Terima Kasih, Tuhan: Ada Hikmah Lain di Balik Covid-19

PANDEMI Covid-19 yang melanda dunia saat ini tentu duka derita. Namun selain sisi negatif juga terdapat hikmah di baliknya yang menimbulkan optimisme. Otimisme itu dibutuhkan oleh masyarakat sehingga muncul ketenangan dan dalam menjalani keseharian mereka dan bukan ketakutan. Karena penyakit akan mudah masuk manakala pesimisme, ketakutan, dan kegelisahan dirasakan sehingga tubuh menjadi lemah dan kekurangan daya tahan atau imunitas. Di antara hikmah yang bisa dipetik dari wabah ini adalah:

Pertama, berkumpul keluarga. Merebaknya wabah ini mengharuskan masyarakat stay at home atau tetap berada di rumah saja sebagai upaya memenggal siklus menjalarnya virus. Jika selama ini banyak orang sibuk kerja di luar rumah, maka saat ini ayah akan sering ada di rumah, ibu akan terus mendampingi keluarga, begitu juga putra-putrinya.

Berkumpul keluarga adalah kemewahan di era modern ini. Kedekatan fisik, emosi dan hati merupakan kebahagiaan tak ternilai harganya. Pekerjaan dan kegiatan saat di luar rumah pada dasarnya diakui atau tidak menjauhkan anggota keluarga satu dengan yang lain. Padahal hal itu berjalan dengan sangat lama terlebih bagi mereka yang tidak bisa sering pulang ke rumah. Maka, berkumpul dengan keluarga adalah hikmah yang diberikan Tuhan kepada kita saat ini.

Kedua, kebersihan semakin terjaga. Jika selama ini banyak dari kita tidak begitu memerdulikan sisi kebersihan diri dan lingkungan, maka Corona telah mengingatkan kita akan kebersihan. Virus ini bisa diatasi salah satu caranya dengan hidup bersih. Dengan bersih fisik dan badan, virus sulit menjalar. Orang yang terbiasa hidup dalam lingkungan yang kotor, selain mudah terjangkit penyakit sangat mungkin memiliki watak yang tidak bisa dikontrol.

Tuhan telah mengajarkan arti penting pola hidup bersih. Bagi umat Muslim salah satunya melalui praktik sholat lima waktu. Salah satu syaratnya adalah suci dan bersih dari najis, seorang muslim wajib berwudhu. Dalam wudhu anggota badan yang dibasuh adalah yang sering digunakan dan bersentuhan dengan barang apapun sehingga rentan terjangkit virus dan penyakit. Dengan berwudhu anggota badan tersebut lebih terjaga kebersihannya.

Ketiga, kembali pada rempah-rempah. Di saat Corona mewabah, banyak saran dan pandangan bahwa yang bisa menangkal dan mengurangi terjangkintnya virus adalah mengkonsumsi rempah-rempah. Semacam back to nature. Indonesia negara berlimpah akan rempah-rempah, dalam berbagai jenis. Jika Indonesia zaman dulu terkenal dengan minuman jamunya, masakan yang berbumbu rempah, maka saat ini banyak dlupakan karena tergantikan oleh masakan siap saji.

Bukan suatu yang buruk mengkonsumsi makanan siap saji, namun perlu diperhatikan kandungan bahan kimia yang sangat berpengaruh bagi tubuh dan kesehatan. Sementara orang zaman “kolonial” sangat terbiasa dengan masakan dan minuman yang kental akan rempah dan sedikit pengawet atau kimia. Hal ini mempengaruhi sistem imun dan kesehatan. Maka hikmah di balik Covid-19 ini adalah kembalinya pola makan dan minum manusia pada berbagai olahan dari alam yang sudah disediakan oleh Tuhan.

Keempat, pabrik-pabrik berhenti sejenak, limbah pun semakin berkurang. Adanya pembatasan dengan orang lain (social and physical distancing) dan karantina (lockdown) mempengaruhi beroperasinya pabrik. Sekilas kondisi ini dirasa kejam. Banyak karyawan tidak bekerja dan akhirnya menganggur. Ketika tidak mendapatkan gaji maka akan berpengaruh terhadap ekonomi.

Namun seringkali tidak dipikirkan dampak dari tidak beroperasinya pabrik. Jika limbah-limbah residu pabrik tidak terkendali, betapa langit menjadi gelap, udara penuh polusi, air tidak lagi jernih. Kondisi ini kembali normal di saat pabrik tidak beroperasi. Langit menjadi biru, udara bersih dan nyaman, air bisa jernih dan bahkan ikan dan hewan lainnya bisa terjaga. Jika ini disadari, maka ekosistem dan lingkungan kembali bersahabat dengan manusia.

Kelima, humanisme kembali menguat. Disadari atau tidak, manusia yang memiliki nilai keimanan dan kemanusiaan yang bagus secara sepontan tergerak untuk berbuat kebaikan kepada sesama. Adanya wabah ini telah banyak memberikan beban kepada masyarakat khususnya kalangan ekonomi menengah ke bawah semakin kesulitan. Pekerjaan banyak yang tidak bisa dijalankan, dagangan tidak laku, para buruh di-PHK dan sebagainya.

Kesulitan ini telah menjadikan manusia tersadar kembali akan arti penting berbagi dengan yang lain. Bagi mereka yang diberi rejeki yang lebih, saat ini menjadi ladang amal yang sangat besar untuk menyalurkan harta dan rejekinya bahkan pekerjaannya.

Keenam, Doa-doa dipanjatkan. Sebagai mahkluk ber-Tuhan, kita diajarkan untuk selalu mengingat Tuhan baik dalam kondisi bahagia maupun sengsara. Doktrin ini selalu diajarkan oleh para ulama kepada umatnya, karena memang hidup ini apapun adanya semua kembali kepadaNya. Takdir Tuhan memang ada yang bisa diubah dan ada pula yang sudah ditetapkan sejak zaman azali. Namun, Tuhan telah memberi ruang kepada manusia untuk selalu berikhtiar menjemput takdirnya. Semakin kuat dan besar ikhtiar seseorang, maka akan semakin bagus takdir yang diperolehnya.

Banyak ulama memberikan “resep” doa dan dzikir guna menangkal dan menjauhkan diri dari virus Corona. Bahkan ada upaya bersama secara massal untuk mengetuk pintu langit agar wabah segera diangkat. Istighosah Kubro misalnya, menjadi fenomena yang nampak di masyarakat saat ini bahkan via online. Berbagai wirid dan doa telah diamalkan, bahkan doa-doa yang sudah lama tidak didengungkan. Ijasah Mbah Hasyim Asy’arie dengan “li khomsatun” menggema kembali ke seluruh pelosok negeri.

Enam hikmah tersebut hanya sebagian dari sekian banyak hikmah yang bisa dipetik dari adanya wabah Corona. Yang terpenting bagi manusia adalah terus bersabar, ihlas dan mendekatkan diri kepadaNya, tidak berputus asa dari rahmat Tuhan, selalu berharap (roja’) kebaikan, juga takut dan tunduk (khouf). Bukankah manusia memang diuji dengan berbagai bentuk cobaan salah satunya dengan rasa takut. Apapun bentuk ketakutan termasuk adanya wabah ini, semua demi kebaikan manusia juga.[]

Ilustrasi: pixabay.com

Tinggalkan Komentar

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *