Budaya Baca-Tulis dan Proses Penulisan (1) (Orasi Budaya pada Mbojo Writers Festival 2021)

Di belahan dunia manapun dan pada zaman kapanpun – profesi menulis merupakan pilihan yang nekat untuk dilakoni karena berhadapan dengan begitu banyak risiko. Namun hidup siapa yang tanpa risiko? Menulis bagian dari panggilan jiwa – bergetarnya keinginan berbagi akibat mencuat dan rembesan ide-ide yang tak terbendung. Kata dan kalimat dalam bahasa digunakan sebagai alat. Dan dalam cabang kesenian lain terdapat instrumen berbeda yang dijalani seni rupa, seni musik dan seni teater. Kesemuanya bergelut dengan gagasan, ide.

Penulisan puisi, cerita pendek, novel dan naskah drama merupakan bagian dari bentuk-bentuk seni sastra yang dikenal umum. Tak ada cara baku dalam tahapan penuangan ide-ide bergantung pilihannya, bagaimana kebiasaan dan seberapa kesanggupan. Meletakkan niat yang kuat untuk berkarya, keleluasaan waktu yang dipunyai dan self-confidence sangat dibutuhkan. Intesitas berlatih di samping kualitas dan kuantitas membaca mutlak dilalui karena keterkaitan dengan pemahaman peta penulisan.

Baca juga: Konsep Ekofeminisme dalam Mantra “Inaku Dana, Amaku Langi” (1)

Mengenali dan memahami puisi dan alasan mengapa cerpen, novel dan naskah drama ditulis merupakan bagian yang tak kalah penting. Aspek-aspek vital dalam penyelesaian penulisan karya sastra tak berbilang banyaknya – seluas perasaan dan jangkauan pikiran, namun detail tentang hal ini menjadi wilayah kritikus sastra, bukan kewajiban para penulis untuk menguasainya. Puisi merupakan suasana hati. Cerita pendek diilustrasikan sebagai bacaan sekali duduk yang diharapkan sangat berfaedah bagi pembaca karena memuat kandungan “pesan-pesan” yang di dalamnya termasuk pesan moral.

Novel yang merupakan bacaan lebih panjang memerlukan kegigihan dan ketabahan ekstra serta cadangan tenaga kuda untuk menggarap sebab dituntut untuk konsisten dalam penceritaan. Dan naskah drama tak lain dari tulisan yang kelak dipentaskan melibatkan kerja tim (sutradara, penata artistik dan lainnya). Puisi ditulis saat perasaan menggebu untuk membuhkan kata atas suasana batin. Karya prosa yang lebih panjang dan tak memerlukan bungkusan simbul dilatih, diulang-ulang dan berproses dengan tumpukan “bahan-bahan” yang jauh lebih beragam.

Pengetahuan yang menangkap perbedaan atas jenis-jenis tulisan dalam karya sastra sangat membantu memperluas cakrawala berpikir penulis sehingga membuahkan karya berisi. Seburuk apapun karya sastra tidak terma’afkan bila terlahir dari rahim copy paste dan plagiat. Keaslian dan kemurniannya merupakan keharusan walau tak dapat dielak pengaruh bacaan dan cara kerja para pendahulu. Dituntut kepekaaan perasaan, ketulusan, kemampuan mengolah dan menyusun kata di samping kekayaan berbahasa juga diperlukan logika yang kuat, pemahaman dan penguasaan terhadap topik yang ditulis. Dan pilihan diksi yang pas diprioritaskan.

Selain puisi yang menoreh suasana batin; cerpen, novel dan naskah drama mutlak memerlukan kekuatan logika dan daya nalar. Dan untuk itu bila hendak menggarap novel yang baik maka bayangkanlah sebuah novel yang dianggap bagus tergengggam di tangan. Seperti halnya menyajikan makanan, diperlukan imajinasi yang dapat “melihat” makanan bergizi terhidang menggiurkan dalam piring-piring dan mangkuk di meja rapi. Bahan-bahan yang tersedia di dapur diperhatikan dan dikalkulasi; apa yang belum lengkap dan mesti dikumpulkan; bahan yang dominan dan tidak untuk menu yang hendak dihidangkan – takarannya seberapa, rasa apa yang dimaui, bumbu masakan apa yang diperlukan, dihidang mentah atau direbus, dipanggang atau digoreng atau campuran dari kesemuanya? Bila digoreng pakai minyak apa? Buat membuatnya gurih menggunakan kacang apa yang pas dan tidak membuatnya dominan sehingga rasa asli bahan menu utama tidak terabaikan. Kita cicipi, dipikirkan juga apakah hindangan dikonsumsi sendiri, buat keluarga ataukah umum, orangtua, ataukah untuk segala usia?

Baca juga: Budaya Literasi, Cinta, dan Peradaban Manusia

Ketelitian dalam penggarapan karya sastra tentu sebuah keharusan. Bila mungkin diendapkan sebelum diedit dan dikirim ke media massa agar dapat dinilai redaktur sastra yang berfungsi sebagai quality control. Di dapur redaktur sastra-budayalah setiap karya dibaca teliti, dianalisa layak tidaknya dibaca khayalak. Tulisan-tulisan yang dikonsumsi publik dipertimbangkan logika penceritaan, rancu tidaknya, layak tidaknya dipublikasikan ke ranah publik.

Makanan yang disaji di restoran-restoran tak boleh membahayakan kesehatan konsumen (itu salah satu bagian dari fungsi quality control), apa lagi terigu, ikan dan daging tidak asli, tak jelas dari mana dan meracuni. Langsung atau tak langsung seorang penulis bertanggung jawab secara moral terhadap pembaca yang dirampas waktu dan kesempatannya, pikiran, perasaan dan juga materi.

Bagi penerbit, menggandakan buku memerlukan pertimbangan dan kalkulasi besar. Diperlukan alasan-alasan kuat karena tak ingin citranya sebagai penerbit tercoreng akibat dinilai serampangan, sebab urusan buku menyangkut nasib banyak orang. Bahasa menunjukkan bangsa. Dunia perbukuan merupakan pucuknya monumen intelektual yang ikut menentukan tegak dan runtuhnya peradaban sebuah bangsa. Siapapun yang terlibat dalam dunia perbukuan bertanggung jawab terhadap baik tidaknya perkembangan generasi mereka; kesehatan jiwa para pembaca.

Mencetak tulisan dan membukukan karya merupakan hal lain karena pada zaman now iklim penerbitkan buku tidak sesulit dulu yang mana penulisnya menunggu bertahun-tahun. Menjadi penulis bukanlah hal mentereng. Tak diperlukan lagi jalur media massa seperti halnya surat kabar dan majalah sastra. Tak perlu lagi quality control. Menulis buku sangat gampang karena dianggap soal tehnis, dan kian hari semakin tumbuh deretan alasan untuk menggampangkan. Seseorang bisa saja menulis bagaimana beternak belut walau penulisnya tak sempat melihat dan memegang belut.

Internet setia setiap saat di samping ketersediaan editor dan segala macam tukang sulap yang menyediakan jasa asalkan sanggup membayar. Ghost writer bisa dinegosiasi asalkan ada budget. Bahkan kalau mau penulis kenamaan pun bisa saja hanya membuat draft, toh editor yang sudah faham keinginan dan ke mana arah pemesan bisa menyelesaikan dengan sempurna – seperti halnya calon mengantin memesan kartu undangan yang dimaui. Bila kebiasaan ini membudaya; maka demikianlah budaya baca-tulis kita. Toh penggarapan skripsi dalam dunia akademik pun tidak murni lagi – bahkan lebih keruh dari yang sanggup kita pikirkan.

Tinggalkan Komentar

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan.