Akademisi Indonesia dan Keberpihakan

MENJADI akademisi Indonesia tidak cukup hanya membaca buku, artikel jurnal, hadir di konferensi, publikasi buku dan artikel jurnal, ataupun aktivitas akademik lainnya. Mengapa? Ya karena kita berbeda dengan akademisi yang tumbuh di negara maju yang notabene adalah barat. Setajam dan sekritis apapun sebuah studi yang dihasilkan oleh akademisi internasional, ia masih berjarak dengan lokasi studinya. Studinya itu tidak berdampak langsung terhadap karir, posisi  di kampus dan kehidupan sehari-hari yang mereka alami. Ini karena, memang struktur politik dan sistem ekonomi tempat mereka tinggal relatif lebih mapan. Ketika ada gonjang-ganjing sebuah kebijakan negaranya seringkali tidak memiliki dampak signifikan.

Bagi akademisi dunia ketiga seperti kita, kebijakan ngawur  yang dibikin oleh sebuah rezim pemerintahan ataupun turbulensi politik yang dilakukan oleh elit politik dan paramiliter sudah barang tentu akan mengusik kita. Ini karena, kita mengalami irisan langsung dengan turbulensi itu, dan sedikit banyak berdampak bagi kita dan orang-orang di sekitar kita. Hal yang berdampak di orang-orang sekitar ini yang memungkinkan kita kemudian harus bersuara dan bergerak. Jika tidak mungkin, setidaknya kita bisa mengutuknya meskipun dalam hati.

Karena itu, jika ada akademisi yang mendukung sebuah kebijakan yang kemudian diprotes oleh banyak orang maka yang harus dilihat adalah mengetahui alasan dan motivasi mengapa mereka mendukung. Kondisi ini tentu saja memang tidak mudah, tapi afiliasi pekerjaan, jaringan yang dimiliki, privillege yang didapatkan, dan kemungkinan momentum apa yang  berdampak untuk dirinya bisa dijadikan bahan pertimbangan. Misalnya kondisi tidak adanya meritokrasi dalam jabatan-jabatan strategis yang menghasilkan uang dalam pemerintahan, melainkan melalui perkoncoan dan nepotisme, mempengaruhi kondisi ini.

Harus diakui, pengalaman masa lalu dari akademisi yang keluar dari lubang jarum kemiskinan juga bisa dilihat alasannya. Maksud saya, ada akademisi yang bekerja sangat keras sehingga mencapai puncak karirnya. Namun, ketika ada kebijakan yang meminggirkan kelas bawah dan ia menganggapnya itu persoalan kerja keras dan dedikasi tanpa melihat sebuah struktur yang menindas—-ia sebenarnya sedang melakukan tindakan naif. Mengapa? Ini karena, struktur yang menindas bagi kelompok paling bawah memang sangat sulit untuk bergerak seperti akademisi yang memang memiliki pola yang jelas dan dalam batas tertentu keistimewaan.

Bagi saya, yang bisa dilakukan oleh akademisi Indonesia adalah dengan bersuara, melalui kemampuan yang dimilikinya. Jikalaupun tidak bisa ya mengutuknya dalam hati sebagai bentuk selemah-lemahnya iman. Tapi harus diingat, momentum-momentum semacam ini jangan dijadikan kapitalisasi pengetahuan untuk penulisan jurnal, baik nasional ataupun internasional, jika mengutuk dalam hati saja tidak bisa. Jika ini dilakukan, lalu apa bedanya kita dengan para sarjana orientalis yang melihat Indonesia sebagai bahan kajian yang penting untuk diriset yang memungkinkan karir akademik mereka naik untuk kepentingan kolonial, tapi mereka sendiri abai untuk memberikan kontribusi perubahan untuk hal yang paling minimal yang bisa dilakukan?[]

Ilustrasi: dialeksis.com

Tinggalkan Komentar

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *