Kampus Baru dan Pembangunan Daerah

INI SEKEDAR coretan hati. Sekedar catatan ringan. Sebagai tanda bahagia seorang anak negeri.

Beberapa langkah lagi insya Allah kampus IAIN Bima terwujud. Semua senang. Kita berharap jadi jalan bangun Bima-Dompu.

Beberapa pihak kerja keras. Regulasi disisir, syarat-syarat disiapkan. Mereka berkolaborasi. Mereka kerja cepat, ngebut untuk segera wujudkan mimpi bersama.

Bila ini terwujud, capital outflow ditahan, capital inflow berpeluang mengalir. Dunia usaha tumbuh. Bila ada seminar nasional/internasional bakal undang orang masuk. Hotel kebanjiran, oleh-oleh pun demikian. Itu bila tidak ada Covid-19.

Tentu perlu disisir berbagai hambatan. Supaya lebih mulus jalan. Kendala Bisa diantisipasi dini, bila dirasa perlu.

Eksistensi kampus tidak saja bicara gedung dan kurikulum. Ada bisnis di dalamnya. Ada kompetisi juga. Kampus yang baik tidak saja bagus gedung dan kurikulum, namun juga harus “ada mahasiswanya”.

Kampus kekurangan mahasiswa itu ada. Bahkan kampus negeri juga begitu. Prodi sepi peminat. Yang ngajar profesor tiga, mahasiswa cuma lima. Prodi kurang diminati.

Baca Juga: Pendirian IAIN Bima dan Multikulturalisme Indonesia Timur

Menyiapkan kampus unggul tentu dengan mengerti minat pasar. Lagi-lagi, kampus yang bagus itu yang ada mahasiswanya.

Lebih-lebih saat ini. Orang anggap kuliah untuk dapat kerja. Padahal tidak mesti begitu. Teman saya belajar ekonomi pembangunan malah sukses bisnis. Padahal matakuliah bisnis cuma dapat 3 SKS. Itupun pengantar.

Minat belajar orang Bima-Dompu jangan ditanya. Tapi, kuliah juga karena ingin ngerantau. Bukan sekedar dapat ilmu. Ke Jawa kuliah swasta, padahal di Bima juga ada kampus swasta. Akreditasi juga bagus. Katanya atmosfir beda, pengalaman beda. Ilmu mah sama di mana-mana.

Bila dibuatkan atmosfir kaya kota-kota pendidikan tentu lebih baik. Ada jam belajar, ada Kampung Pare, banyak lomba ilmiah, pegelaran seni dan seterusnya. Tentu Pemda punya peranan. Juga komunitas-komunitas masyarakat. Semua perlu duduk bareng!

Hastag Gerakan kuliah di kampung sendiri saya kira perlu dibangun. Di samping kurikulum sesuai kebutuhan. Pemda perlu pikirkan untuk beri beasiswa anak-anak Bima, yang kuliah di Bima. Itu sebagai pemicu. Alasannya, supaya uang berputar di sini. Orang tua tidak kirim uang keluar.

Bila segala urusan administrasi beres persoalan pasar perlu dapat perhatian. Anak Bima baru tamat harus mau sekolah di IAIN Bima. Bahkan anak-anak di negeri seberang harus diajak sekolah di IAIN Bima. Saya yakin, masalah ini sudah masuk radar tim pembentuk. Insya Allah.

Semoga ikhtiar besar ini tidak ada halangan. Semoga Bima semakin maju dengan hadirnya kampus negeri. Maju pendidikannya, maju budayanya, maju pula ekonominya. Walahu’alam.

Ilustrasi: siedoo.com

Tinggalkan Komentar

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *