Sikap Tuhan Kepada Hamba yang Melampaui Batas

MELAMPAUI batas dan tersesat menjadi diksi yang digunakan Tuhan untuk menyindir hambaNya yang menyimpang dari garis yang ditentukan Tuhan untuk kehidupan yang seimbang dan berkeadilan. Terlalu banyak elemen kehidupan yang kita lakoni dengan melampaui batas dari yang dikehendaki Tuhan, tetapi kita sering tidak menyadarinya.

Mengelola waktu misalnya; Dalam satu hari diberikan waktu selama 24 jam untuk kita kelola dengan adil dalam memenuhi hak pribadi, hak orang lain, hak makhluk lain, dan hak Tuhan. Kita sering melampaui batas dari keadilan dan asas proporsional, sehingga tidak sedikit dari kita yang tertipu.

Baca juga: Pemaksaan Tuhan agar Manusia 

Demikian pula mengelola rizki, Tuhan menentukan kadar rizki hambaNya berdasarkan kebutuhan seorang hamba, kelebihan dari yang kita butuhkan adalah hak orang lain atau hak makhluk lain. Lagi-lagi kita melampuai batas dalam mencari dan mengumpulkannya hingga kita tersesat dalam kebakhilan.

Begitu pula dengan kekuasaan yang Tuhan amanahkan di pundak kita, Tuhan percayakan kekuasaan itu sesuai dengan batas-batas kebenaran, kebaikan, dan kemanusiaan. Tatkala kekuasaan itu ada di tangan kita, tidak jarang kita melampaui batas dalam menggunakannya, akhirnya kita tersesat dalam tataran sewenang-wenang dan tidak manusiawi.
Dan masih banyak lagi elemen-elemen kehidupan yang Tuhan percayakan kepada kita namun sering kali kita sikapi dan laksanakan dengan melampaui batas dari yang Tuhan kehendaki.


Seandainya Tuhan tidak menyayangi kita dan membiarkan kita bertindak, berbuat, dan melakukan kehendak secara bebas, barangkali kita-kita ini sangat pantas Tuhan posisikan pada status hewan melata atau bahkan lebih rendah, karena sikap kita yang melampaui batas. Akan tetapi Tuhan tidak tega melihat kita tercampak sangat jauh pada posisi melampaui batas dan tersesat dalam menjalani hidup ini. Banyak sekali cara Tuhan mengembalikan hamba-Nya dari kesesatan yang melampaui batas sebagai bukti kasih sayangNya lebih besar ketimbang murkaNya. Dan terkadang cara itu di luar kemampuan nalar manusia untuk memahami dan mencernanya.

Baca juga: Alam Bawah Sadar Orang Beriman

Di antara cara Tuhan mengembalikan hamba-Nya ke posisi yang benar adalah Tuhan menyadarkan kita lewat nurani kita yang berbisik tentang kebenaran, namun kita sering abaikan. Atau terkadang Tuhan mengirimkan petunjuk tentang kebenaran lewat perantaraan orang yang baik-baik, namun terkadang kita tidak pernah berprasangka baik.

Kemudian cara linnya adalah Tuhan turunkan musibah (dalam berbagai bentuknya; bisa dalam bentuk wabah, bencana alam, dan musibah pribadi dengan cara menimpakan keadaan yang membuat kita tersadar dan malu). Musibah bisa menjadi cara Tuhan menguji kita agar segera sadar dari kelalaian yang kita lakukan, atau bisa juga caraNya mengangkat derajat kita ke posisi yang sebenar-benarnya (jika kita bersabar menerima musibah tersebut), seperti sabda Nabi SAW: “Idza aradallahu bi’abdihil khairo ‘ajjala lahul ‘uqubata fid dunia”. Jika Tuhan menginginkan atas diri hamba-Nya suatu kebaikan maka Tuhan akan mempercepat baginya cobaan di dunia.

Berikutnya Tuhan kembalikan kita dengan cara menghidupkan jiwa kita agar segera menyadari bahwa dulu kita pernah berjanji dengan Tuhan tatkala berada di alam arwah, Tuhan memperlihatkan kebesaran dan kekuasaanNya saat itu, lalu bertanya, apakah kamu meyakini Aku sebagai Tuhanmu? Pada sat itu kita membenarkan dan sekaligus menyaksikan dengan penuh terkesima, Bala…, benar ya Tuhanku. Kesadaran itulah yang Tuhan kembalikan di dalam dada hambaNya untuk lebih melek pada perbedaan yang haq dan yang batil.

Baca juga: Menjadi Pribadi yang Satu Kata dengan Perbuatan

Selanjutnya bagi orang yang beriman pastinya setiap berbuat salah tentu ada perasaan takut kepada Tuhannya. Disaat hadir perasaan takut tersebut, disiitulah Tuhan juga telah menghidupkan jiwa kita, agar senantiasa mendekat kepada-Nya. Jika kita dapat menangkap maksud Tuhan itu, itulah yang Tuhan gambarkan dalam perumpamaan yang sangat indah bahwa setiap jiwa orang mukmin yang kembali menyadari kekeliruannya dan berlari kepada Tuhannya, bagaikan orang yang mati kemudian hidup kembali, demikian tamsil dalam Al-Qur’an surah Al-An’am ayat 122: “Dan apakah orang yang sudah mati kemudian dia kami hidupkan dan kami berikan kepadanya cahaya yang terang, yang dengan cahaya itu dia dapat berjalan di tengah-tengah masyarakat manusia”
Cara yang lain, bahwa Tuhan mengembalikan hambaNya ke jalan kebenaran dengan menuntun hatinya agar tergerak untuk beribadah.

Banyak yang kita saksikan dari saudara-sudara kita yang tiba-tiba sangat rajin beribadah, menyesali dan menyadari kealfaannya, pada saat itulah Tuhan telah menanamkan nur ke dalam hati hambaNya dan dia berada dalam kondisi yang siap menerimanya. “Faman yuridillaha an yahdiahu yasyrah shadrahu lil islam”. Barangsiapa yang Tuhan kehendaki untuk diberikan petunjuk kepadanya, niscaya Dia melapangkan dadanya untuk (menerima agama) Islam. Demikian Tuhan jelaskan dalam surah Al An’am ayat 125.

Manusia memang memiliki kecenderungan untuk melampaui batas dari yang dikehendaki Tuhan, bahkan berani membuat aturan di luar batas yang ada. Hal inilah yang harus kita sadari agar tidak kehilangan keseimbangan dan tidak pula kehilangan arah dalam menapaktilasi kehidupan sebagai seorang hamba yang harus patuh dan tunduk pada aturan yang digariskan Tuhan.

Ilustrasi: Paper.org.

1 komentar untuk “Sikap Tuhan Kepada Hamba yang Melampaui Batas”

  1. Nanda Zahratu Raudah

    Alhamdulillah wa astagfirullahal adzim..
    Manusia adalah tempatnya salah dan dosa 😭😭😭, semoga kita selalu dalam bimbingan menuju Jalan yg di Ridhoi Nya sehingga jauh dari kesesatan/tdk melampaui batas ygsdh di tentukan Oleh Allah azzawajalla,,aamiin Allahumma aamiin 🤲

    Masih dlm rasa n doa yang sama untuk ayahanda tercinta,, semoga segala laku selalu dalam keberkahan aamiin ….😇😇😇

Tinggalkan Komentar

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *