Imam Orang-orang Masbuk

AL QUR’AN mensponsori agar kita menjadi orang-orang yang terdepan dalam melaksanakan syariat beragama, baik dalam waktu maupun dalam volume, kuantitas dan kualitas pelaksanaan amaliah. Menjadi orang terdepan mencerminkan bahwa kita adalah orang yang memahami agama dengan jujur, orang yang mengimani nilai yang dikandung oleh ajaran agama dengan benar, orang yang paling sadar terhadap kewajiban yang diberikan agama, orang yang paling mengerti dirinya sebagai hamba, dan orang yang paling menghargai ajaran agama yang diyakininya sebagai agama yang paling benar.

Menjadi orang terdepan dapat menjadi strategi kompetitif bagi kita dalam meraih nilai terbaik dalam menjalankan aturan yang disyariatkan agama, dan sekaligus pemenang dalam merebut waktu. Namun kondisi itu belum sepenuhnya kita sadari, sehingga sebagian besar dari kita masih enggan untuk mengambil bagian pada barisan terdepan.

Dalam tataran sosial kemasyarakatan orang-orang yang berada pada barisan terdepan adalah orang-orang yang memiliki kepedulian tinggi, kepekaan, inisiatif, dan loyalitas tinggi. Dan orang-orang seperti ini biasanya menjadi pemandangan yang langka dan membuat pelakunya menjadi terpuji di mata orang banyak, karena tidak semua orang mampu melakukannya.

Banyak ayat-ayat al qur’an maupun hadits yang mengiklankan bahwa orang yang beriman seharusnya menjadi orang-orang terdepan dalam urusan agama. Karena hanya orang beriman yang mestinya memiliki kesadaran tinggi terhadap pelaksanaan ajaran agamanya. Tuhan dan RasulNya mendialogkan agar kita mengambil psosisi pada barisan terdepan dengan bahasa yang fulgar dan tegas, bukan dengan bahasa sindiran, bukan pula dengan bahasa yang mengandung penafsiran.

Dalam urusan shalat misalnya, Rasul dengan lugas mengatakan “Afdhalul-a’mali as-shalatu fi awwali waqtiha”. Amalan yang paling utama adalah mendirikan shalat (lima waktu) di awal waktu. Mestinya kita behasrat dan berusaha sehebat mungkin untuk merebut waktu terdepan, karena ini adalah tuntunan dan aturan dari risalah yang kita yakini, tetapi masih amat sedikit dari kita-kita yang dapat melakukannya, bahkan kalau kita berkumpul membentuk group menurut waktu, mungkin group terbanyak adalah yang mengambil bagian di akhir waktu.

Kemudian dalam urusan memenuhi amanah dari titipan Tuhan buat orang-orang fakir dan msikin, Tuhan menyeru, “Wa atu haqqahu yauma hashadih”. Tunaikan hak-hak (orang fakir dan msikin) itu pada hari kamu memanen (Memanen di sini bisa saja saat mendapat rizki, saat memperoleh keuntungan, dan saat memanen hasil bumi). Adakah dari kita yang bersegera untuk patuh terhadap pesan moral itu dengan mengambil waktu terdepan (hari itu juga)?

Dengan berbagai macam alasan dan rukhshah yang dibuat sendiri menyebabkan penyelesaian amanah itu harus berada di akhir waktu. Betapa indah dan nikmatnya kehidupan ini jika kewajiban itu ditunaikan terlebih dahulu sebelum mengambil hak.

Selanjutnya didalam mengembalikan hutang yang menyangkut sisi kemanusiaan, juga Rasul menuntun kita untuk berada di barisan terdepan untuk bersegera membayar hutang, “Fainna min khiarinnas Ahasanahum qadha’a.“ Sesungguhnya sebagian dari orang yang paling baik adalah orang yang paling baik dalam membayar (hutang).

Tuntunan ini ingin melihat kita sebagai orang terdepan dalam memenuhi janji, tetapi lagi-lagi kita enggan melakukannya dengan berbagai perhitungan dan angan-angan yang membuat kita terlena.

Memang tidak mudah menjadi orang terdepan, apalagi dalam urusan agama yang sebagian besar dari kita belum merasa bahwa urusan agama itu penting, kita masih menempatkan perkara agama pada ururtan kedua, ketiga, dan seterusnya, sehingga untuk menjadi terdepan dalam urusan-urusan yang bertalian dengan agama belum menjadi perioritas.

Orang-orang yang tidak mengambil garis depan dalam urusan agama di kalangan orang-orang sufi dikategori sebagai orang-orang masbuk, bahkan bisa jadi menjadi imam bagi orang-orang masbuk, karena dengan prilaku dan sikapnya akan dapat mempengaruhi orang lain untuk tidak berada pada barisan terdepan dalam urusan keagamaan dan kemanusiaan.

Tahukah kita siapa orang yang masbuk itu? Yaitu orang-orang yang selalu tertinggal beberapa rakaat dari shalat-shalat yang ditunaikan secara berjamaah, bisa saja karena dia memang terlambat, bisa juga karena lengah, atau bisa juga karena sengaja dan menjadi kebiasaan dan hoby.

Dalam urusan pemenuhan amanah beragama, janganlah kita merasa damai dengan masbuk, sementara dalam urusan-urusan keduniaan bahkan kita menjadi imam dari orang yang hadir di awal waktu. Jika kita belum mampu untuk malu kepada Tuhan dan NabiNya, maka malulah dengan iman yang kita sandang.

Jika kita termasuk orang-orang yang yakin dengan iman kita dan telah yakin pula akan keberadaannya di level kebenaran tertinggi, maka perlihatkanlah bahwa kita bisa merebut barisan terdepan dalam praktek-praktek keagamaan. Standar iman bukan masbuk apalagi menjadi imam orang-orang yang masbuk dalam praktek-praktek keagamaan.

Akan tetapi standar iman adalah permulaan, awal, pertama, dan terdepan dalam urusan-urusan kebaikan dan kebenaran. Baca surah ke 98 ayat 7, “Innalladzina amanu wa’amilushsholihati ulaika hum khairul bariyah.” Sesungguhnya orang-orang yang beriman dan mengerjakan amal sholeh, maka itulah sebaik-baik makhluk.[]

Tinggalkan Komentar

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *