Di Atas Langit, Masih Ada Langit

Di dalam hukum alam kita menemukan adanya tingkatan-tingkatan dari rendah sampai ke tingkatan yang paling tinggi, dari hal yang buruk sampai ke hal yang paling baik, dari yang gelap sampai ke suasana yang terang benderang, dan seterusnya. Itulah yang melahirkan satu frase dalam pribahasa Indonesia, “Di atas langit ada langit”.

Peribahasa itu tidak saja menerangkan tentang kondisi alam semesta dan jagat raya yang memiliki tingkatan-tingkatan, namun jika pribahasa itu dialamatkan kepada kondisi dan keberadaan manusia, maka antara satu orang dengan orang lain memiliki tingkatan-tingkatan yang menandakan adanya kelebihan atas satu orang dengan yang lain.

Jika kita merasa memiliki kelebihan—dalam hal apa saja, maka ingatlah bahwa ada kelebihan di atas kelebihan yang kita rasakan, atau paling tidak akan menemukan pembanding yang lebih yang bakal menyadarkan kita akan adanya kelebihan pada yang lain.

Misalkan kelebihan pengetahuan, jika ada diantara kita yang merasa memiliki pengetahuan yang lebih atau merasa sangat pintar, maka  yakinlah bahwa suatu saat Tuhan akan mendatangkan seseorang yang memiliki kelebihan pengetahuan. Bisa saja kelebihan pengetahuan itu ditampakkan dalam wujud kemampuan retorika yang memukau, kemampuan berlogika yang mengesankan, atau bisa saja kemampuan mengurai pengetahuannya dalam tulisan-tulisan yang mengangumkan.

Dalam hal ibadah, bila ada diantara kita yang merasa menjadi orang yang taat, yang rajin mencari Tuhan di tempat-tempat ibadah, atau bahkan merasa rajin berdialog dengan Tuhan di pertengahan malam, maka suatu saat Tuhan juga akan memperlihatkan bahwa ada seseorang yang lebih tinggi ketaatannya yang diberi label Ibad, yang menjadi ahlul ibadah.

Dalam hal dermawan, bila ada diantara kita yang merasa sangat pemurah dan dermawan dengan harta kekayaan yang dimiliki, sehingga merasa tidak ada yang menyaingi dirinya dalam hal memberi, maka suatu saat Tuhan akan memperlihatkan bahwa ada seorang hartawan yang tidak saja dermawan, tetapi lebih dari itu, yakni menjadi zuhud yang keikhlasannya sudah sampai pada tahap ihsan.  

Dalam hal kekuasaan misalnya, jika ada diantara kita yang merasa sangat kuasa dalam mengemban amanah sebagai pemimpin yang kharismatik, memiliki kemampuan mempengaruhi bawahan hingga keterampilan manajerial yang mumpuni, maka suatu saat akan Tuhan perlihatkan bahwa ada kekuasaan yang melebihi wewenang dan kemampuan dalam memberikan pengaruh dan intervensi.

Dalam hal kekayaan, bila ada diantara kita yang merasa memiliki harta kekayaan melimpah dengan kepemilikan yang sangat banyak hingga digelari mliarder, maka satu saat Tuhan akan perlihatkan kepada kita bahwa ada orang yang memiliki kekayaan yang tidak akan habis hingga tujuh turunan.

Beberapa refleksi di atas tentunya menyadarkan kita bahwa kelebihan dalam kepintaran, ketaatan, kedermawanan, kekuasaan dan kekayaan jangan sampai membuat kita merasa eksklusif, karena di atas kelebihan yang kita rasakan dan saksikan, di sisi belahan bumi yang lain masih ada yang memiliki kelebihan di atas kita.

Seperti ungkapan bijak, jika anda menganggap diri pintar, ternyata masih ada orang yang lebih pintar. Jika anda menganggap diri taat, ternyata masih ada orang yang lebih taat. Jika anda menganggap diri dermawan, ternyata masih ada orang yang lebih dermawan. Jika anda menganggap diri paling berkuasa, ternyata masih ada orang yang lebih kuasa. Jika anda menganggap diri anda kaya, ternyata masih ada orang yang lebih kaya.

Maka janganlah terlalu cepat menvonis untuk merasa paling pintar, merasa paling dermawan, merasa paling taat, merasa paling alim, merasa paling berpengaruh, dan merasa paling kaya. Tuhan pasti akan membanding kita dengan menghadirkan hamba-Nya yang lebih pintar, lebih dermawan, lebih taat, lebih alim, lebih berkuasa, dan lebih kaya, sebagai i’tibar bahwa tidak ada kesempurnaan yang dimiliki seorang hamba. “Wafauqo kulli dzi ilmin alim”, dan di atas tiap orang yang berpengetahuan, ada yang maha mengetahui. Demikian Tuhan nyatakan dalam surah Yusuf ayat 4.

Terkadang Tuhan mengedukasi hamba-Nya melalui hamba yang lain, guna menyadarkan kita, bahwa titik puncak dari kelebihan itu berujung hanya pada Tuhan rabb semesta alam. Dialah yang lebih pantas untuk memiliki kelebihan. Bahkan kelebihan-Nya tak terbatas. Dan kelirulah kita apabila memasrahkan diri pada yang memiliki kelebihan terbatas, yang masih posisinya “di atas langit masih ada langit”.

Dan siapa saja yang memasrahkan dirinya pada yang memiliki kelebihan terbatas, oleh Tuhan diibaratkan bagai kayu yang disandarkan atau dikeringkan.  Tuhan menegaskan didalam kalam-Nya di surah Al Munafiqun ayat 4, “ka-annahum khusyubun musannadah…” Mereka adalah seakan-akan kayu yang tersandar. Maksudnya kondisi mereka sangat rapuh seperti kayu yang disandarkan pada satu benda, seandainya tidak ada benda tempat menyandarkannya, maka dia akan rubuh.

Maka seberapa pintar, seberapa taat, seberapa taqwa, seberapa alim, seberapa kuasa, dan seberapa kaya seseorang, tetaplah tak memiliki daya di hadapan Tuhan rabbul alamin. Saatnyalah untuk memasrahkan diri sepenuhnya kepada yang di atas, yang tidak lagi ada yang merasa pantas untuk berada di atas-Nya.

Tinggalkan Komentar

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *