Menjadi Orang yang Pantas

PANTAS, merupakan diksi yang menggambarkan kondisi ideal untuk keberhasilan aksi dan orientasi dari semua aktivitas dan capaian manusia dalam mengisi lorong panjang kehidupan. Menjadi orang pantas itu semakna dengan sesuai atau layak, pada apa saja, di mana saja, untuk apa saja, dan dalam pandangan siapa saja.

Kita akan mendapat pengakuan pantas apabila ada kecocokan rasa dari ekseternal kita atas kondisi internal yang kita suguhkan melalui lakon, aksi, dan ikhtiar kita. Perolehan pengakuan pantas tidaklah mudah, dikarenakan pengakuan itu memerlukan timbangan rasa dari dalam diri sendiri dan dari luar diri secara seimbang.

Menjadi orang pantas dalam tataran positif, hendaknya menjadi obsesi yang harus kita raih dalam bentuk pengakuan rasa dari eksternal kita, karena kepantasan itu tidak lain merupakan pancaran dari struktur kejujuran dalam diri, yang terurai menjadi energi positif dalam laku, pikiran, dan capaian-capaian kerja, sehingga melahirkan kalimat pengakuan, “O … Pantas”.

Menjadi orang pantas untuk meraih predikat sebagai pekerja berkualitas misalnya, atau orang sukses, orang berhasil, orang berprestasi, didapatkan tentunya karena sudah mampu memenuhi rasa kepantasan dari semua pihak dan rasa kepantasan dari diri sendiri tentang aksi-aksi kinerja kita. Sebaliknya, menjadi orang tidak pantas meraih predikat pekerja berkualitas, atau orang yang sukses, orang yang berhasil, orang yang berprestasi, didapatkan karena kita memang belum mampu memenuhi rasa kepantasan dari semua pihak dan rasa kepantasan dari dalam  diri sendiri tentang aksi-aksi kinerja kita.

Menjadi orang pantas untuk kaya didapatkan tentunya karena kita mampu memenuhi ikhtiar dan usaha untuk meraih kekayaan, didukung pula oleh keuletan diri sendiri dalam mengelola harta. Sebaliknya, menjadi orang yang tidak pantas untuk kaya didapatkan karena belum mampu memenuhi ikhtiar dan usaha untuk meraih kekayaan, didukung pula oleh ketidakuletan kita dalam mengelola harta.

Menjadi pantas untuk sehat didaptkan tentunya karena kita telah mampu mempola hidup dan kebiasaan kita untuk memenuhi standar hidup sehat. Sebaliknya, menjadi tidak pantas untuk sehat didaptkan karena kita abai dari  melakukan pola hidup dan kebiasaan kita untuk memenuhi standar hidup sehat.

Menjadi pantas untuk diakui sebagai orang baik-baik (baca: orang sholeh), karena telah memenuhi standar amaliah dari kebiasaan-kebiasaan orang baik-baik, taat ibadah, rajin shalat, gemar bersedekah, rajin berpuasa, dan akhlaknya terpuji. Sebaliknya, menjadi tidak pantas sebagai orang baik-baik (baca: tidak sholeh), karena tidak mampu memenuhi standar amaliah dari kebiasaan-kebiasaan orang baik-baik, tidak taat ibadah, shalatnya malas-malasan, tidak gemar bersedekah, tidak rajin berpuasa, dan akhlaknya kurang atau tidak terpuji.

Komitmen Tuhan tentang orang yang dikatakan pantas telah diberitakan di surah al Baqarah ayat 25, “Wa bashshiril laziina aamanuu wa ‘amilus saalihaati anna lahum jannaatin tajrii min tahtihal anhaaru kullamaa riziquu minhaa min samaratir rizqan”. Dan sampaikanlah kabar gembira kepada orang-orang yang beriman dan berbuat kebajikan, bahwa untuk mereka (disediakan) surga-surga yang mengalir di bawahnya sungai-sungai. Setiap saat mereka diberi rezeki buah-buahan dari surga.

Tuhan menyediakan kenikmatan surga, karena mereka pantas untuk mendapatkannya, yang dilatari oleh kemampuan menyeimbangkan antara kepatuhan diri dengan poin-poin kepantasan yang dipersyaratkan Tuhan untuk menghuni surga dan mendapatkan kenikamatan surgawi. Dan Tuhan tidak menjanjikan kabar gembira itu bagi orang-orang yang tidak pantas.

Pernahkah kita merenungi sifat cermin? Bahwa orang yang berada di depan cermin akan melihat kepantasan dirinya berdasarkan kondisi yang dia perlihatkan kepada cermin.

Jadi kalau mau manjadi orang yang pantas, hendaknya paradigma yang kita bangun dalam aksi-aksi, ikhtiar, dan usaha kita adalah yang pantas-pantas saja, yakni yang mampu memenuhi standar kepantasan diri dan standar pengakuan eksternal dari diri kita.

Sebagai penguat komitmen untuk menjadi orang pantas, penting kita renungkan beberapa bait syair dari seorang pujangga yang juga dikenal sufi pada zamannya yakni Abu Nuwas yang hidup pada masa Khalifah Harun Al Rasyid, bagaimana beliau mengabarkan kepada kita bahwa kepantasan itu menjadi sangat penting, dalam pengakuan terhadap aksi dan kinerja diri di hadapan Tuhan.

Ilaahii lastu lilfirdausi ahlaan, Wahai Tuhan.. tidak layak aku masuk ke dalam surga-Mu. Wa laa aqwaa ‘alaa naaril jahiimi, Tetapi hamba tiada kuat menerima siksa neraka-Mu. Fahab lii taubatan waghfir dzunuubii, Maka ku memohon taubat dan mohon ampun atas dosaku. Fa-innaka ghoofirudz-dzanbil ‘adhiimi, Sesungguhnya Engkau Maha Pengampun atas dosa-dosa.

Syair di atas adalah salah satu dari refleksi atas pengakuan diri yang jujur dari rasa yang pantas dan tidak pantas tentang dinamika aksi-aksi diri. Dan kepantasan itu akan membuat kita percaya diri di hadapan siapapun, termasuk percaya diri dalam bertanggung jawab di hadapan Tuhan.

Sebagai catatan akhir, Ingatlah bahwa dalam hidup ini, kita dihadapkan pada dua kutub nilai, positif (pantas) dan negatif (tidak pantas), dan kita diberi kebebasan untuk memilih dengan cerdas, mau berada atau mau diakui pada posisi sebagai orang yang pantas atau tidak pantas?

1 komentar untuk “Menjadi Orang yang Pantas”

  1. Nanda Zahratu Raudah

    Tabarakallah ayahanda…..
    Ingin menjadi orang yang pantas dalam segala hal, pantas menjdi istri sholihah, pantas mnjdi ibu yg di banggakan pantas menjdi anak sholihah….pantas mnjdi murid dan pendidik kebanggan, pantas mnajdi saudara ideal, pantas mnjadi teman sahabat terbaik…….pantas mnjdi salah satu ummat yg di rhidoi penciptanyaa…….Allahu akbar :-):-)
    Aamiin Allahumma aamiin

    Jazakallahu khairan katsir ayahanda,semoga setiap goresan tinta ini menjdi saksi bahwa memang engKau pantass mnjdi tauladan terbaik ku, sepanjang bangku perkuliahan sampai saat ini hingga Jannah Nya,,,aamiin Allahumma aamiin

Tinggalkan Komentar

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan.