Ketika Idola-Fans Bertemu, Diskusinya Asyik Biarpun Pesannya Berat

Dr. TGH. Muhammad Zainul Majdi, Lc, MA. itu fenomenal. Populer dengan sebutan Tuan Guru Bajang atau disingkat TGB. Ia menjadi gubernur pada usia muda, 36 tahun. Pada 2008, ia berhasil mendapat rekor MURI untuk gubernur termuda di Indonesia. Menjabat dua periode, sampai 2018.

Sebelum gubernur, ia jadi akademisi cum muballigh. Ia juga nyambi jadi politisi. Pernah menjadi anggota dewan di Senayan. Saat itu usianya lebih muda lagi. Setelah selesai sebagai gubernur ia kembali ke kampus. Jadi pengajar dan melanjutkan jalan dakwah di Nahdlatul Wathan.

Dakwahnya menggema di pelosok Nusantara. Ia safari ke mana-mana. Bahkan sampai luar negeri. Ia ngeluruk ke pusat-pusat ilmu agama dan dakwah di Jawa, Sumatera, Kalimantan, Sulawesi, dan wilayah lain di timur Indonesia. Dari Lombok untuk Indonesia. Ibarat air, mengubah arah, dari hilir ke hulu.

TGB serta-merta jadi idola lain kalangan muslim milenial. Anak-anak muda, terutama kalangan santri, begitu kepincut. Gaya dakwahnya memang artikulatif. Anak saya yang nyantri di Jawa memberi kesan, “TGB kalau ceramah hanya senyum yang tak tampak gigi. Saya lebih suka begitu, daripada dakwah ketawa-ketawa.”

Anak saya itu contoh pengagum TGB. Ia baru saja jadi alumni pesantren, menjadikan TGB the top three dari idolanya, setelah Hamka dan Qurays Shihab (QS). Ketiganya jago tafsir Indonesia dari generasi berbeda, yang tua mempengaruhi yang muda. Mereka otoritas influencer bagi kemusliman di Indonesia untuk generasi masing-masing.

Ketiga tokoh itu al-Azhar punya cerita. Universitas tertua dan ternama di Kairo, Mesir itu. TGB dan QS kuliahnya di sana bidang tafsir, sementara Hamka dianugerahi gelar Doktor Honoris Causa oleh universitas itu karena kiprah dan karyanya Tafsir al-Azhar yang monumental.

Anak saya kenal ketiga tokoh itu dari karya dan biografi mereka. Juga dari medsos. Ujung-ujungnya ia ngefans. Terutama kepada TGB.  Ya karena mudanya. Ya karena kedekatan sesama NTB. Maka salah satu nazarnya sowan ke TGB jika lulus tes untuk kuliah ke al-Azhar.

Ternyata ia lulus, seperti 1.500-an anak muda muslim lainnya di Indonesia. Ia ingin ikuti jejak TGB, kuliah S1, S2, dan S3 di al-Azhar, tanpa putus. Kepada TGB ia ingin minta dido’akan. Apatah lagi kepada alim macam TGB atau Syuriyah NU, kepada pelepas kuda di pacuan pun ia minta berkah do’anya supaya kelak ia bisa jadi ustad.

TGB senang kedatangan tamu seorang anak muda santri ini. Karena anak muda ini bakal jadi salah satu pelibat kajian agama di kemudian hari. Maka kepadanya perlu diberi pencerahan sejak dini, agar nanti tidak tersesat di tengah rimba ilmu. Supaya “terjerumus” ke jalan yang benar.

“Beri saya nasihat dan motivasi, Tuan Guru,” pinta sang santri. Seperti seorang murid kepada  mursyid. Sang Tuan Guru pun menulis sesuatu di lembaran buku tentangnya, lalu memberikan sebagai hadiah kepada sang murid. Sang murid mengeja “Innamal ilmu bitta’allumi.” Ilmu itu diraih dengan belajar.

“Ya, Itu kunci!” cetus sang Kiai sembari menepuk pundak sang santri. Yang ditepuki sumringah senyumnya. Bersorak hatinya. Berkata hatinya: Aku dapat kunci! Ya, kunci! Akan kubuka pintu-pintu ilmu yang rapat!

Sang Guru segera menyela, seperti dapat membaca pikiran sang murid. “Tapi fokus. Tidak semua ilmu bisa antumpelajari. Ilmu yang dicari yang sesuai kebutuhan masyarakat. Tantangan masyarakatmu apa, mereka perlu apa. Ilmu juga harus jelas sanad-nya. “Itulah mengapa antum nyantri di al-Azhar.”

Antum mau pilih jurusan apa?”

“Syari’ah Islamiyah, Tuan Guru” jawab sang santri. “Jika tidak, maka Ushuluddin, bukankah di situ letak ilmu tafsir-hadis, ilmunya Tuan Guru?”

“Nanti, belajarlah mendalam mengenai Maqashid,” kata Tuan Guru. Maqashid itu tujuan hukum syari’ah, yakni lima azas: menjaga jiwa, menjaga agama, menjaga akal/ilmu, menjaga harta, dan menjaga keturunan. Konsep ini dicetus oleh al-Syatibi, ulama abad 8 H asal Andalusia, Spanyol itu. Masih menjadi diskusi hangat sampai sekarang.

“Belum cukup,” sambungnya. “Masih harus paham tentang fiqh Mashalih atau mashlahah, ialah kemanfaatan (umum) suatu format hukum. Juga fiqh dampak atau madharat, keburukan yang timbul akibat ada atau tidaknya suatu hukum.”

Sang santri mengerutkan dahi. Tanda ia berpikir.

“Memang ini soal rumit,“ sambung Tuan Guru. “Itulah mengapa antum harus sekolah tinggi-tinggi, biar ada yang memikirkan ini semua.”

Sang santri mengangguk. Tanda ia paham.

“Nanti antum perlu bekal lain: sosiologi, antropologi, psikologi dan ilmu-ilmu sosial lainnya. Perlu juga antum nanti dalami ilmu-ilmu dari Barat. Agar ilmumu tidak melulu normatif. Agar tidak ekslusif.”

“Nanti baca juga buku-buku sastra dari para peraih nobel. Sebanyak-banyaknya. Juga buku-buku babon dan monumental dari penulis-pemikir dunia. Dari dunia Islam maupun bukan. Di sana datang banyak penulis dan profesor terbaik dari berbagai universitas dunia. Temui dan bergaullah dengan mereka.”

“Nanti antum kuasai juga ilmu-ilmu alat seperti Nahwu-Shoraf, Balaghah, dan Mantiq. Supaya antum artikulatif saat pulang nanti.”

“Bagaimana artikulatif itu, Tuan Guru?” tanya sang santri, menghela nafas. Hanya pertanyaan kecil untuk ber-alibi dari berondongan nasihat.

“Segala pembicaraanmu, baik tulisan maupun lisan, harus bisa dipahami oleh orang-orang yang menjadi audiensmu.“

“Tapi nanti antum tidak boleh lebih banyak bicara. Harus sering-sering mendengar. Supaya antum tidak salah dalam membaca pikiran dan realitas umat. Supaya tepat tawaran solusimu untuk umat. Umat kadang sudah jenuh dengan bicara yang banyak.”

Sang santri mengkerut dahinya kembali.

Tuan Guru memberondong terus. “Antum mulai sekarang berniat untuk mengabdikan ilmu untuk orang-orang yang yang ada dalam jangkauan. Jadi cendekia untuk masyarakatmu. Pulanglah nanti setelah selesai. Bangun masyarakat!”

“Jika niatmu begitu, maka seremeh burung pipit pun antum ada di rimba ilmu, akan jadi garuda juga di medan pengabdian.”

Baca Juga:


Sang santri lebih banyak diam. Ia menyimak. Ia takjub. Ia antusias. Tetapi ia juga tampak khawatir. Memikirkan akan menjalani hari-hari berat.

“Mohon do’a, Tuan Guru,” pintanya. Tuan guru lalu angkat kedua tangannya, Berdoa.

Sepulang dari sowan, sang santri lebih banyak diam. Ia merenung. Tapi wajahnya lebih cerah.

Suatu hari, Sepia, penjual sayur keliling menangis sesenggukan. Katanya ia barusan ketemu sang santri yang barusan sowan ke Tuan Guru.

“Mengapa menangis, Sepia?” tanya ibu sang santri.

“Saya terharu, Bu, merasa jadi orang saleh. Karena seumur hidup baru sekarang ada yang nitip do’a lewat saya. Wali minta doa kepada saya agar cita-citanya jadi ustad dimudahkan.”

Duuh! Mungkin Wali, sang santri itu, ingin dengar jawaban “meringankan” dari Sepia. Misalnya, “Ah, gampang jadi ustad, seenteng keliling kampung!”

Atau diam-diam Sepia-nya yang ngefans TGB, dan mau komplain, “Ketemu TGB kok ndak ngajak-ngajak? Nanti kalau ketemu lagi mintakan do’anya ya, agar penjual sayur naik haji!”[]

Ilustrasi foto: Ardhy Sarjan

Tinggalkan Komentar

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *