Perkenalkan: Dakwah Organik!

ISLAMISASI pada masyarakat Muslim Nusantara sudah berlangsung sangat lama, sejak masa pra kolonial sampai kolonial (sebagian berbarengan dengan era kesultanan). Selama periode itu Islamisasi digencarkan secara struktural. Kecuali Islamisasi Jawa yang cenderung mengambil strategi kultural yang berliku-liku.

Pola Islamisasi struktural itu mengental sampai sekarang sebagai arus utama dakwah Islam. Kecenderungannya formalistik. Di kebanyakan tempat dakwah digerakkan melalui jalur formal, oleh lembaga formal, dengan subjek da’i formal (berlabel), materi formal (soal agama), audiens formal (muslim beridentitas), dan dengan cara atau media formal (mainstream).

Bukan dakwah namanya kalau yang melaksanakan bukan lembaga atau orang Kemenag, MUI, atau Ormas-ormas Islam. Bukan dakwah kalau yang terlibat bukan ulama atau muballigh, kalau isinya tentang non-agama, kalau sasarannya bukan penghuni masjid, kalau bukan dengan cara tabligh, dan kalau bukan di mimbar Jum’at atau pengajian. Dus, dakwah cenderung mengalami penyeragaman dan monolitik.

Padahal, realitas umat ini sangatlah beragam. Disparitas sosial begitu kentara dan itu akan terjadi terus sampai kiamat. Umat telah mengalami perubahan, memiliki orientasi yang beragam, punya acuan tak terhingga. Umat berbeda cara dan takaran pemahaman dan pengamalan bergamanya. Mereka terkotak-kotak dalam kelas dan ketegori sosial yang banyak. 

Kalau mau mudahnya, sebutlah secara sederhana, mengikuti Kuntowijoyo, umat itu ada dua. Umat di masjid dan umat di luar atau tanpa masjid. Atau dalam terma lain, ada umat yang sholeh/taat dan ada umat yang tidak sholeh/tidak taat, umat yang agamis dan umat yang sekuler, umat yang islami dan umat yang “kafiri”.

Gerakan dakwah selama ini hanya menyasar kepada kelas sosial yang pertama, yakni umat di dalam masjid. Lembaga dakwah dan da’i hanya menyasar dan mendatangi masjid. Materi dakwah adalah masalah kunyahan sehari-hari ahli masjid. Bahasa dakwah adalah bahasa kaum masjid. Mimbar dakwah adalah mimbar masjid.

Setelah semua hajat dakwah itu selesai ditunaikan tidak terjadi transmisi berantai dari audiens masjid kepada yang bukan ahli masjid. Karena para audiens masjid model ini selamanya merasa sebagai audiens, bukan pelaku dakwah. Juga, mereka berjarak – atau tidak ada pihak yang menghubungkan mereka – dengan yang bukan ahli masjid.

Dan sikap umat seperti ini di-setup oleh pola struktural tadi itu.

Maka diperlukan corak baru dalam berdakwah. Perlu diversifikasi dalam semua aspek dakwah, mulai dari lembaga, sang da’i, materi, audiens, bahasa, sarana, media, dan seterusnya. Tentu saja pola ini disesuaikan dengan kondisi audiens.

Kelompok sasaran harus diidentifikasi sedemikian rupa. Ketuntasan (mahharah atau kompetensi) apa yang dibutuhkan oleh sasaran adalah hal yang perlu didefinisikan terlebih dahulu. sehingga bisa disesuaikan da’inya, bahasanya, gayanya, materinya, lingkungannya, medianya, dan seterusnya.

Dakwah Organik

Banyak konsep dakwah yang bisa diadopsi/diaptasi untuk kepentingan gerakan dakwah baru itu. Salah satu yang bisa diajukan adalah “Dakwah Organik.” Istilah organik dipinjam dari konsep “intelektual organik”-nya Antonio Gramsci, yang mengacu kepada cara kerja intelektual terlibat yang berani menceburkan diri ke dalam praksis sosial masyarakat/komunitas.

Pola gerak model ini beranjak dari teori (terutama teori sosial), lalu realitas direfleksikan menjadi basis praksis. Dalam praktiknya pengembang masyarakat masuk ke dalam komunitas-komunitas, menyelami persoalan hidup mereka, membangun sikap partisipatoris, mengidentifikasi modal dan alat perjuangan (perubahan), serta menyelenggarakan keberdayaan (sosial, politik, ekonomi, budaya, dan moral).

Masyarakat kita memiliki sumberdaya manusia yang bisa memerankan diri sebagai da’i-da’i organik itu. Mahasiswa, sarjana, petani, nelayan, aktivis, tokoh dalam komunitas, dan lain sebagainya bisa direkrut untuk menjadi ‘da’i’ bagi komunitasnya masing-masing. Tinggal kita mengidentifikasi key person (tokoh kunci) di antara mereka untuk diproyeksikan sebagai da’i/pemimpin bagi komunitas. Mereka ini dibangun kapasitasnya, dan dilabeli predikat ‘ulama’.

Tentu saja implikasinya ada, misalnya, kekhawatiran dari kaum status quo (ortodoks) akan membludaknya kuantitas ‘ulama’. Tidak jadi masalah. Ulama memang harus banyak karena umat ini ratusan juta jumlahnya. Keulamaan tidak boleh dimonopoli oleh segelintir orang.

Gumpalan (rezim) ulama harus diekstraksi, berpencar-pencar (bukan bercerei-berei) mengintimi komunitas masing-masing. Tidak ada da’i sejuta umat, karena apalah yang bisa dilakukan oleh satu orang terhadap jutaan individu? Tidak ada, kecuali membesarkan namanya sendiri, atau menggumpalkan identitas yang kemudian dipolitisir.

Umat harus dibuat untuk berevolusi ke arah yang mengembang ke luar, sehingga dapat menjadi warga yang kosmopolit (warga dunia). Bukannya menciut ke dalam (involusi).

Bukankah dengan mengikuti pola ini kita berarti mentransformasikan amanat Allah dan Rasul, bahwa setiap individu adalah pemimpin bagi kalangan masing-masing. Bahwa dakwah harus disampaikan melalui bahasa kaumnya. Bahwa semua orang/kelompok/komunitas memiliki figur, sumber acuan, dan tokoh yang dipanuti.

Tinggallah masing-masing berlomba-lomba dalam pencapaian kebaikan!

Apatah lagi era milenial ini dewasa ini, di mana dimensi budaya dan hubungan sosial manusia berubah. Masa dakwah begitu-begitu saja?[]

Ilustrasi: Kalikuma

1 komentar untuk “Perkenalkan: Dakwah Organik!”

  1. Pingback: Jatuh-bangun Etos Intelektual-Ulama dan Gerakan Kultural yang Bisa Dilibati | alamtara.co

Tinggalkan Komentar

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *