Jatuh-bangun Etos Intelektual-Ulama dan Gerakan Kultural yang Bisa Dilibati

ULAMA di sekitar kita semakin hari semakin langka saja. Satu demi satu para cerdik pandai dan pemeduli agama meninggalkan kita. Beberapa memang masih hidup, tetapi karena umur sudah semakin tua, mobilitas, daya jangkau, dan artikulasi dari yang tersisa itu tidak seperti dulu lagi, sudah jauh berkurang.

Jika pun ada yang masih fresh, maka kuantitasnya tak sebanding dengan realitas umat yang problemnya semakin menumpuk dan dinamikanya kian kompleks.

Sementara itu, gelombang ulama muda pengisi kekosongan tak kunjung datang. Ada, sih, gelombang, tapi itu gelombang lain berupa kelimpahan orang yang merasa pandai tetapi membodoh(i)kan orang lain.   

Yang terjadi adalah kesenjangan generasi ulama yang sangat lebar. Ada memang kelas menengah muslim yang kuat, tapi visi keulamaan mereka tidak tampak. Mereka rata-rata adalah para birokrat keagamaan. Mereka lebih suka mengidentifikasi diri sebagai birokrat daripada sebagai ulama.

Ini suatu simptom masyarakat baru yang telah dikotak-kotakkan oleh hiruk-pikuk gelombang peradaban. Suasana ini tidak melahirkan generasi intelektual Muslim seperti para cendekia tempo dulu, yakni mereka yang memiliki dua mata pedang, ulama sekaligus umara (birokrat).

Baca Juga: Perkenalkan: Dakwah Organik!

Tentu ada masalah di balik kesenjangan ini. Jika dirunut akar-akarnya, maka bisa diidentifikasi, antara lain soal keterlambatan – bahkan kemandegan – regenerasi ulama. Kebuntuan regenarasi ini terjadi karena beberapa hal. Pertama, ulama generasi tua kehilangan momentum untuk membimbing yang muda. Selama ini, yang memiliki panggung dan mimbar adalah para ulama tua, sementara yang muda amat sulit mengaksesnya.

Atmosfir paternalisme masih sangat tebal menyelimuti jagat pembinaan umat. Tapi kondisi ini bukan semata-mata disengaja adanya. Paternalisme adalah budaya, yang terbentuk tanpa disengaja dan membongkarnya perlu waktu. Maka kelalaian kaum tua menggembleng yang muda juga bukan disengaja.

Di sisi lain, faktor kedua, kaum muda memiliki keterbatasan artikulatif dalam hal tampil di depan publik. Di tengah banyaknya tamatan IAIN/UIN atau perguruan tinggi keagamaan Islam (PTKI) yang pulang kampung, keadaan ini menjadi ironi. Betul bahwa PTKI dengan paradigmanya yang sekarang bukanlah pencetak ulama melainkan penghasil pekerja di bidang agama, atau pekerja yang agamis, tetapi itu sebenarnya modal sosial yang sangat bagus. Tetapi Kementerian Agama,  MUI, ormas keagamaan tidak berbuat maksimal untuk mengelola modal itu dengan baik.

Semakin tidak singkron lagi, jika kenyataannya kaum muda memiliki orientasi, gaya, dan cita rasa sendiri dalam berkomunikasi dengan umat, yang karena semangat zamannya, berbeda dengan generasi tua. Tidak seperti tetua mereka dulu, para potensial ulama muda kehilangan etos keilmuan dan pengabdian.

Mereka yang muda ini tidak lagi akrab dengan tradisi halaqah, menggali dan mengelaborasi ilmu agama di kalangan mereka. Jarang orang muda bersilaturrahmi kepada para ulama atau tetua untuk menyerap ilmu, kearifan, dan keteladanan. Tradisi sowan atau ngelmu sudah tiada lagi. Mereka sibuk atas klaim mereka sendiri bahwa umat memerlukan acuan lain yang aktual, tetapi mereka tidak kunjung menemukan alternatifnya.

Baca Juga: Syaikh Abdul Gani al-Bimawi, “Maha Guru” Ulama Nusantara

Sekarang, kita bisa mulai dengan membangun kembali etos dan tradisi intelektual di kalangan ulama muda. Perlu intervensi rekayasa sosial. Modal sosial berupa ketersediaan para sarjana dan magister agama, perlu dikelola dan ditransformasikan dalam bentuk komunitas-komunitas. Dari komunitas ini akan terbentuk gerakan intelektual yang dengan sendirinya bisa menggerakkan regenerasi yang macet tadi.

Komunitas ini bisa mengambil bentuk halaqah sebagai basis penggodokan dan pengembangan kapasitas intelektual. Halaqah juga bisa menjadi wahana analisis sosial dan perumusan langkah-langkah strategis pembinaan umat. Sambil memperkuat komunitas ini, jejaring global pun mesti diretas untuk menciptakan koneksi keumatan yang lebih luas. Dengan koneksi ini umat di tingkat lokal tidak merasa sendirian melainkan kosmopolit, merasa menjadi bagian dari warga global.

Gerakan ini, katakanlah gerakan ulama muda, tidak perlu struktural, karena nanti terjebak lagi pada institusionalisasi yang lebih cenderung mengekang daripada membebaskan. Tidak perlu juga kelompok ini masuk ke ormas-ormas Islam yang sudah mapan tapi rigit, kecuali dengan masuknya mereka ada jaminan perubahan. Kalau tidak, pasti terjebak sebagaimana lazimnya pada politik dan kerumitan identitas.

Pola gerakan ini kultural-intelektual. Perannya melakukan transformasi keilmuan ke dalam praksis-praksis. Mereka ini bisa merancang penguatan internal, sambil sesekali menggelar panggung untuk speak out, sosialisasi diri ke tengah umat. Mereka juga bisa menggelar tikar pelayanan umat dengan hal ini.

Sudah banyak praktik baik yang bisa menjadi inspirasi gerakan ini. Ada banyak kelompok pelibat gerakan kultural ini yang terbentuk dengan solid, dengan kapasitas yang tidak saja menjangkau secara lokal bahkan lebih luas lagi.

Geliat gerakan sosial dan keagamaan di tingkat lokal menunjukkan tanda-tanda dinamis. Geliat ini tumbuh bersamaan dengan riak-riak perliterasian. Meski belum jelas benar apakah literasi mempengaruhi gerakan sosial-budaya-agama atau sebaliknya, yang jelas keduanya berkait kelindan. Lebih jelas lagi bahwa gerakan intelektual sedang bersemai, terutama di kalangan muda. Mereka meretas hubungan antara literasi dengan soal-soal lingkungan, sosial, budaya, ekonomi (kreatif), bina damai, dan sebagainya. Artinya, sudah ada tandanya aksi-aksi sosial berawal dari refleksi teoretik.

Pemerintah, tentunya, sebagai otoritas penggerak partisipasi masyarakat, kiranya melihat ini sebagai potensi untuk mengembangkan masyarakat belajar (learning society). Masyarakat berbasis pengetahuan ini pada gilirannya nanti akan memicul lahirnya basis-basis peradaban, semacam smart city sebagaimana diidamkan masyarakat kita. Adapun masyarakat sipil bisa mengisi gap yang tak tergarap pemerintah dengan cara kerjanya sendiri namun sinergis.[]

Ilustrasi: Abdul Wahid

1 komentar untuk “Jatuh-bangun Etos Intelektual-Ulama dan Gerakan Kultural yang Bisa Dilibati”

Tinggalkan Komentar

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *