Saat Tuhan Tidak Tertarik dengan Harta Kita

DUNIA identik dengan kekayaan, sehingga ada tesis keagamaan yang menjelaskan bahwa dunia itu adalah perhiasan. Ini sebuah frase yang digunakan untuk memberi simbol betapa dunia dan isinya adalah hiasan yang memikat. Atau bisa juga dikatakan bahwa untuk kehidupan dunia modalnya adalah harta yang dilambangkan dengan perhiasan yang menyilaukan.

Harta kekayaan untuk sementara bagi sebagian orang masih menjadi modal utama untuk menggapai segala macam cita dan obsesi. Bahkan banyak orang yang  patah semangat untuk maju oleh karena merasa materi tidak mencukupi. Rasa seperti ini kadang membayang-bayangi langkah dan perjalanan seseorang menuju titik sukses. Dan dengan rasa ini pula tidak sedikit yang pesimis bahkan urung untuk sukses.

Kita terkadang lupa dengan pesan-pesan taqwa dan pesan-pesan moral yang dibisikkan Tuhan, bahwa Dia tetap awas terhadap usaha yang dijalankan hamba-Nya. Di lisan orang bijak dikatakan bahwa hasil tidak mendustai proses. Di lisan para santri dikatakan “Man jadda wajada” siapa yang sungguh-sungguh pasti dapat. Artinya usaha dan ikhtiar adalah kunci untuk merayu dan menggapai keberpihakan Tuhan.

Ingatkah kita dengan seekor semut kecil yang memercikkan air untuk memadamkan api yang membakar Ibrahim as? Pada saat itu semut diolok-olok oleh seekor cecak, bagaimana mungkin semburan air dari mulutmu yang hanya setetes akan dapat memadamkan api yang menyala-nyala. Jawab semut, paling tidak Tuhan telah melihat keberadaanku di pihak yang mana. Itulah i’tibar bahwa Tuhan pasti melihat upaya dan usaha hamba-Nya dan Tuhan biasanya tidak menyia-nyiakan usaha tulus itu.

Mungkin memang harta menjadi penyangga untuk proses menuju sukses, sehingga ada beberapa kawan yang sukses di atas kejayaan hartanya. Tetapi kita harus ingat bahwa kesuksesan dan keberhasilan itu tidak serta merta hanya bermodal materi, akan tetapi ada intervensi dari Yang di atas. Bagi sebagian orang yang betul-betul berjuang dengan dibersamai oleh nurani dan kepasrahan total kepada Tuhannya pasti telah disiapkan dan disembunyikan oleh Tuhan satu masa buat mereka yang terpilih untuk dibukakan jalan meraih sukses, meraih keberuntungan, meraih lulus, dan meraih apa yang diangan-angan hanya dengan bermodal kekayaan nurani.

Tuhan berjanji untuk benar-benar menyiapkan masa itu bagi hamba-Nya yang terpilih. Begini bahasa Tuhan dalam al-Qur’an di surah ke-26 ayat 88: “Yauma la yunfa’u malun wala banun, illa man atallaha biqalbin salim”. Akan ada satu masa di mana harta dan anakmu tidak ada gunanya di mata Tuhan, tetapi yang memiliki nilai guna adalah kedatanganmu dengan modal nurani yang mengandung keselamatan.

Janji Tuhan terkadang sering diabai oleh kita, bahkan kadang kita bantah sendiri dengan pernyataan bahwa di dunia ini tidak ada yang gratis. Ingat, kawan, bahwa Tuhan itu lebih dekat dari urat nadi kita. Jika kita benar-benar memenuhi kriteria nurani yang diingini Tuhan, maka kita akan meraih sesuatu di luar nalar kita sebagai makhluk yang nisbi.

Tuhan juga katakan dalam hadis qudsinya; “ana inda zhanni abdi” Saya sesuai persangkaan hamba saya. Modal hati nurani yang bersih jika dilakukan dengan sangat yakin, akan lebih dahsyat efeknya daripada modal materi.  Maka yakinlah bahwa Tuhan menyiapkan satu kesempatan emas buat kita untuk sukses dengan caranya Tuhan.

Lalu apa yang menjadi kriteria hamba yang dipilih Tuhan karena kekayaan nuraninya? Nabi mengurai kriteria itu dengan bahasa sindiran namun maksudnya sangat jelas.

Pertama, orang-orang yang terpilih itu adalah orang yang memiliki hati seperti burung, “kal qalbitthair”, seperti hatinya burung (merpati). Yakni orang yang selalu mementingkan kebersamaan, selalu berbagi, tidak saling menyembunyikan kebahagiaan dan rizki apalagi saling sikut dan saling sikat. Burung merpati itu selalu memberikan jalan bagi kawan-kawannya untuk menikmati kebahagiaan bersama, menikmati rizki bersama. Orang yang memiliki hati seperti burung (merpati), kata Nabi, adalah orang yang hatinya mengandung keselamatan.

Kemudian kriteria berikutnya kata Nabi adalah hamba yang memiliki hati yang selalu terpaut dengan hati saudara seiman, yang dibahasakan oleh Nabi dengan “kal jasadil wahid”, seperti satu tubuh, bila ada anggotanya yang sakit, sekujur tubuhnya merasakan penderitaan. Yang lebih tegas, tidak nyenyak tidur jika ada tetangga yang tidak bisa tidur karena kelaparan. Itulah kriteria hati yang mengandung keselamatan. 

Selanjutnya hamba yang hatinya selalu tunduk dan patuh pada aturan agamanya dan tidak berani sedikitpun melanggarnya. Itulah kata Nabi orang yang memiliki “mahmulul qalbi”, yang hatinya berisi keimanan dan selalu terjaga untuk tidak melanggar aturan yang ditetapkan Tuhannya.

Inilah tiga kriteria hati seorang hamba yang Tuhan akan pilih untuk diberikan kemuliaan dengan caranya Tuhan dan biasanya di luar nalar manusia untuk mencernanya. Tuhan siapkan keadaan itu dengan janjinya “Pada hari ketika harta dan anak-anak tidak berguna”. Tuhan menelisik hati bambanya dan akan memuliakan “orang-orang yang bersimpuh menghadap Allah dengan hati yang bersih”.

Maka sungguh beruntung orang membersihkan hatinya untuk dapat menggapai kemuliaan yang Tuhan janjikan. Janji Tuhan itu tercatat dan Tuhan pantang untuk mengingkari janjinya.[]

1 komentar untuk “Saat Tuhan Tidak Tertarik dengan Harta Kita”

  1. Nanda Zahratu Raudah

    Allaah…….???subhanallah walhamdulillah,,,
    ini mnjadi motivasi untuk berbuat kebaikan dengan tulus n ikhlas….karna Allah tdk akan menyia nyiakan pengorbanan hambaNya ?

    Jazakallahu haeron katsir ayahanda ??

Tinggalkan Komentar

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *