Dialektika Pengorbanan

SEWAKTU kecil saya melihat ritual “korban” adalah sebuah “kekerasan” yang dilegitimasi atas nama agama. Ini juga yang pernah digugat sama si Azam yang sangat mencintai kucingnya dan membayangkan bagaimana perasaan dia jika yang disembelih itu adalah kucing-kucing yang dia pelihara dengan penuh kasih sayang.

Tapi seiring waktu kesadaran saya dan kesadaran Azam berubah dan berjalan pada level yang tentu saja berbeda. Saat ini Azam sedang menikmati “gebyar” perayaan yang mengiringi ritual korban yakni berupa “takbiran” yang disertai iringi suara alat musik yang juga menjadi pengalih kesadaran “otentik ” anak-anak yang penuh cinta kasih pada binatang, menuju kesadaran “pesta”.

Memang harus diakui kebanyakan orang kemudian berhenti pada kesadaran “pesta” ini. Jarang sekali yang berlanjut pada kesadaran “intelektual” apalagi bemuara pada kesadaran “spiritual” atau rohani.

Agama dalam narasi sejarah lisan ada sejak manusia “hadir” di dunia. Bahkan dalam narasi agama, dunia dan segala isinya memang sengaja disediakan untuk “menunjang” kehidupan manusia. Artinya semua makhluk yang ada dipersiapkan Tuhan untuk “dimanfaatkan” oleh manusia dengan dua “jalan”, yakni jalan “kebenaran nubuwah atau taqwa” dan jalan “kesesatan yang menolak nubuwah“.

Jalan nubuwah bukanlah jalan yang bisa dilalui dengan instan tetapi dengan bertahap serta  berkelanjutan dan mendaki. Demikian pula dengan jalan kesesatan juga sering dijalani tanpa disadari awalnya namun selalu berakhir dengan penyesalan.

Pengalaman beragama bagi Nabi Adam adalah praktik dari potensi ilahiyah yang diberikan Allah sebagai ciptaan pertama-Nya. Demikian juga bagi Ibu Hawa yang merupakan bentuk turunan pertama Adam yang instan. Karena konon dalam narasi Israiliyat diciptakan dari tulang rusuk Adam.

Pengalaman hidup Adam dan Hawa di dunia inilah yang kemudian membentuk dan melahirkan pengetahuan konfirmatif. Karena memang Adam ketika di sorga sudah dikenalkan dengan banyak nama atau pengetahuan. Maka turunnya mereka ke dunia menjadikan dialektika antara potensi rasio yang idealis dengan pengalaman empirik. Dari proses inilah muncul pengetahuan reflektif yang mendukung keyakinan nubuwah dan yang menolak realitas nubuwah yang berasal dari Tuhan tersebut. Bahkan dengan potensi akal rasional manusia ada yang mencoba berdiri di antara keduanya.

Dialektika pertama yang problematis bagi Adam dalam narasi agama adalah kasus perjodohan dua pasang anak kembarnya Qobil dan Iqlima dengan Habil dan Layudha. Dimana digambarkan pasangan kembar Qabil dan Iqlima adalah berwajah menarik (tampan dan cantik). Sedangkan Habil dan Layudha digambarkan tidak begitu menarik (kurang tampan dan kurang cantik).

Tidak dijelaskan dalam narasi itu ukuran tampan dan cantik itu dengan bagaimana. Tapi yang jelas “kedekatan” sebagai saudara kembar secara psikologis (karena faktor pengalaman interaksi yang intensif) menumbuhkan rasa aman, memiliki dan kasih sayang. Sehingga Qabil jatuh dalam egoisme individual.

Sedangkan Habil bisa membuang egoisme itu atas nama kepatuhan perintah Adam yang seorang nabi. Bukan semata seorang ayah. Artinya Habil memiliki kesadaran spiritual atau substantif yang lebih dewasa ketimbang Qobil yang terjebak dalam kesadaran material atau simbolik. Habil menerima keputusan nabi Adam sebagai keputusan Tuhan dengan penuh ketaqwaan. Itulah kenapa korban Habil yang dipilihkan dari ternak terbaiknya diterima oleh Allah karena derajat ketaqwaan, bukan karena bentuk materinya.

Sedangkan korban Qobil yang digerakkan dengan energi dengki dan kesombongan (disimbolkan dengan hasil pertanian yang jelek) ditolak oleh Allah. Kedengkian inilah yang kemudian secara cepat menumbuhkan amarah dan dendam yang memuncak menjadi tragedi pembunuhan Habil oleh Qabil.

Dalam konteks narasi agama inilah derajat kearifan manusia diukur oleh ajaran agama dalam substansi spiritual yang “seharusnya” diekspresikan dalam sikap dan perilaku yang berimbang antara manusia sebagai makhluk spiritual, makhluk sosial dan makhluk biologis. Tidak mungkin manusia menghilangkan salah satu dari tiga dimensi itu. Karena jika hilang salah satunya maka bisa dipastikan kemanusiaannya akan menguap dan susah dipahami secara akal atau secara spiritual.

Agama adalah formulasi Tuhan yang lebih siap untuk menyeimbangkan ketiganya. Sementara sains yang berkembang lebih akhir, lebih sering melayani kebutuhan nalar rasional untuk memenuhi kebutuhan biologis dan atau material simbolik. Karena itulah sains seringkali berhadapan langsung dengan agama. Terutama agama yang baru dipahami pada level simbolik yang akhir-akhir ini justru lebih disukai masyarakat. Apalagi ketika sains justru melahirkan persoalan yang jauh lebih kompleks karena ternyata teknologi yang awalnya cukup membantu kesulitan manusia sekarang berbalik menjadi sumber bencana.[]

Ilustrasi: kalam.sindonews.com

Tinggalkan Komentar

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *