Tarekat Tua dan Idul Adha

MELAWAT pegunungan Ndano Nae  Bima NTB (30/07/2020). Seperti biasa udara pegunungan pada umumnya begitu dingin dan sejuk, pada bagian ngarai masih bersemayam kabut tipis. Sayangnya punggung gunung sudah tampak sangat gundul karena warga menjadikannya ladang jagung musiman pada musim hujan. Masih terlihat sisa-sisa daun dan batang jagung dari panen kemarin.

Setelah 20 menitan menyusuri aspal dari kelurahan Rite, akhirnya sampai juga di perkampungan Ndano Nae. 

Awal mula terbentuknya komunitas komunal dan nama Ndano Nae sendiri berawal dari dahulu kebiasaan warga Ntobo melepaskan sapi, kerbau dan ternak lainnya di atas pegunungan. Ada satu kubangan lumpur yang sangat besar didukung oleh rerumputan hijau, kemudian lambat laun sambil menunggu hewan ternak mereka yang dilepas, maka dibuatlah rumah kecil untuk menjaga ternak. Juga peternak lainnya ikut membangun rumah hingga menjadi banyak dan terbentuklah kampung tersebut. Nama Ndano Nae sendiri berarti kubangan besar tempat kerbau berendam.  

Tujuan utama saya adalah bersilaturrahmi ke rumah Bapak Baharuddin atau biasa disapa Guru Redo, sapaan khas dari nama kultur Bima (Ngara Mbojo). Guru Redo sendiri seorang Guru Ngaji oleh sebab itu dipanggil Guru. 

Menemui Guru Redo hari itu dalam rangka mencari kambing untuk kurban, namun sayangnya kambing sudah tidak tersedia. Mendengar perkataan Guru redo saya jadi bingung, setelah dijelaskan oleh beliau, ada sesuatu hal yang menarik saya temui yaitu warga sudah melaksanakan idul Adha sejak hari Rabu, 29 Juli 2020 bukan hari Jum’at, 31 Juli 2020 seperti dalam kalender pada umumnya. Di Ndano Nae terdapat komunitas Tarekat Naqsyabandiyah yang masih ada di Bima. Mungkin Jamaah Naqsyabandiyah terbesar di pulau Sumbawa.

Tidak begitu ramai, mungkin karena masih agak pagi. Suasana perkampungan hanya tampak beberapa wanita paruh baya yang sedang menenun dengan muna tua peninggalan keluarga mereka turun temurun. Pada salah satu rumah panggung, depan sampana tampak dua orang lelaki paruh baya sedang asik berbincang.  Mereka kelihatan sumringah, sambil meneguk kopi hitam. Asap air panas dan ampas kopi masih mengendap di antara mulut gelas kaca dengan motif bunga-bunga berwarna hijau.Warga disini, juga menanam kopi pada perkarangan dan kebun mereka. Terlihat pohon-pohon kopi dengan cery-nya yang masih tampak hijau, sebab barusan bulan lalu mereka sudah panen, dengan cuaca yang dingin diatas ±500 mdpl memang sangat cocok Ndano Nae meningkatkan budidaya kopi.

Kembali lagi pada soal Tarekat Naqsyahbandiyah, warga Ndano Nae menyebut tarekat tersebut dengan nama “Tarekat Tua”. Dalam terminology bahasa Bima kata “Tua” sendiri mempunyai makna “kebijaksanaan.” Warga Ndano Nae menjadi jamaah Tarekat Tua sejak orang tua mereka terdahulu. 

Imam tarekat mereka berpusat di Ntobo dengan nama Syekh Ibrahim. Setelah Syekh Ibrahim wafat dilanjutkan oleh Haji Fandy atau biasa warga Ndado Nae memanggilnya Aba Fendo. Kini, Naqsyabandiyah di Bima hanya bertahan di Ntobo, Busu dan Ndano Nae – wilayah pinggiran sebelah utara Kota Bima.

Sembari berjalan, Guru Redo bercerita, kemarin kami (Naqsyabandiyah) berkurban dua sapi dan tujuh kambing dari warga yang mapan. Di sini (Ndano Nae) harga kambing agak sedikit mahal dari kambing-kambing di kota. Karena sekarang semakin sedikit peternak kambing, mereka beralih menjadi petani jagung. 

Setelah keliling perkampungan untuk melihat kambing dan bercerita idul Adha Naqsyabandiyah kami memasuki pekarangan rumah guru Redo kembali.  

Tampak anak perempuannya sudah selesai memasak air untuk kahawa (kopi), namun dengan sedikit kecewa saya harus menolak ajakan beliau berhubung ada panggilan yang penting untuk kembali ke kota.[]

ilustrasi: pontianak.tribunnews.com

1 komentar untuk “Tarekat Tua dan Idul Adha”

  1. Pingback: Fi Tua, Ajaran Rahasia dan Etik Dou Mbojo | alamtara.co

Tinggalkan Komentar

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *