Rumah Tanpa Dinding

DULU sebelum televisi dan handphone memasyarakat seperti sekarang ini, para orang tua akan nyaman hatinya apabila anak-anaknya sudah berada di rumah—di dalam kamar masing-masing sehabis menyelesaikan seluruh aktivitasnya, baik aktivitas belajar, bermain, atau aktivitas lainnya. Dan informasi yang mengalir saat itu tidak lebih dari informasi permainan dengan teman-teman sebayanya, karena akses informosi dari telivisi masih sangat terbatas apalagi hand phone—belum ada sama sekali.

Kondisi ketidaknyamanan yang dialami orang tua terutama di kampung dan pedesaan kala itu, biasanya nampak ketika menjelang petang waktu magrib, orang tua akan merasa nyaman dan tenang apabila anak-anaknya sudah ada di rumah saat menjelang waktu magrib. Mereka bersiap-siap untuk suatu aktivitas religi yakni mengaji (membaca) al qur’an di waktu magrib, bisa di mushalla dengan guru ngaji atau yang sudah khatam al-qur’an bisa membaca al qur’an di rumah baik di dalam kamar masing-masing maupun di ruang keluarga.

Kemudian ketenangan orang tua berikutnya adalah apabila anak-anaknya pulang ke rumah tidak larut malam, tetapi di awal malam. Menjelang waktu tidur, orang tua memastikan bahwa semua anak-anaknya sudah ada di rumah dan berada di kamar masing-masing untuk istirahat malam.

Berbeda dengan kondisi saat sekarang di mana televisi dan handphone sudah memasyarakat hingga ke desa-desa dan perkampungan, orang tua tidak seperti dulu lagi, ketenangan dan kenyamanan orang tua terhadap kondisi dan keadaan anak-anaknya tidak cukup dengan melihat anak-anaknya berada di rumah dan masuk ke kamar masing-masing.

Televisi hampir berada di setiap rumah bahkan setiap kamar tidur bagi sebagian orang, apalagi handphone hampir dimiliki oleh seluruh anggota keluarga. Apabila anak-anak di rumah, dia tidak seutuhnya ada di dalam rumah atau di dalam kamar seperti yang disaksikan orang tua.

Bisa saja hanya raganya yang berada di kamar, tetapi pandangan, pendengaran, dan pikiran masih bisa lincah ke mana-mana. Jangan kira anak-anak yang sudah masuk di kamar tidur akan nyaman dan aman di rumah, bisa saja raganya masuk kamar, tetapi jiwanya berada di luar kamar berkeliling ke seluruh jagat raya melalui layar handphone. Seluruh informasi bisa diakses dan bisa keluar-masuk dari bilik kamar anak-anak kita.

Jadi rumah kita saat ini di zaman kemajuan teknologi bagai tidak memiliki dinding yang mampu menjaga keamanan dan keselamatan penghuninya. Rumah kita rata-rata tanpa dinding bagi arus informasi yang keluar dan masuk lalu lalang ke dalam rumah. Seluruh informasi, tontonan, kejadian, dan berita di seantero jagat raya ini bisa diakses. Dan seluruh kondisi dan keadaan penghuni rumah yang sedang berada di dalam kamar bisa dibaca dan dipantau dari luar rumah melalui genggaman.

Menyadari kondisi dan keadaan seperti ini, menjadi tanggung jawab semua anggota keluarga agar masing-masing memiliki kesadaran moral menjadikan rumah yang kita huni agar tetap pada fungsi yang sebenarnya yakni sebagai wadah privat yang memiliki dinding yang tebal, kokoh, dan kuat, terutama dalam membentengi seluruh penghuninya dari arus deras informasi, permainan, dan tontonan yang membawa mudharat.

Dinding rumah yang terdiri dari campuran bahan bangunan biarlah melindungi penghuninya dari terpaan angin dan panas, tetapi dinding yang hakiki yang melindungi penghuninya secara mental dan spiritual harus lebih kita perhatikan—mesti kita bangun dan perkokok dengan kesadaran dari masing-masing anggota keluarga, bahwa dinding yang hakiki itu akan menjadi benteng yang akan menangkal derasnya arus informasi yang masuk dan keluar rumah.

Berapa banyak kejadian yang mengagetkan banyak pihak bahwa sebuah keluarga kehilangan salah satu anggota keluarganya, meninggalkan rumah untuk menemui sumber informasi yang tidak jelas yang dikenal melalui arus informasi yang bebas masuk dan keluar dari rumah. Berapa banyak anggota keluarga yang tiba-tiba menjadi bagian dari komunitas terlarang oleh karena memberi ruang untuk masuknya arus informasi ke dalam rumah dan menemui  penghuni rumah setiap waktu dan setiap saat bebas tanpa filter. Berapa banyak anggota keluarga tiba-tiba didatangi aparat karena terlibat transaksi online yang ilegal akibat dari masuknya penawaran geratis dengan bebasnya ke dalam rumah. Dan masih sangat banyak kasus-kasus serupa akibat rumah kita tidak lagi memiliki dinding yang menjaga dan melindungi penghuninya.

Kondisi ini telah Nabi antisipasi melalui petuah Ali bin Abi Thalib agar para orang tua memberikan perhatian, pendidikan, dan pembelajaran sesuai zaman di mana anak kita hidup, “Allimu auladakum fainnahum makhliquna lizamanin ghairi zamanikum”, Didiklah anak-anakmu sesuai zamannya, karena dia lahir pada zamannya bukan pada zaman kamu.

Sekarang adalah zaman di mana seluruh dinding rumah akan rapuh oleh terpaan teknologi, maka tugas kita adalah memastikan bahwa dinding rumah tidak rubuh dan rapuh dengan terjangan arus teknologi. Caranya dengan menyadarkan semua penghuni rumah untuk secara bersama-sama menjaga agar dinding rumah tetap tegak, melalui proses pembiasaan diri melakukan aktivitas religi dan contoh teladan dari praktik orang tua. “Qu anfusakum wa ahlikum nara”. lindungilah dirimu dan keluargamu dari api neraka” At-Tahrim ayat 6.                 

Tinggalkan Komentar

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *