Berniaga dengan Tuhan

MASJID pada mula dibangun pada zaman Rasulullah SAW dan sahabat-sahabatnya menjadi sentra inspiring bagi seluruh kegiatan keagamaan dan sosial kemasyarakatan, terutama yang berhubungan dengan harmoni kehidupan, baik kehidupan beragama, kehidupan kemasyarakatan, kehidupan keluarga, hingga tatanan lingkungan sosial. Kesemua bentuk harmoni kehidupan itu dibahasakan oleh al-Qur’an sebagai “Perniagaan dengan Tuhan”.

Rasulullah berupaya dengan sungguh-sungguh membuka lapak-lapak perniagaan di masjid itu dalam wujud shalat berjamaah lima waktu sehari semalam, shalat-shalat sunnah yang jumlah bilangan rakaat dan jumlah bilangan jenisnya tak terhingga, majlis-majlis dzikir, majlis-majlis ilmu, halaqah-halaqah zakat, barisan-barisan i’tikaf, alunan-alunan tahlil, lantunan-lantunan tahmid, kesyahduan paduan suara dari bacaan-bacaan al-Qur’an, hingga bisikan-bisikan mesra dengan Tuhan di tengah keheningan dan kesyahduan hembusan angin surgawi.

Terbayang oleh kita betapa seluruh perniagaan di atas dipelopori dan disponsori oleh semangat dan pengaruh wibawa dan kharisma Rasulullah. Beliau ada di stand-stand perniagaan itu di setiap waktu, di setiap kesempatan, dan di setiap kondisi dan keadaan. Rasulullah tidak hanya sebatas mengajak, tidak hanyak sebatas bertablig, tidak pula hanya sebatas retorika, akan tetapi beliau memposisikan dirinya sebagai bintang iklan yang satunya kata dengan perbuatan. Beliau total berkomitmen untuk sejalan antara lisan, hati,  dan tindakan.

Dalam waktu yang bersamaan dengan aktivitas perniagaan Rasulullah di masjid itu, ada saja di antara umatnya yang tidak tertarik dengan aktivitas-aktivitas tersebut, diabaikannya ajakan Rasulullah, dibuatnya aktivitas perniagaan tandingan di pasar-pasar, di posko-posko judi, di posko-posko arak,  hingga ada salah seorang sahabat merasa gelo (kecewa yang terasa di lubuk hati yang paling dalam) menyaksikan umat yang tidak tertarik sama sekali dengan perniagaan Rasulullah di masjid. Lalu sahabat itu berteriak di tengah keramaian di pasar, di gang-gang jalanan, di posko-posko peristirahatan. “Wahai saudara-saudaraku sekalian, tidakkah kalian tahu bahwa Muhammad di masjid sedang membagi-bagi harta perniagaan untuk seluruh umatnya, mengapa kalian tidak ikut berebutan?” Teriakan itu terus diulang-ulang, hingga separuh isi pasar berhamburan ke masjid, seluruh penduduk yang nongkrong berlarian ke masjid, semua penduduk yang bersantai di dalam posko dan di dalam rumahnya berhamburan keluar.

Sesampai di masjid orang-orang yang berharap harta perniagaan itu menyaksikan Rasulullah sedang menggelar stand-stand perniagaan dengan Tuhan dengan cara memperlihatkan betapa shalat berjamaah itu sungguh besar faidahnya, shalat-shalat sunnah itu menjadi penolong tatkala ada ancaman yang menimpa hati dan pikiran, bacaan-bacaan al-Qur’an itu mengasah kepekaan hati untuk khusyuk menembus tirai Tuhan, untaian kalimat tahlil menjadi kunci untuk membuka pintu-pintu surga, kalimat-kalimat istigfar dan tahmid mengasah kepekaan hati untuk mengaku kenisbian diri di hadapan Tuhan, ayat Kursi menjadi lokomotif yang mendekatkan jarak antara dunia dengan surga, begitu pula bacaan-bacaan shalawat menjadi pemantik untuk meraih cinta tulus dari Allah dan Rasulnya. Berbagi di jalan Tuhan membuat pelakunya tidak akan pernah sombong dan serakah, dan masih banyak stand-stand perniagaan lainnya.

Mereka yang berhamburan datang ke masjid itu bertanya kepada yang beteriak. Mana harta perniagaan itu?! Sahabat yang berteriak itu menjawab, itulah stand-stand Rasul yang kalian saksikan merupakan harta perniagaan yang dibagikan Rasulullah tetapi kalian tidak menganggapnya sebagai harta perniagaan yang bermanfaat untuk kalian. Sahabat melanjutkan penjelasannya dengan menukil satu ayat al-Qur’an di dalam surat ke-61 ayat ke-10 “Hai orang-orang yang beriman, sukakah kamu Aku tunjukkan suatu perniagaan yang dapat menyelamatkan kamu dari azab yang pedih? (yaitu) kamu beriman kepada Allah dan Rasul-Nya dan berjihad di jalan-Nya dengan harta dan jiwamu…”

Itulah perniagaan yang disponsori oleh Rasulullah dan tidak mengenal kata rugi. Perniagaan yang merupakan warisan Rasulullah sampai saat ini sebenarnya masih tetap hidup di masjid-masjid dan mushalla-mushalla, masih ada shalat berjamaah, masih ada tahlil dan zikir, masih ada majlis ta’lim, masih ada alunan tadarrus al Qur’an, masih ada barisan shalawatan dan bisikan ayat-ayat kursi, dan masih ada pula i’tikaf. Namun pemandangan praktik umat di zaman Rasulullah semakin terlihat semarak saat ini, masih banyak praktik dari kita-kita ini yang sengaja mengabaikan bahkan meninggalkan perniagaan warisan Rasulullah. Boleh saja kita berniaga untuk kehidupan dunia dengan menjalankan roda ekonomi dan roda sosial kemanusiaan, namun jangan lupa untuk mengambil beberapa bagian dari warisan Rasulullah berupa perniagaan dengan Tuhan.

Ingatlah kawan, Rasul pernah sibuk mencontohkan cara berniaga dengan Tuhan melalui media masjid dan syariat yang dibawanya, disponsorinya dengan lisan dan perbuatan, diterangkan pula dampak-dampak positif bagi pelakunya, dijamin kehidupan yang damai bagi pegiatnya, namun ternyata ada saja dari kita yang tidak tertarik dengan perniagaan itu. Padahal dalam dua puluh empat jam putaran waktu, Tuhan dan RasulNya tidak meminta seluruh waktu kita untuk berniaga dengannya, tidak pula separuh waktu, tetapi hanya sedikit saja dari waktu luang yang kita miliki.

Sekarang saatnya kita menyoal diri kita masing-masing, sudahkan kita ambil bagian pada stand-stand perniagaan dengan Tuhan yang tidak mengenal rugi? Kiranya kita tidak harus menjawab pertanyaan itu dengan pengakuan, tetapi jawablah dengan perlakuan yang nyata, tegas, dan jelas.[]

Foto: Aba Du Wahid         

Tinggalkan Komentar

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *