Beribadah Tanpa Syarat

NILAI IBADAH yang disyari’atkan Tuhan melalui ajaran yang dibumikan oleh Muhammad SAW bersama para alim ulama sungguh sangat sarat nilai dan manfaat, balasannya pun tiada tara di balik pelaksanaan yang dilakukan dengan susah payah oleh seorang hamba.

Tuhan ingin dengan ibadah yang disyariatkanNya itu, kita sebagai orang yang beriman bisa berkompetisi untuk meraup nilai-nilai yang tersembunyi dari rangkaian syariat tersebut. “Berlomba-lombalah kamu dalam kebaikan”.

Demikian harapan Tuhan tanpa mengumbar hadiah atau tropi model apa yang disiapkan kepada peserta lomba. Tujuannya tidak lain agar kita tidak saling sikat dan tidak saling sikut dalam ajang kompetisi.

Fakta telah membuka kesadaran kita bahwa setiap kompetisi yang dijanjikan hadiah dan tropi dalam wujud yang jelas, selalu akan ada cara-cara subyektif yang mencederai sportivitas peserta.

Tuhan hanya berjanji bahwa hanya hambaNya yang ikhlas yang akan memenangkan kompetisi dan meraih hadiah yang Tuhan sudah siapkan, tetapi kebanyakan dari kita belum memahaminya. Akibatnya keikhlasan itu menjadi ternodai, karena orientasi kita masih sebatas kebutuhan sesaat bahwa motivasi amal masih dipengaruhi oleh imbalan-imbalan yang nyata dan nampak.

Jujur—kita belum meyakini tingginya nilai keikhlasan di hampir semua ibadah yang kita lakukan, baik yang dilakukan dengan suara, diamalkan dengan gerakan, sampai kepada yang ditunaikan dengan tindakan sosial, selalu kita sandingkan dengan perhitungan untung rugi. 

Tahajjud misalnya, ibadah sunnah yang nilainya cukup tinggi di sisi Tuhan dengan menyediakan tempat khusus bagi pelakunya yakni “Maqaman Mahmuda”.

Mestinya dengan balasan yang tinggi ini kita harus menunaikannya setiap malam, bahkan semestinya kita harus terjaga terutama di pertengahan malam untuk meraih janji Tuhan itu. Tetapi puncak keseriusan untuk bertahajjud dapat kita tunaikan apabila kita ingin mendialogkan suatu keinginan kepada Tuhan.

Namun, kita bertahajjud secara barter dan bersyarat dengan Tuhan; ada Tahajjud—ada hajat yang harus Tuhan penuhi, sedikitpun tidak ada ketertarikan kita dengan “Maqaman Mahmuda”.

Puasa juga begitu, Tuhan sudah sampaikan jauh sebelumnya bahwa imbalan puasa itu Aku siapkan khusus, hanya Aku yang tahu, kata Tuhan. Tuhan hanya ingin kita yakin bahwa Tuhan tidak pernah bergurau, pasti Tuhan sediakan imbalan terbaik untuk yang ikhlas.

Tetapi lagi-lagi kita berpuasa dengan bersyarat, seperti perpuasa ingin dosa-dosanya yang banyak itu terampuni, berpuasa ingin kesehatan jasmaninya terpenuhi, berpuasa ingin agar menjadi langsing tidak kegemukan, dan lain sebagainya. Puasa dibarter dengan Tuhan dengan nilai yang sangat rendah.

Pada pelaksanaan Shalat wajib lima waktu yang sudah jelas Tuhan sampaikan lewat NabiNya, bahwa amalan shalat itu amalan utama dibanding amalan yang lain. Tuhan akan mengevaluasi amalan shalat kita terlebih dahulu sebelum evaluasi amalan yang lain, jika amalan shalat itu baik, maka amalan lain akan dievaluasi, tetapi jika amalan shalat tidak baik, amalan lain diabaikan Tuhan.

Ini artinya nilai ibadah shalat itu sungguh sangat tinggi. Lagi-lagi kita harus barter dengan Tuhan bahwa kita akan shalat dengan tumakninah untuk menemukan rahasia-rahasia gerakan shalat untuk kesehatan, untuk kedamaian hidup, dan untuk sesuatu yang lain. Pokoknya shalat khusyu’ juga bersyarat.

Berzakat yang di dalamnya ada nilai sosial berupa titipan Tuhan untuk menguji seberapa amanah kita dalam membagi titipan itu, di balik kelebihan hartamu ada titipan Tuhan untuk hambaNya yang fakir dan yang miskin. Dan Tuhan sudah sampaikan kepada kita, jika kamu amanah, Tuhan akan tambah.

Dengan kepongahan kita, janji Tuhan itu kita anggap gombal, akhirnya kita mengeluarkan harta itu dengan barter dan bersyarat lagi, biar usahaku lancar dan mendapat untung, biar kesehatanku dan keluarga terjamin.     

Demikian pula ibadah-ibadah lain seperti membaca al-Qur’an, jika kita membacanya setiap waktu atau setiap malam, Tuhan janjikan nilai amalan al-Qur’an itu akan menjamin kenyamanan dan keamanan jiwa, raga dan seluruh hidup kita.

Kembali kita kurang percaya, kita telisisk imbalan-imbalan yang berpihak pada keperluan pribadi, contohnya membaca al-Qur’an karena diiming-iming satu huruf satu pahala, membaca surat ini akan mendapatkan kekayaan dan sebangsanya. Lagi-lagi kita melaksanakan sesuatu untuk Tuhan dengan bersyarat.

Lalu kapankah kita menunaikan suatu amalan tanpa embel-embel syarat tertentu dengan Tuhan? Beribadah tanpa ada unsur membarter Tuhan, tetapi beribadah tulus dan ikhlas kepadaNya?

Ruku’ bersama orang-orang yang ruku’ dengan tulus, bersujud dengan hati yang berserah hanya untuk Tuhan—tidak ada intervensi keperluan pribadi dan golongan, membaca al-Qur’an dengan legowo karena memang al-Qur’an itu harus dibaca—bukan menjadi mantra.

Memberi kepada orang lain dengan nilai kemanusiaan sejati bukan ingin pujian dan suara pencitraan. Bertahajud pun dilakukan memang karena senang dan bahagia dapat berdialog di keheningan malam berdua-duaan dengan Tuhan—Bukan ingin memaksa Tuhan untuk memberikan hajat kita.

Andai kita dapat melaksanakan ibadah itu tanpa ada intervensi kebutuhan, tanpa ada barter dan syarat dengan Tuhan, sungguh ibadah kita akan menemukan nilai yang maksimal yang tiada tara, karena Tuhan memberikan sesuatu kepada kita tanpa syarat.

Maka pantasnya kita pun harus beribadah kepada Tuhan tanpa syarat. Wa’budullah wala tusyriku bihi syaian. “Beribadahlah kepada Tuhanmu janganlah engkau sekutukan dengan (syarat-syarat) yang lain.”[]

Fato: Aba Du Wahid

2 komentar untuk “Beribadah Tanpa Syarat”

  1. Nanda Zahratu Raudah

    Ikhlas…ikhlas….ikhlas
    Sungguh indah hidup slalu dibentengi dengan ikhlas….!! Mampukan hambamu ini ya Allah…🙇‍♀️
    Nice topic my beloved teach ,🙏 God bless you always 🤲

Tinggalkan Komentar

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *