Intelektual Publik Itu Siapa Sih?

Pada 21 Juli 2020 kemarin  saya  diajak ikut berbicara dalam sebuah webinar dalam rangka peluncuran portal Islam alamtara.co yang berbasis di Mataram, Nusa Tenggara Barat. Temanya menarik, menjadi intelektual publik. Namun karena menarik, cukup pasti pembicaraan tentangnya rumit. Entah mengapa hal-hal yang menarik tidak mudah dipahami apalagi didapatkan.

Dalam bayangan saya, intelektual publik adalah intelektual yang tidak hanya bergaul di dunia akademis, tetapi juga terlibat di dunia publik. Terlihat sederhana memang, tetapi itu hanya kelihatannya. Dalam kenyataannya, saya cukup yakin menggabungkan dua aktivitas itu adalah hal yang susah.

Dunia akademis mempunyai aturannya sendiri yang semakin ke sini semakin sulit. Kompetisi di dalamnya sangat ketat. Kecuali orang-orang berotak cemerlang dan giat bekerja yang bisa bertahan.

Akibatnya kalangan akademis tidak punya waktu untuk terlibat dalam urusan publik. Hari-harinya habis untuk menulis artikel jurnal yang terindeks atau menyiapkan presentasi untuk konferensi dan seminar. Belum lagi tetek bengek administratif yang dibebankan oleh lembaga tempat  mereka bekerja.

Kalau mau terlibat dalam urusan publik, kalangan akademis harus mengorbankan waktu mereka. Tentu saja ini adalah pilihan. Tetapi dengan itulah kita bisa melihat apa yang sesungguhnya mereka perjuangkan–dirinya sendiri atau sesuatu yang lebih dari itu.

Bagi saya, menjadi intelektual publik berarti menjadi akademisi yang terus-menerus berinteraksi dengan publik. Posisinya bisa bergantian. Satu waktu menyampaikan hasil-hasil kajian akademis kepada publik, tetapi satu waktu yang lain mengangkat apa yang menjadi perhatian publik ke ranah akademis. 

Akan tetapi, intelektual publik tidak harus selalu berstatus sebagai akademisi. Ia bisa siapa saja. Membatasi pengertian intelektual publik hanya kepada mereka yang bekerja secara formal di lembaga akademis sangat tidak tepat. Bahkan dalam kenyataannya, akademisi formal justru jarang  (atau malas) terlibat dalam urusan publik.

Oleh karena itu, intelektual publik bisa juga merujuk ada wartawan, kyai, pedagang, atau bahkan warga biasa. Yang penting mereka mau terlibat dalam urusan publik. Tetapi tidak hanya terlibat, mereka juga menggunakan daya intelektualnya untuk berbuat sesuatu bagi publik. Daya intelektual yang dimaksud tidak hanya sebatas untuk memahami, tetapi juga mengubah apa yang ada, yang problematis, di hadapan mereka. 

Memang terdengar herois dan gimana gitu. Semacam embuh.

Ilustrasi: kompasiana.com

Tinggalkan Komentar

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *