Absurditas dan Obrolan Tahun Baru Islam

WAKTU menunjukkan sekitar pukul 21.30 WIB. Terdengar lantunan murattal khataman al-Quran di akhir tahun kalender Islam di satu masjid dekat rumahku. Nada tartilnya merdu, enak didengar dan menggodaku untuk menyimaknya. Aku hanyut dalam lantunan tartil yang menggema.

Dalam kekagumanku pada kemerduan tartil di masjid, aku tersadarkan kalau muraja’ah al-Quranku hari ini baru 2 juz. Padahal besok aku harus merampungkan rutinitas khatamanku setiap pekan. Aku pikir masih bisa besok untuk merampungkan sisa muraja’ahku untuk khataman.

Saat mau meneruskan muraja’ah, aku ingat besok tahun baru Islam. Aku sempatkan menulis refleksi muhasabah (audit) ini. Biarlah besok aku berjibaku menuntaskan sisa 10 juz agar rutinitas khataman per pekan tidak cacat karena alasan kesibukan.

Ya Allah! Jangan Engkau jadikan aku budak waktu dan kesibukan!

Tiba-tiba aku ingat obrolan ringan dalam suasana keakraban antara dua orang kawan yang sering terlibat seru membicarakan banyak hal, terkadang tidak penting. Dengan sedikit nada iseng, sambil merayakan suasana malam tahun baru Islam, seorang kawan bertanya pada sahabatnya yang lebih berilmu agama. “Siapa yang lebih BAIK di mata Allah? pezina yang menikmati dosanya? atau orang alim yang tekun menjalankan ibadahnya?

Dengan santai sang sahabat menjawab bahwa (a) keduanya baik di mata Allah, dan (b) kalaupun ada kekurangan masing-masing, mereka masih memiliki kesempatan memperbaiki kesalahannya; siapa tahu Allah secepatnya menuntun pezina bertaubat dari dosa-dosanya; dan Allah menjaga sang alim semakin “dawam” (berlanjut), tenggelam dalam ibadahnya.

Sang kawan kembali bertanya kepada sahabatnya; “Siapa di antara pezina dan orang alim tadi yang lebih BURUK, dan lebih BANYAK dosanya?”

Pertanyaan ini membuat sang sahabat terdiam; wajahnya tengadah menatap langit; mulutnya tertutup rapat tanpa kata, dan ada tetes bening meleleh di pipinya. Ada keheningan sesaat dengan penuh tanda tanya.Dalam suasana hening, kalimat sahabat memecah kebisuan. “Kawan! sosok yang lebih buruk dan bertambah buruk, justru, kita sendiri yang membicarakan keburukan orang lain, sementara kita lupa merenung berapa banyak kalkulasi dosa dan kesalahan yang tidak kita sadari, karena kita sibuk membicarakan aib, keburukan, dan dosa orang”.

Ya Allah! kenapa mulut kami latah rajin membicarakan keburukan-kekurangan orang lain, sementara kami sendiri lupa terhadap keburukan-kekurangan, dan dosa-dosa kami?

Ya Allah tuntunlah kami, di awal tahun Islam ini, untuk menyadari segala keburukan dan dosa-dosa kami; agar kami menyibukkan diri untuk melakukan muhasabah terhadap kinerja (prestasi-kegagalan) ibadah kami.

Ya Allah, Dzat yang Maha Penyayang! kami adalah hamba-hamba-Mu yang malam ini tengah memohon ampunan-Mu; kami mengakui (i’tiraf) banyak dosa kami, maka jangan Engkau siksa kami, karena Engkau adalah Dzat yang Maha Pengampun-penyayang, dan membenci siksa.

Ya Allah! Wajah kami menatap-Mu penuh harap dalam keheningan malam ini, maka, jangan biarkan batin kami tersiksa dengan kegalauan akan dosa-dosa kami.

Ya Allah! bisikanlah dalam setiap detak jantung kami kerinduan untuk mengingat-Mu dalam dzikir.

Ya Allah, kalau hari-hari ibadah kami di tahun ini belum optimal, maka, tuntunlah, dan kuatkan tekad kami untuk menjaga keberlanjutan prestasi ibadah kami.

Ya Allah! Tidak ada kesempurnaan dalam hidup kami, selain keridloan-Mu yang membuat kami merasa bermakna dan damai meninggalkan setahun usia kami di tahun ini; dan membuat kami optimis menatap hari-hari kami yang semakin sulit karena himpitan Covid-19 dan tekanan ekonomi.

“Wahai Tuhanku, Engkaulah tujuan hidupku, dan ridlo-Mu yang kucari”. Jangan biarkan kami terjebak dalam hampa saat bermunajat memohon ridlo-Mu.[]
Ilustrasi: haibunda.com

1 komentar untuk “Absurditas dan Obrolan Tahun Baru Islam”

  1. Assalamualaikum wrwb. Saya menikmati tulisan ini, Ust Nuryamin Aini. Terima kasih. Tetiba ana ingat kehangatan kelas Orientalisme yang antum ampu 25 tahun lalu, di kelas PA Fak Syariah, IAIN Ciputat

Tinggalkan Komentar

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *