Menjadi Pemilih yang Cerdas

MASYARAKAT Tanpa Rangking, demikian satu judul buku kumpulan tulisan dari Prof. Imam Suprayogo tahun 2013 yang mengulas tentang kepemimpinan Rasul. Saya tertarik dengan judul buku tersebut yang sangat tepat apabila kita tarik ke proses pemilihan pimpinan daerah yang akan dilaksanakan bulan ini, Desember 2020, di mana pemilihan yang akan kita lakukan lebih kepada memilih gambar idola dan memilih tokoh populer, atau kalau tidak keduanya kita akan menaruh pilihan pada yang memesona sesuai prilaku tebar pesona yang dilakukan para calon. Bukan menaruh pilihan karena adanya kriteria unggul sebagai standar menaruh rangking dalam memilih, itu kebiasaan yang alamiah dalam pemilihan umum yakni mengedepankan ego dan mengabaikan rangking dalam menentukan pilihan.

Terlepas dari menentukan pilihan karena apa, karena bagaimana, dan karena siapa, penting kita sadari bahwa memilih merupakan faktor pembeda  antara manusia dengan makhluk-makhluk lain, karena manusi dikaruniai akal untuk berfikir dan naluri untuk berbeda. Dan berfikir berarti memilih dan memilih berarti memiliki volume naluriah. Berbeda dengan hewan yang bertindak berdasarkan instink dan hukum alam. Tidak ada alternatif pilihan bagi suguhan hukum alam. Berbeda dengan kita yang selalu harus menentukan pilihan dalam menjalani hidup ini. Pepatah lama mengatakan, bahwa “hidup ini sebenarnya merupakan rangkaian pilihan-pilihan.” Dan tindakan memilih itu adalah niscaya bagi manusia yang memiliki akal dan velume naluriah.

Di samping memilih menjadi keharusan dalam hidup, akan berbeda pada keharusan memilih pada pemilihan pemimpin yang tepat, karena penentuan pilihan pada pemilihan pemimpin bukan hanya untuk mengunggulkan seseorang yang kita pandang baik atau sangat baik, akan tetapi lebih kepada demi kemaslahatan umat. Mutawalli Sya’rawi seorang ulama dunia yang cukup berpengaruh pada abad ke-20, baik dalam bidang keagamaan, sosial, maupun politik internasional, khususnya wilayah Timur Tengah pernah mengatakan; “Bahwa dalam melakukan aktivitas pemilihan pemimpin, manusia akan dihadapkan kepada memilih sesuatu yang baik, lebih baik, dan yang terbaik.” Bagi kita di era global saat ini memilih pemimpin tidak cukup hanya dengan skala baik dan lebih baik, akan tetapi harus skala terbaik dari yang baik dan lebih baik, karena tantangan global membutuhkan pemimpin yang bervisi global.

Kriteria terbaik dalam memilih pemimpian bisa kita rujuk dari apa yang Tuhan sampaikan kepada Muhammad SAW tatkala beliau akan diangkap menjadi pemimpin umat saat itu yang tertera didalam Surat ke 74 tentang orang-orang yang berselimut yang dapat dijadikan sebagai acuan dalam menentukan pilihan, bahwa syarat seorang pemimpin  yang memenuhi kriteria terbaik antara lain; pertama, Yang memiliki akhlak karimah yang dalam bahasa al-qur’an “wa tsiyâbaka fa thahhir” yang selalu berusaha membersihkan dirinya atau sama dengan memperbaiki akhlaknya. Kedua, Jujur terutama dalam menegakkan kebenaran dan membasmi kebathilan, dalam bahasa al-qur’an “Warrujza Fahjur” yang selalu tegas dalam hal-hal kekafiran dan maksiat, tidak abu-abu dalam membedakan mana yang haq dan mana yang bathil. Ketiga, Ikhlas dalam melaksanakan tugas yang dalam bahasa al-qur’an “Wala tamnun tamtaktsir” yang selalu menunaikan pekerjaan tanpa mengharap balas budi. Bekerja karena ada amanah di pundaknya, bukan karena ada kebutuhan pribadi atau kelompok dan golongan tertentu.

Ketiga kriteria di atas tidaklah sulit kita temukan dalam keseharian orang-orang yang akan dipilih menjadi pemimpin, apalagi para calon pemimpin di era sekarang telah diberi ruang publik untuk menampakkan dirinya baik melalui selogan, poster, quote, melaui kampanye, maupun melalui pemaparan visi dan misi dan debat publik. Sepintar-pintarnya menyembunyikan identitas diri yang sebenarnya kayaknya kepribadian yang melekat pada dirinya akan tetap kelihatan, karena kriteria yang diberikan Tuhan didalam al-qur’an sangat standar bagi orang-orang memang terkategori orang baik.

Setelah memahami kriteria yang pantas dipilih, tinggal kita menyoal diri masing-masing, apakah menentukan pilihan dengan mengacu kriteria yang jelas dan tegas atau menentukan pilihan dengan asal memilih ?, tetapi ingatlah bahwa hasil pemilihan umum yang akan kita laksanakan menunjukkan kualitas kita sebagai pemilih, kualitas kita-kita yang memilih pemimpin, bukan kualitas pemimpin yang terpilih, kualitas pemimpin yang terpilih akan nampak setelah tokoh yang dihasilkan dari pemilihan sudah melakukan aktivitas kepemimpinan.

Maka untuk mendapatkan kualitas hasil pemilihan tidak ada cara lain selain memilih dengan standar yang benar dan cerdas, sebab apabila kita memilih dengan standar asal-asalan–maka pemimpin yang kita dapat adalah pemimpin asal-asalan, demikian pula sebaliknya jika memilih dengan standar yang benar, cerdas, dan kriteria yang jelas–maka pemimpin yang kita dapatkan adalah pemimpin yang jelas kualitasnya.

Kawan, ingatlah menoreh satu tusukan untuk satu pasangan calon adalah pekerjaan yang tidak sulit, tetapi satu kali tusukan akan berbekas selama empat tahun. Berpikirlah yang jernih, berpikirlah untuk umat, berpikirlah untuk kemaslahatan bersama, dan ikuti hati nurani dalam menorehkan tusukan pilihan, karena hati nurani cermin dari bisikan kebenaran dari sumber kebenaran yang hakiki.[]

                                                                                                                             
                                                                                                                                   Ilustrasi: Medcom.com

Tinggalkan Komentar

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *