Terbitnya Guru Kampung

HAJI Harun adalah salah seorang perintis kampung Panggi di Kota Bima. Konon, kampung Panggi awalnya terletak di dataran tinggi sebelah timur Kota Bima, sekitar Oi Fo’o, Kadole, dan Nitu. Karena gerak bertani, orang-orangnya turun ke daerah lembah. Setelah menemukan tempat tinggal yang baik untuk kehidupan, maka penduduk yang masih tinggal di pegunungan dipanggil ke bawah untuk ikut membangun pemukiman baru, ya Panggi sekarang ini.

Fersi lain tentang asal-usul orang-orang di kampung ini mengatakan bahwa sebagian mereka dari Ndano Naé, dataran tinggi sebelah utara Kota Bima, mereka di”panggil” oleh pihak istana untuk turun lebih ke selatan memenuhi kebutuhan akan “dari” (tukang) yang mengurus perkudaan kerajaan. Menurut orang-orang Panggi, itulah mengapa kampung ini dinamai Panggi, dari kata “panggil” (Bahasa Melayu yang saat itu mulai digunakan oleh Dou Mbojo).

Haji Harun bukanlah ulama. Ulama adanya di istana saat itu. Ia seorang pedagang ternak, khususnya kerbau dan kuda. Orang-orang Panggi memang dikenal sebagai tukang kuda pilihan. Kuda-kuda istana bernama Manggila salah satu sampandi (tempat mengikat)-nya ada di Panggi. Dalam perdagangan kuda dan ternak ini, Haji Harun merambah sampai wilayah Donggo. Itulah yang membuatnya menjalin persaudaraan dengan tetua-tetua dari Donggo seperti Ompu Mpeke dan orang-orang di kampung Sarita dan Kananta. Persaudaraan yang diwariskan sampai sekarang kepada generasi keturunannya.

Ayahnya, Haji Sariwu (Sarifuddin, hidup sekitar akhir abad 18 atau awal abad 19) adalah pemotong mata rantai Parafu-Hinduisme (agama lokal). Ia menjadi pionir keislaman di kampung Panggi. Ia dan putranya lalu menziarahi Ka’bah untuk memperoleh gelar Haji di depan namanya. Haji Harun pun menjadi otoritas keagamaan di kampung. Ketika organisasi Nahdlatul Ulama sampai ke Bima, ia menjadi salah seorang yang aktif menjadi anggotanya. Kartu keanggotaannya masih tertulis dalam ejaan campuran Belanda dan Arab-Melayu. 

Putra sematang wayangnya, Sama’i ama Su (Haji Ismail) adalah petani yang membuka lahan di sekitar Oi Si’i dan Tolo Mango di Rontu. Di dokumen pengurusan haji yang pernah saya bongkar, ia lahir di kampung Dara. Bisa jadi ia dan bapaknya tinggal di Dara (kampung sawah) untuk pekerjaannya sebagai petani sekaligus pedagang hasil pertanian, membuka lahan baru dan mengembangkan pertanian ke perdagangan.

Karena bukan ulama, ia tidak mewariskan kitab-kitab. Yang ada di rumah peninggalannya hanya perangkat-perangkat perang zaman dahulu, seperti anak meriam, pedang, tombak, dan peti. Konon, peralatan perang itu warisan Jena Bedi Sono, leluhur mereka yang menjadi komandan tentara kavaleri kerajaan Bima tempo dulu. Nanti, cucunyalah yang memulai tradisi intelektual Islam di kampung, dengan praktik ngaji kitab dan koleksi perpustakaannya, oleh-oleh dari nyantrinya di Tebuireng, Jombang.

Baca juga:

Jaringan Intelektual Pesantren

Cucunya, H. Mansur, pergi ke Jombang pada periode 1951-1953 untuk menjadi santri di Pondok Pesantren Tebuireng. Saat itu pesantren rintisan KH. Hasyim Asy’ari ini dipimpin putranya KH. Abdul Wahid Hasyim, tokoh Masyumi dari sayap NU. Belum jelas benar apakah kepergiannya ke Jombang bagian dari projek intelektual Sultan Salahuddin di bawah bendera Madrasah Darul Ulum atau PIB yang didirikannya dengan mengirimkan para pebelajar Bima untuk menuntut ilmu keluar daerah, bahkan sampai ke tanah Hijaz (Makkah dan Madinah).

Cerita yang jelas, bahwa Haji Harun ketika wafat meninggalkan warisan yang cukup, dan dengan itulah anaknya memberi pilihan kepada kedua cucunya untuk pergi haji atau sekolah keluar. Cucu yang satu memilih pergi haji, walau dalam usia belia, karenanya dipanggil Abu To’i (haji kecil), kelak menjadi Imam Masjid Panggi. Sementara cucunya yang lain (Haji Mansur) memilih merantau ke Jawa Timur untuk menjadi santri di Jombang.

Di Jombang, Haji Mansur menjalani hidup menjadi santri, mendalami kitab-kitab kuning, berlaku tirakat-prihatin, juga belajar tarekat. Kitab-kitab tasawuf rumpun karya al-Ghazali-an dan rumpun Ibn Arabi-an masih tersimpan rapi di lemarinya. Termasuk kitab babon Syamsul Maárif al-Kubra karya al-Buni yang terkenal itu. Dalam perjalanan pulang ke kampung, ia mampir di Surabaya untuk sempatkan kursus mengetik di Jacob College, Tanjung Perak.

Mengabdi kepada guru adalah ajaran yang diwariskannya dari kitab Ta’lim al-Mutaállim, karya Syeikh al-Zarnuji yang masyhur di kalangan santri itu. Hal yang sering diceritakannya adalah menggendong Gus Dur kecil yang suka main di teras pesantren. Sampai-sampai untuk mengenang gurunya, anaknya diberi nama persis nama guru/kyainya. Anaknya yang lain lagi diberi nama Subhan, replika nama tokoh politisi muda NU yang cemerlang waktu itu, Subhan ZE.

Semua kitab yang pernah dipelajari dan dibelinya di Tebuireng dibawa pulang ke Bima, sampai sekarang masih tersimpan rapi di lemari bukunya di SambinaE, Kota Bima. Buku-buku penebar semangat revolusioner, seperti Api Islam-nya Syed Ameer Ali, Durratun Nashihin, dan kitab shirah Hayatu Muhammad, juga “diselundupkan” ke Bima.

Berbekal kitab-kitab itulah, dan sebuah sancaka (rumah panggung kecil), sepulang nyantri, tahun 1953, ia mendirikan sekolah Islam di Panggi untuk pengajaran Bahasa Arab, kitab-kitab dasar/standar pesantren, fiqh dan akhlaq. Kelak, sekolah itu berpindah ke kampung sebelah barat dan menjelma menjadi Madrasah Ibtidaiyah (MI) SambinaE, kelak beralih pengelolaannya kepada Yayasan Islam Bima. Dokumen tentang proses pendirian sekolah ini masih tersimpan rapi di sela-sela kitab yang teronggok rapi di lemari peninggalannya.

Di samping sebagai guru fiqh pada sekolah agama modern (MTsN) di Kota Bima, ia juga membangun “embrio” pesantren di rumahnya. Kolong rumah panggung 12 tiang dari jati disulap jadi asrama “santriwan” sedang lotengnya bagi “santriwati”. Rumah itu menjadi ruang publik bagi bertemunya kader-kader agama dari kalangan muda di kampung. Kebanyakan mereka adalah para pegiat al-Qurán (qori dan qoriáh). Untuk peran ini ia berbagi dengan gurunya Lebe Haji Abdullah dan yuniornya Haji Husain dan Haji Hasan, juga kolega dan murid-muridnya serta Guru Ngaji kampung yang legendaris Ompu Beko (Abubakar).

Tradisi dan pengabdian keilmuan ini terus berlangsung di kampung. Ketika ia menjadi lebe menggantikan Lebe Haji Abdullah (Abu Lebe), di rumahnya diadakan halaqah, sebuah model majlis ilmu wahana ia membuka kembali kitab-kitab di lemarinya untuk ditularkan kepada tokoh-tokoh keagamaan lain di kampung, Bahkan gelarang (kepala desa) dan tokoh=tokoh kampung dari kalangan nasionalis-sekuler sering menjadi peserta aktif yang kritis.

Tradisi keilmuan itu menemukan manifestasinya lagi ketika organisasi Ittihad al-Muballighin yang digerakkan oleh para tokoh NU Bima melakukan safari dakwah keliling kampung. Kalau sudah ditunjuk menjadi tuan rumah maka Haji Mansur biasanya mengumpulkan kembali tokoh-tokoh di kampung untuk membuka lagi kitab-kitab yang ada di lemarinya dan membahasnya bersama. Ini dilakukannya untuk mempersiapkan mereka yang nanti akan jadi audiens bagi mubaligh dari luar yang akan datang ke kampung.

Begitulah cara ia membekali orang-orang yang ada dalam jangkauan tanggungjawabnya untuk terlibat dalam majlis ilmu yang lebih bermutu. Itu juga proses terbentuknya dialog intelektual ala kampung antara berbagai “ideologi” sosial yang berlainan.

Selamat Hari Guru!

Tinggalkan Komentar

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *