Memimpikan “Mazhab” Baru Studi Islam

SEKALI lagi, perihal pemikiran Islam belum selesai untuk dibicarakan. Bahkan, semakin dibicarakan, pemikiran Islam semakin “menjadi” dan semakin menarik untuk mengupas inti terdalam dari salah satu agama langit ini. Pemikiran Islam selalu membentuk dirinya, bahkan liar dan tanpa batas. Kita sebagai pemeluknya diperintah untuk terus dekat, membaca, bicara, berpikir dan menyebarkan sampai ke aras-aras yang jauh.

Benih-benih pemikiran Islam sebenarnya telah membersamai kehidupan Nabi Muhammad. Keberanian berijtihad Sahabat Muadz bin Jabal menjadi contoh bagi generasi selanjutnya. Yang tidak kalah nekatnya adalah sahabat Umar bin Khattab dalam membuat sebuah jalan keluar terbaik walau itu adalah negasi pada tradisi yang ditinggalkan Nabi Muhammad. Mereka adalah pemikir! Walau istilah itu belum mashur kala itu.

Dalam sejarah kerajaan-kerajaan di Nusantara, Kesultanan Aceh Darussalam patut mendapat perhatian. Tampilnya Nuruddin Arraniry dan Hamzah Fansuri bertarung dalam polemik tasawuf telah menjadi artefak besar dalam sejarah intelektual di Indonesia. Dan memori itu masih melekat dengan kita sampai saat ini walau hanya lewat literatur dari tangan ke tangan.

Dalam periode awal abad-20, pemikiran Islam Indonesia semakin kaya dengan mulai ditariknya diskursus Islam ke ranah-ranah sosial-praktis untuk menjawab persoalan umat yang cukup problematik dengan kolonialis yang makin mencekik. Dalam pada itu doktrin Islam harus bisa menjadi ideologi pembebasan dan perlawanan pada kolonialisme itu. HOS Tjokroaminoto, Haji Misbah dan para haji lainnya menjadi aktor utama masa ini.

Euforia kemerdekaan benar-benar memberi pengaruh besar pada bangsa Indonesia. Bukan saja kemerdekaan politik yang kita raih. Namun euforia itu merambah sampai kedunia intelektual Islam. Masa ini ditandai dengan reformasi pikiran Islam melawan ideologi-ideologi besar dunia. Di mana posisi Islam? Itu pertanyaan mendasar waktu itu. Sebut saja Muhammad Natsir, Buya Hamka, hingga Kartosuwiryo mencoba memberikan pikiran-pikirannya untuk membersamai zaman “pencerahan” Indonesia ini.

Dengan semangat kemerdekaan dan kemandirian mengelola negara dengan tangan sendiri, upaya untuk menggeser paradigma Islam supaya lebih baik dan terstrukturisasi melahirkan upaya pelembagaan agama. Upaya ini memang berimplikasi teologis dan sosial pada masa selanjutnya. Walau terkesan upaya “penyelamatan” agama, pelembagaan ini akhirnya sedikit-banyak mempengaruhi pikiran dan aktualisasi nilai Islam di tengah umat. Umat cenderung “takut” mempraktikkan ajaran agama, di luar otoritas keagamaan yang ada.

Dengan adanya pelembagaan ini, cara kerja, tata laksana Islam tak lagi “liar”. Wujud-wujud baru keagamaan juga bermunculan. Terutama lembaga pendidikan Islam. Halaqah-halaqah kecil di emperan masjid itu sudah berpindah masuk ke kelas-kelas dan menempati gedung-gedung baru. Pendidikan Islam dari dasar sampai perguruan tinggi banyak dibangun dan diperbaharui. Seiring dengan penyesuaian-penyesuaian sistem pendidikan peninggalan kolonial. Walhasil, upaya itu menurunkan beragam pemikiran untuk menjawab persoalan umat. Yang akhirnya mengkristal menjadi identitas dari lembaga itu. Yang akhirnya kita sebut “mazhab”.

Di sini bukan mazhab yang empat itu, sobat! Mereka tidak melembaga, tapi mampu bertahan dan mendapat pengikut. Pengikutnya membentuk ciri dan identitas. Dan dia melekat. Pun, mazhab yang melembaga di Indonesia ini. Dia membentuk cirinya sendiri dengan diskursus dan anak pikirannya masing-masing, kemudian disebar, dengan maksud mencari jawaban atas problem umat.

Mazhab-mazhab ini lahir atas desakan dan kebosanan intelektual angkatan 70-an yang gelisah: Nurcholis Madjid, Dawan Raharjo, Mukti Ali, Amin Abdullah, Fachry Ali, Azyumardi Azra, Machasin hingga Faisal Ismail dengan dua spektrum besar. “Mazhab” Ciputat UIN Syarif Hidayatullah dan “Mazhab” Sapen UIN Sunan Kalijaga. Dari dua spektrum ini juga mampu membentuk jaringan intelektual yang berbeda pula. Anak pikiran “mazhab” Ciputat itu melahirkan “mazhab” Paramadina dengan segala keliberalannya itu.

Jika merujuk pada pendapat Zuly Qodir, sosiolog kenamaan tanah air, bahwa kedua “mazhab” itu memang berhasil membentuk pemikiran Islam yang progresif dan masuk dalam dimensi kehidupan umat yang berbeda. Jika “Mazhab” Ciputat lebih berorientasi pada wacana-wacana Islam dan politik, maka “Mazhab” Sapen berusaha menjembatani diskursus Islam dan kebudayaan.

Pengaruh lingkungan memang tak bisa dikesampingkan dalam pendapat Zuly Qodir ini. “Mazhab” Ciputat yang berlokasi di ibukota negara dengan persepsi politik publik yang sangat tinggi dan pusat kekuasaan mau tidak mau banyak mempengaruhi pemikiran “mazhab” ini. Berbeda dengan “mazhab” Sapen, tempat keraton dan candi sebagai pengejawantahan agama dan budaya berdiri. Pun Jogja masih memegang erat akar-akar kebudayaan dan tradisi Jawa dalam kehidupan. Jogja memang tempatnya.

Berbeda jika kita mendasarkan pandangan pada trajektori yang disampaikan oleh Al Makin dalam pidato pengukuhan guru besarnya: Bisakah menjadi ilmuwan di Indonesia? Pada 2018 lalu, isu-isu tentang kebebasan berpikir dan liberalisasi dan semangat pembaharuan Islam lebih didominasi oleh “Mazhab” Ciputat dan isu-isu kerukunan umat beragama tafsir-tafsir keIndonesiaan dengan Mukti Ali sebagai pelopor yang melekat pada jiwa “Mazhab” Sapen.

Pertanyaannya sekarang, jika “Mazhab” Ciputat sudah berhasil melahirkan anak intelektualnya “Mazhab” Paramadina, lalu “Mazhab” Sapen, siapa anak intelektualnya?

Untuk menjawab pertanyaan ini, saya tertarik dengan keterangan Abdul Wahid dalam sebuah public lecture bertajuk Studi Islam Transdisipliner: Integrasi dan Orientasi Keilmuan di PTKI di STIT Sunan Giri Bima tempo hari. Menurutnya, UIN Mataram dengan horison keilmuan yang dengan pendekatan dan pengintegrasian ilmu keislaman dan ilmu-ilmu lainnya, diproyeksikan mampu menciptakan dan menghadirkan solusi bagi kehidupan umat.

Selain itu, jika merujuk pada tradisi “Mazhab” Sapen dengan paradigma dialog antaragama dan pendekatan kebudayaannya terhadap Islam, tidak menutup kemungkinan bahwa Mataram-lah tempat yang cocok. Mataram adalah wilayah central pertemuan tiga wilayah dengan arus utama: Bali, NTB, NTT dan mewakili tiga agama besar: Hindu, Islam dan Kristen. Tentu dengan budaya Islam yang khas pulau Lombok wetu telu yang bisa menjadi riak-riak pengembangan wacana ritus-ritus keagamaan. Dengan begitu, apakah UIN Mataram bisa menjadi salah satu anak intelektual “Mazhab” Sapen?.

Tunggu dulu, tentu itu bukan pekerjaan mudah. Butuh usaha sungguh-sungguh dan tidak main-main. Perlu ada perenungan panjang dan aksi nyata mewujudkan itu. Agar UIN Mataram bisa menjadi anak intelektual “Mazhab” Sapen. Dengan harapan kedepannya bisa menjadi “mazhab” yang mandiri. dan mampu berkontribusi untuk umat di tingkat lokal dan global. Karena pemerataan kualitas pendidikan adalah keharusan dan semangat pemikiran Islam di Indonesia bisa lebih berwarna dengan wacana-wacana dari Timur.

Agar menjadi sempurna kita kasih saja namanya “Mazhab” Dasan Agung UIN Mataram. Atau Mazhab Kalikuma. Jika setuju, aminkan saja.[]

Ilustrasi: pinterest.com

Tinggalkan Komentar

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *