Silaturahmi Makrokosmos

TUHAN menciptakan alam semesta dengan beragam jenis penghuni yang Tuhan hadirkan di dalamnya sebagai penyeimbang makrokosmos yang begitu luas. Semua penghuni makrokosmos merupakan makhluk yang diberikan ruang yang sama untuk berinteraksi dengan Tuhannya, Demikian Tuhan firmankan di surah ke 17 ayat 44, “Langit yang tujuh, bumi dan semua yang ada di dalamnya bertasbih kepada Allah. dan tak ada suatupun melainkan bertasbih dengan memuji-Nya, tetapi kamu sekalian tidak mengerti tasbih mereka”. Dalam sistem makrokosmos itu seluruh makhluk yang ada di dalamnya juga Tuhan beri ruang dan tempat untuk eksis dengan segala fasilitas yang dibutuhkan untuk dapat hidup damai. Komitmen Tuhan itu dapat ditelaah dalam firmanNya pada Surah ke 11 di ayat 6 “Dan tidak ada suatu binatang melatapun di bumi ini  melainkan Tuhan telah jamin rizkinya.”

Merenungi betapa harmoni kehidupan dari sistem makrokosmos harus romatis dalam intervensi Tuhan, maka menjaga dan menghargai harmoni itu sangat niscaya untuk kita lakukan terutama kita sebagai makhluk yang dilebihkan Tuhan dari makhluk makrocosmos lainnya. Upaya untuk menjaga romantisme kehidupan makhluk itu dalam istilah agama adalah silaturrahmi, membangun silaturrahmi makrocosmos merupakan hajat besar dari Tuhan yang dititip lewat makhluknya yang bernama manusia agar tetap damai.  

Qadir Gassing (Guru Besar sekaligus mantan Rektor UIN Alauddin) dalam khutbah Idul Adha 1432 H menyampaikan bahwa dalam Islam ada istilah perikemakhlukan, yakni cara etis dalam menyelamatkan lingkungan makrocosmos dari ancaman ketidakseimbangan. Konsep perikemakhlukan menempatkan seluruh makhluk Tuhan, selain manusia, pada tataran persamaan, yaitu sama-sama makhluk ciptaan Tuhan. Konsekuensinya, kita harus menghargai binatang, tumbuhan dan alam lingkungan lainnya. Ada kewajiban kita untuk berakhlak yang baik kepada fauna, flora, dan kepada alam lingkungan secara keseluruhan.

Kesadaran untuk berakhlak terhadap seluruh penghuni makrokosmos menjadi penanda bahwa kita menjadi bagian dari makhluk makrokosmos, maka saling menghargai dan saling melindungi menjadi keniscayaan bagi kita. Manusia memang diberi kekuatan untuk menguasai alam semesta, tetapi jangan lupa bahwa kita diberi bekal berupa moral untuk mengekskusi tugas menguasai semesta ini, agar kita mampu menghindari sifat dengki dan mendahulukan moralitas. Menebang pohon itu boleh, penegakan moralnya–jangan lupa reboisasi atau jangan lupa untuk meninggalkan beberapa batang sebagai penyeimbang alam. Kita boleh mengeruk isi bumi (pasir, batu, karang, dan lainnya), penegakan moralnya–jangan berlebihan apalagi sampai habis-habisan. Kita boleh membangun pemukiman dengan memanfaatkan seluas-luasnya bumi ini, penegakan moralnya–jangan lupa membuat saluran untuk aliran air. Kita boleh mebangun rumah batu, rumah beton, dan rumah kaca, penegakan moralnya–jangan lupa untuk meninggalkan space buat paru-paru bumi untuk dapat menghirup udara. Kita boleh menangkap ikan sebanyak-banyaknya, penegakan moranya–jangan merusak dan mengebom habitat ikannya. Itulah akhlak kepada makhluk dan alam semesta, itulah bagian dari silaturrahmi makrokosmos.

Alam dan makhluk lain memang tidak mampu berkomunikasi verbal dengan kita, akan tetapi sebagai makhluk Tuhan dia mampu berkomunikasi dengan Tuhan–mengadu dengan kemampaun yang Tuhan berikan. Maka untuk tetap menjamin romantisme hubungan antar makhluk Tuhan, kita harus menjaga diri untuk tidak melampaui batas dalam bersikap terhadap makhluk Tuhan yang lain.

Kalau kita tidak mampu menjaga diri dalam hubungan romantisme dengan alam beserta isinya, misalnya membabi buta menebang pohon tanpa mengedepankan nuansa silaturrahmi dan saling menghargai, menutup semua jalan aliran air dengan mengabaikan peresapan dan mengabaikan sifat tawaduk air yang selalu merendah, merusak habitat  hewan dengan membakar hutan dan mengebom habitat laut tanpa ada rasa belas kasihan dan empati, jika itu yang kita lakukan dengan mengabaikan etika dan sitaurrahmi, maka tunggulah ada saat makrokosmos bersama makhluk lain akan memukul balik.

Banjir bandang merupakan pukulan balik dari gunung dan pohon yang digunduli habis-habisan, kekeringan melanda seluruh daratan yang kita pijak merupakan pukulan balik akibat resapan dan aliran air kita tutup rapat, panas yang menyengat siang dan malam merupakan pukulan balik dari bumi akibat dari keserakah kita membangun gedung-gedung dan rumah kaca sehingga tidak adanya space bagi bumi untuk bernafas, tsunami menghantam manusia bisa jadi merupakan pukulan balik dari kemarahan laut akibat terumbu karang dan bakao rusak karena pengeboman di laut.

Pukulan balik itu adalah hukum alam yang pasti akan terjadi dari makhluk lain terhadap kita jika kita gagal membangun harmoni kehidupan atau jika kita gagal menjalin silaturrahmi makrokosmos. Kondisi itu sudah Tuhan ingatkan kepada kita lewat firmannya di surah ke 30 ayat 41 “Telah nampak kerusakan di daratan dan lautan disebabkan perbuatan tangan manusia.

Kini musim berganti musim, saatnya kita evaluasi hubungan horizontal kita dengan alam semesta untuk tetap menjaga romantisme dan harmoni kehidupan melalui jalinan silaturrahmi makrokosmos. Nabi SAW telah menuturkan petuah, bahwa orang-orang yang pengasih akan dikasihi Allah Sang Maha Pengasih. Kasihilah siapapun di bumi maka yang di langit akan mengasihimu. , “Irhamu man fil ardhi, yarhamkum man fis sama’.” []

Ilustrasi: watyuthink.com

Tinggalkan Komentar

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *