Masih Belum Terlambat

Kalau saja …., tetapi sudah terlambat!

Sudah lama, bahkan puluhan tahun, Khasir menjadi tukang bangunan di sebuah perusahaan pengembang bonafide. Kualitas hasil kerjanya sungguh super. Karena itu, ia menjadi kesayangan si bos yang berani mengupahnya dengan tarif sangat tinggi, di atas upah rata-rata.

Karena faktor usia, Khasir akhirnya meminta berhenti (pensiun). Bos setuju dengan satu permohonan memelas, agak memaksa. Khasir bertanya “apa syaratnya”. Kata bos “tolong bangunkan sebuah rumah sebagai kenangan untukku”.

Khasir, dengan rasa dan ritme kerja agak terpaksa, memenuhi permintaan bosnya. Karena bangunan ini adalah proyek “paket kejar tayang”, Khasir tidak serius mengerjakannya, karena dia “kebelet” mau pulang kampung. Akhirnya, proyek bangunan selesai dengan kualitas hasil kerja di bawah standar harapan, serba kurang sana-sini.

Khasir kemudian pamit mau pulang kampung, kepada bosnya, untuk selamanya. Tanpa diduga, sang bos memberikan kunci sebuah rumah. Kata bos “ini rumah yang tadi kamu bangun sebagai hadiah untukmu, bonusmu yang aku kumpulkan selama kamu kerja”.

Khasir tentu senang dan bahagia. TETAPI, DIA JUGA SEKALIGUS MENYESAL. “Ya Allaaaah, kalau saja, saya tahu rumah itu akan menjadi hadiah untukku, pasti saya akan bangun dengan serius, agar ia menjadi tempat peristirahatan ABADI-ku yang nyaman-super”. Semuanya sudah berakhir; tidak ada artinya penyesalan. Waktu dan kesempatan yang berlalu tidak akan dapat diputar kembali.

Baca Juga: Pulang ke Asal Rumah Asal

Sahabatku! Kita juga adalah “pekerja bangunan” di mata Allah. Dengan ibadah dan seluruh perilaku keseharian, kita, sebetulnya, sedang membangun rumah masa depan di “kampung keabadian” akhirat. Jika Khasir tidak tahu kalau rumah yang dikerjakannya akan menjadi miliknya, sebaliknya, Allah dengan jelas sudah menjanjikan hadiah rumah-istana-taman indah untuk kita di surga nanti. Imbalan salat rawatib (12 rakaat) dijanjikan rumah di surga (hadits); salat Dhuha 12 rakaat sehari dijanjikan istana di surga (hadits); maksimalisasi ibadah dan istighfar di waktu sahur, di ujung malam, akan menjadi aset taman di surga (QS : Ali Imran : 17, dan aL-Dzâriyyât : 15,18). Ibadah-ibadah lain juga akan menjadi media aset akhirat kita.

Akankah kita juga menyesal seperti penyesalan Khasir? TENTU TIDAK. Semoga! Mari kita kuatkan tekad, dan kencangkan spirit untuk serius mengerjakan ibadah dengan kualitas terbaik, karena ia akan menjadi simpanan untuk bonus akhirat kita.

Sahabatku dalam iman! Siapa tahu “hari ini” adalah kesempatan terakhir kita untuk melakukan kebaikan. Masa depan kita di kampung akhirat adalah buah dari pergumulan perjuangan kita di dunia ini. Masa lalu adalah kenangan. Ayo move on, karena masa depan adalah harapan-impian. Jangan biarkan impian berujung dengan penyesalan. (Amuntai, 31 Agustus 2020).

Ilustrasi: pixabay.com

Tinggalkan Komentar

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *