tulisan dipahami maka tulisan tersebut semakin baik. 

Hal lain yang beliau ungkapkan bahwa kemauan masyarakat pada bidang literasi terbilang tinggi hal ini dibuktikan dengan merebaknya pelatihan-pelatihan atau kelas menulis dengan jumlah peminat yang lumayan tinggi. Selain itu bermunculan pula platform-platform digital sebagai kendaraan atau media bagi intelektual publik dalam menyalurkan ide atau gagasan. Hal tersebut perlu diapresiasi positif karena semakin canggih media yang digunakan semakin bermunculan penulis-penulis baru yang profesional menandakan dunia literasi semakin baik.

Seiring bermunculannya ide atau gagasan yang dilempar ke ranah publik melalui media sosial atau platform digital lainnya bukan tanpa risiko. Pertarungan gagasan yang keras sangat rentan terjadi. Disinilah dibutuhkan kesiapan mental menghadapi reaksi termasuk didalamnya menurunkan sikap arogansi intelektual dalam menulis. Alamtara.co sebagai platform baru yang bergerak dibidang literasi tidak hanya menjembatani ide atau gagasan para intelektual muda tapi juga sekaligus sebagai media yang dapat meredam kekisruhan akibat dari pertarungan gagasan yang alot.

Selanjutnya pemaparan dari Ibu Twediana Budi Hapsari, Ph.D. Beliaudiawal pemaparannya mengupas tradisi intelektual Islam dari masa ke masa. Bahwadalam setiap fase perkembangannya memiliki tantangan yang berbeda-beda, tiap zaman memiliki tantangannya masing masing . Satu hal yang menjadi ciri umat Islam dari masa kemasa  bahwa  Islam menghargai ilmu pengetahuan dan proses mencari ilmu.

Begitu juga dengan era milenial seperti sekarang ini. Tantangan yang dihadapi intelektual lebih beragam antara lain; pertama, internet berkembang pesat hingga sulit membedakan antara informasi yang benar dan salah. Kedua, Hiper -reality danpost -truth.  Batas antara realita dan virtual tidak jelas atau sederhanannya  kebenaran dapat didefinisikan oleh banyak orang. Ketiga, Disrupsi ilmu pengetahuan dan yang keempat adalah  dikotomi pemikiran hanya terpisah oleh  dua kutub yaitu sekuler dan Islami. 

Alamtara.co sebagai platform  referensi berbasis digital diharapkan dapat memberi dan menjadi sumber referensi yang qualifiedbagi generasi milenial. Ada beberapa hal yang dapat dilakukan oleh Alamtara.co sebagai solusi atas persoalan tersebut antara lain sebagai berikut; pertama menjadi “penerjemah” realitas zaman  dengan arah peradaban masa depan. Kedua menjadi rujukan masyarakat  atas fenomena serba virtual dan post truth. Ketiga mengeksplorasi kembali nilai-nilai Islam yang rahmatan lil alamin  dalam pengetahuan  post modern sehingga bisa menjadi solusi persolan peradaban umat. 

Pemaparan selanjutnya oleh Dr. Kadri.  Beliau mengungkapkan  bahwa kualitas media atau kelas sosial seseorang ditentukan oleh konten-konten yang diproduksi atau dishare. Semakin baik konten tersebutmaka semakin baik pula kelas sosial dari individu tersebut. Oleh karena itu intelektual publik dapat memanfaatkan media sebagai wadah komunikasi yang egaliter. Alamtara.co sebagai platform baru di harapkan dapat melakukan kanalisasi pemikiran intelektual muda sehingga dapat menghadirkan konten-konten yang mencerahkan.

Beliau juga tidak memungkiri bahwa media sosial  terkadang ditumpangi oleh kepentingan personal atau kelembagaan yang sengaja menaburkan benih-benih kebencian   dan menggunakan intelektual muda sebagai senjata untuk menyerang yang lainnya. Oleh karena itu diharapkan intelektual muda untuk tidak terprovokasi oleh isu-isu yang menyesatkan. Persoalan-persoalan  di atas merupakan tantangan yang mungkin saja  dihadapi oleh alamtara.co dan alamtara.co siap mengambil peran tersebut.

Terakhir  quote by founder alamtara.co “tetap gelisah dan jangan berhenti untuk gelisah karena puncak dari suatu kegelisahan merupakan cikal bakal lahirnya sebuah karya” ( Dr. Abdul Wahid)

 Emi Yustissiani, S.Pd, M.Sc selaku host menutup diskusi ini  dengan quote yang sangat menyentuh dari Pramudya Ananta Toer  “orang boleh pandai setinggi langit tapi selama dia tidak menulis  dia akan  hilang di dalam  masyarakat dan dari sejarah. Menulis adalah bekerja untuk keabadian” 

Ilustrasi : alamtara.co/Pixabay.com

Tinggalkan Komentar

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *