Tatkala al-Aqsha Diganggu Kewibawaannya

MASJID AL AQSHA salah satu masjid ternama di bumi Palestina. Menjadi salah satu masjid yang diabadikan namanya oleh Tuhan didalam firmanNya dan sekaligus ikon dari kisah perjalanan penting dalam peristiwa bersejarah yang dialami nabi kita Muhammad SAW yakni Isra’ dan Mi’raj. Begitu mulianya masjid al Aqsha, Tuhan menjadikannya rute penting dari perjalanan kenabian Muhammad SAW.

Pertanyaan kita, ada apa dengan masjid al Aqsha sehingga kaum Yahudi (Israil) begitu kuat untuk ingin menguasainya? Apakah Yahudi mengetahui rahasia yang tersembunyi didalam firman Tuhan tentang masjid al Aqsha? Ataukah Yahudi hanya sekadar ingin melihat respon umat yang didalam kitab sucinya ada nama masjid al Aqsha?

Kemudian ada juga pertanyaan yang nyeleneh dari beberapa gelintir umat, Mengapa Tuhan tidak memperlihatkan kekuatan, kekuasaan, dan keberpihakanNya dalam menyelamatkan masjid al Aqsha dari kaum zionis Israil yang sombong lagi arogan?

Tulisan ringan yang hadir di hadapan pembaca ini hanya untaian hikmah, tidak berbicara sejarah dan konten pertikaian antara Israil, Palestina, dan Masjid al Aqsha.

Kita boleh saja penasaran dan melempar beberapa macam pertanyaan, akan tetapi jangan sampai berburuk sangka terhadap Tuhan atas apa yang terjadi dan menimpa kita di bumi. Kalau Tuhan berkehendak, jangankan bumi Israil dan penghuninya, dunia ini bisa Tuhan lipat dalam waktu sekejap. Akan tetapi pernahkah kita menyadari dan menanyai keberadaan dan andil kita terkait dengan pristiwa Al Aqsha yang tidak pernah selesai?

Bisa jadi Tuhan memang sengaja menyediakan Baitul Maqdis (Al Aqsha) dan tanah Palestina sebagai suatu tempat untuk kita Berjihad yang sesungguhnya. Atau Tuhan ingin melihat dan memilah posisi hambaNya sesuai keberpihakannya dalam menyikapi peristiwa al Aqsha. Kita masih ingat pada aksi seekor semut membawa setetes air untuk memadamkan api yang membakar Nabi Ibrahim. Dan semut pun dicemooh oleh cecak, “Wahai semut, mungkinkah setetes air yang ada di mulutmu akan mampu memadamkan kobaran api yang sangat besar itu?”. Semut dengan yakin menjawab, “Setetes air itu memang tidak berdampak apa pun, tetapi paling tidak Tuhan telah melihat keberpihakanku kepada yang benar.”

Itulah i’tibar bagi kita untuk menjadi pelajaran penting terutama didalam menyikapi keadaan Al Aqsha yang diganggu kewibawaannya di tanah Palestina.

Dari i’tibar di atas setidaknya kita harus dapat mengambil posisi yang tepat dalam mengambil bagian pada barisan Jihad yang dapat menentukan keberpihakan kita kepada yang benar sesuai kapasitas diri masing-masing. Bisa saja kita mengambil bagian pada posisi Jihad jiwa dan raga, bisa juga jihad dengan harta, bisa berjihat lewat do’a, sangat mungkin berjihad dengan hati, dan sangat terbuka untuk dapat berjihat melalui tabligh atau ajakan memberi semangat melalui mimbar-mimbar dakwah.

Berjihad dengan jiwa dan raga akan mungkin untuk diwujudkan bagi yang memiliki kapasitas untuk terjun di medan pertempuran seperti prajurit yang memang dipersiapkan untuk mengawal dan mengamankan situasi di lokasi bersama orang-orang yang mendiami bumi Palestina. Bagi yang tidak memiliki kapasitas untuk bertempur, dapat menempuh jihad melalui bidang yang lain, dengan harta misalnya melalui penyaluran donasi yang sudah banyak tersebar melalui media sosial, jangan ditakar jumlahnya tetapi yang terpenting adalah aksi untuk ambil bagian dalam donasi seberapapun angkanya.

Disamping itu bisa melalui do’a dan hati bagi yang tidak memiliki kemampuan berjihat lewat jiwa, raga, dan harta. Do’a yang tulus dan fokus dipanjatkan khusus untuk keamanan Al Aqsha dan sekitarnya disertai hati yang bersih akan menggetarkan langit untuk mendapat inayah dari Tuhan dan makhluk langit.

Bagi yang memiliki kemampuan bertabligh dapat melakukan jihad melalui pemberian motivasi-motivasi imani untuk menggerakkan hati, pikiran, dan kemauan kaum mukmin untuk sedapat mungkin mengambil bagian pada posisi jihad yang sesuai dengan kapasitas dan kemampuan yang dimilikinya.

Tuhan kiranya akan enggan untuk menolak ketulusan dan keikhlasan hambaNya jika secara bersama-sama berjihad dari berbagai lini sesuai kompetensi dan kapasitas masing-masing. Dalam kelompok orang-orang beriman yang taat, ada keyakinan tentang komitmen Tuhan, “Yadullah fauqal jama’ah” Pertolongan Tuhan akan diberikan kepada hamba yang berbuat kebaikan secara berkelompok (berjamaah). 

Jika seluruh umat mukminin menengadah ke atas mengadu dengan sungguh-sungguh kepada Tuhan semesta alam dengan dukungan harta dan tenaga bagi yang memiliki kesanggupan, niscaya Tuhan akan melihat betapa Al Aqsha itu menjadi bagian penting bagi keyakinan kaum mukminin. Saat ini kita akui saja bahwa belum semua kaum mukminin mengambil bagian menempatkan keberpihakannya kepada pengakuan bahwa al Aqsho memang memiliki nilai yang sangat penting.

Tuhan berjanji dalam sebuah hadits qudsi bahwa kebenaran yang diusung secara bersama-sama dalam jumlah besar akan menjadi garansi bahwa sikap penduduk bumi akan diterima Tuhan menjadi persaksian yang benar. “Antum syuhada Allah fil ardhi”, Kamu sekalian menjadi saksi Allah di muka bumi.[]
Ilustrasi: aqshainstitute.org

Tinggalkan Komentar

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *