Kemuliaan Lafaz Azan

AZAN salah satu ritual dalam agama yang sedikit dibahas di mimbar dakwah dan mimbar-mimbar masjid dan mushalla, padahal azan sebagai lafaz tauhid yang pengaruhnya sangat besar dalam penegakan syariat salat.

Azan merupakan sebuah fakta yang telah mapan sebagai simbol pemanggilan menuju Tuhan. Ketika azan berkumandang, kaum muslimin harus meninggalkan seluruh aktivitas duniawi dan bersegera menuju Tuhannya untuk menunaikan salat. Azan menemukan momentum sebagai penyeru dengan “kekuatan supranatural” yang sangat dahsyat. Simpul-simpul kesadaran psiko-religius umat Muslimin bergetar, terhubung secara simultan, dan dengan kesadaran total seorang hamba untuk segera bersimpuh dalam kesyahduan ibadah.

Dahulu pada zaman Rasulullah saw. terjadi kebingungan untuk menyatakan saat waktu salat telah tiba. Maka dicarilah berbagai cara. Ada yang mengusulkan untuk mengibarkan bendera pas waktu salat tiba, ada yang menguusulkan untuk menyalakan api di atas bukit, meniup terompet, dan bahkan membunyikan lonceng. Tetapi semuanya dianggap kurang pas dan kurang cocok.

Tiba-tiba seorang sahabat bernama Abdullah bin Zaid bermimpi bertemu dengan seseorang yang memberitahunya untuk mengumandangkan azan dengan menyerukan lafaz-lafaz azan senada yang kita dengar sekarang. Mimpi itu disampaikan Abdullah bin Zaid kepada Rasulullah saw. Umar bin Khathab yang sedang berada di rumah mendengar suara itu. Ia langsung keluar sambil menarik jubahnya dan berkata: Demi Tuhan Yang mengutusmu dengan hak, ya Rasulullah, aku benar-benar melihat seperti yang ia lihat (di dalam mimpi). Lalu Rasulullah bersabda, segala puji bagimu. Kemudian Rasulullah menyetujuinya untuk menggunakan lafaz azan  untuk menyerukan panggilan salat.

Semenjak itulah azan dikumandangkan pertama oleh Bilal bin Rabah sampai saat ini, bahkan sampai akhir nanti. Proses itu terus berlangsung, suara azan itu tidak pernah berhenti sepanjang waktu.

Mari kita runut suara azan yang berkumandang di seantero jagad raya. Kita mulai dari Indonesia. Suara azan itu bergerak ke arah barat kepulauan Indonesia. Perbedaan waktu antara timur dan barat pulau-pulau di Indonesia adalah satu jam. Oleh karena itu, satu jam setelah azan selesai di Sulawesi dan di Nusa Tenggara maka azan segera bergema di Jakarta, disusul pulau Sumatra. Dan azan belum berakhir di Indonesia, maka ia sudah dimulai di Malaysia. Burma adalah di baris berikutnya, dan dalam waktu beberapa jam dari Jakarta, maka azan mencapai Dacca, ibukota Bangladesh. Dan begitu azan berakhir di Bangladesh, maka ia telah dikumandangkan di barat India, dari Kalkuta ke Srinagar. Kemudian terus menuju Bombay dan seluruh kawasan India.

Srinagar dan Sialkot (sebuah kota di Pakistan utara) memiliki waktu azan yang sama. Perbedaan waktu antara Sialkot, Kota, Karachi dan Gowadar (kota di Baluchistan, sebuah provinsi di Pakistan) adalah empat puluh menit, dan dalam waktu ini, azan fajar telah terdengar di Pakistan. Sebelum berakhir di sana, ia telah dimulai di Afghanistan dan Muscat. Perbedaan waktu antara Muscat dan Baghdad adalah satu jam. Azan kembali terdengar selama satu jam di wilayah Hijaz al-Muqaddas (Makkah dan Madinah), Yaman, Uni Emirat Arab, Kuwait dan Irak.

Perbedaan waktu antara Bagdad dan Iskandariyah di Mesir adalah satu jam. Azan terus bergema di Siria, Mesir, Somalia dan Sudan selama jam tersebut. Iskandariyah dan Istanbul terletak di bujur geografis yang sama. Perbedaan waktu antara timur dan barat Turki adalah satu setengah jam, dan pada saat ini seruan salat dikumandangkan.

Iskandariyah dan Tripoli (ibukota Libya) terletak di lokasi waktu yang sama. Proses panggilan azan terus berlangsung di seluruh kawasan Afrika. Oleh karena itu, kumandang keesaan Allah dan kenabian Muhammad saw yang dimulai dari bagian timur pulau Indonesia itu tiba di pantai timur Samudera Atlantik setelah sembilan setengah jam. Sebelum azan mencapai pantai Atlantik, kumandang azan Zhuhur telah dimulai di kawasan timur Indonesia, dan begitu seterusnya.

Subhanallah, adzan ternyata tidak pernah berhenti berkumandang di seluruh jagad raya. Wajar jika suatu saat suara azan itu terdengar di atas ketinggian, di bulan, di hutan, atau di tengah malam sekalipun, karena memang suara azan itu saling sambung menyambung selama waktu ini berputar.

Pada akhirnya, pernahkah kita bayangkan andaikan syariat azan ini tidak ada dalam Islam. Azan tidak dikumandangkan sebagai penanda datangnya waktu-waktu salat atau suara azan diberhentikan kumandangnya dari jagat raya. Apakah yang akan terjadi?

Kalau kita enggan mengatakan seluruh umat Islam akan terlena dengan waktu salat, maka kita bisa menyimpulkan alangkah banyaknya umat Islam yang ditinggal oleh waktu salat. Ada syariat azan saja sebagai penanda waktu salat, masih banyak umat Islam yang lupa dengan waktu salatnya,  minimal terlena mengulur-ulur waktu untuk melaksanakan salat.

Sungguh luar biasa syariat azan ini, sungguh sangat memihak kepada kemanusiaan manusia yang serba lupa dan alpa. Bagi kita manusia awam, lantunan azan ini benar-benar menjadi rahmat yang mengingatkan kita tentang  waktu salat.

Maka bersyukurlah kita dengan kumandang suara azan, dan bergegaslah menyongsong waktu salat, selagi telinga kita masih mampu menyimak suara, selagi kesadaran dalam diri kita masih mampu menangkap dan mengerti bahwa suara azan sebagai panggilan menuju Tuhan. Nanti akan ada saat di mana suara azan itu tidak bisa ditangkap oleh telinga kita, ada saat kesadaran kita dilemahkan Tuhan untuk tidak dapat memahami bahwa itu suara azan.

Tinggalkan Komentar

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *