Kultur Baru Wisuda Tahfiz Qur’an di Bima

Rabu, 2 Februari 2022, merupakan hari bahagia bagi santriwan dan santriwati Pondok Pesantren Ash-Shiddiqiyah, Kota Bima. Mereka diwisuda atas hafalan al-Qur’an yang telah mereka tempuh. Ada yang sudah  menghafal al-Qur’an sebanyak 1 juz, 3 juz, 5 juz, 10 juz, 25 juz,  bahkan ada yang sudah hafal 30 Juz. Jumlah semua santri yang diwisuda sebanyak 143 orang.

Kegiatan wisuda tahfiz Rabu kemarin, merupakan yang kedua kalinya dilaksanakan oleh pondok pesantren Ash-Shiddiqiyah. Setelah sukses melaksanakan kegiatan yang sama setahun yang lalu. Kegiatan seperti ini menurut salah seorang pengasuhnya untuk mewujudkan generasi muda Bima penghafal al-Qur’an.

Dengan adanya kegiatan wisuda seperti ini, memberi dorongan kepada semua santri untuk bersemangat dalam meningkatkan jumlah hafalan tiap harinya hingga mencapai 30 juz. Kegiatan ini dihadiri oleh Wali Kota Bima, sejumlah pejabat, Kepala Kemenag Kota Bima dan Kabupaten Bima, para orang tua santri dan para undangan.

Kegiatan ini penting dilaksanakan sebagai wahana santri untuk unjuk kemampuan baik dalam hal menghafal al-Qur’an ataupun kemampuan yang lain, seperti penggunaan Bahasa Arab dalam berkomunikasi. Hal ini ditunjukkan ketika pembawa acara menggunakan dua bahasa, yakni Bahasa Indonesia dan Bahasa Arab.

Hal ini menunjukkan, di Pondok Pesantren Ash-Ashiddiqiyah tersebut di samping memperdalam al-Qur’an dari segi qira’at dan tahfiz, juga diajarkan cara berkomunikasi dengan Bahasa Arab. Ini merupakan perkembangan baru pada lembaga pondok pesantren di Bima dan lebih mantap lagi, jika ditambah dengan kajian kitab kuning.

Pesantren Ash-Shiddiqiyah ini termasuk pesantren baru. Namun perkembangannya sangat luar biasa jika dilihat dari fisik bangunan, jumlah santri yang mondok dan kegiatan yang dilaksanakan setiap tahunnya. Ini semua berkah dari kegigihan dewan pengasuh dalam mempromosikan pondok pesantren hingga ke pelosok desa.

Menurut pengasuhnya, dalam seminggu, ada saja undangan dari masyarakat Kota/Kabupaten Bima untuk mengisi berbagai  acara, seperti undangan haflah al-Qur’an dalam rangka sunatan, nikahan, persiapan berangkat haji, 3 hari,7 hari, 40 hari, bahkan 100 hari meninggalnya seseorang, undangan haflah al-Qur’an dalam rangka hari besar Islam, dan kegiatan-kegiatan keislaman lainnya.

Kegiatan seperti ini melibatkan pengasuh dan santri pondok. Pengasuh membacakan beberapa ayat al-Qur’an lalu dilanjutkan oleh beberapa santrinya, kemudian pengasuh menjelaskan maksud ayat yang dibacakan tadi. Dengan cara seperti ini, secara tidak langsung pengasuh mempromosikan santri pondoknya dihadapan audiens sehingga lambat laun dikenal luas oleh masyarakat Bima.

Kegiatan Rabu kemarin dipandu oleh dua orang pembawa acara, pertama menggunakan Bahasa Indonesia dan yang kedua memakai Bahasa Arab. Adapun susunan acaranya secara berurutan adalah pembukaan, lantunan ayat suci al-Qur’an, menyanyikan lagu (Indonesia Raya, Ya Lal Wathan, dan Mars Pondok), sambutan-sambutan; oleh pengasuh pondok dan Wali Kota Bima, ceramah Isra’ Mikraj, khataman al-Qur’an, pengukuhan wisuda tahfiz al-Qur’an, istirahat dan penutup/do’a.

Dari susunan acara tersebut, ada tiga hal penting yang hendak ditunjukkan, pertama, identitas pondok. Dinyanyikannya lagu Ya Lal Wathan dalam acara tersebut menunjukkan bahwa pondok ini berafiliasi dengan Nahdlatul Ulama yang berpaham aswaja berkarakter tawassuth (tengah-tengah, sedang-sedang, tidak ekstrim kiri ataupun ekstrim kanan), at-Tawazun (seimbang dalam segala hal) termasuk dalam hal dalil naqli dan dalil aqli, al-I’tidal (tegak lurus) membela kebenaran, dan tasamuh (toleransi) menghargai perbedaan serta menghormati orang yang memiliki prinsip hidup yang tidak sama.

Kedua, khataman al-Qur’an atau dalam istilah Bima “Khata Karo’a”. Biasanya dalam tradisi masyarakat Bima, khataman al-Qur’an dilakukan secara individu oleh keluarga yang berhajat yang anaknya berumur 9 hingga 10 tahun yang sudah khatam al-Qur’an atau sudah pandai mengaji, bersamaan dengan sunatan “Suna ra Ndoso” sebelum dilakukan khataman.

Biasanya kegiatan khataman dilakukan pada siang hari setelah salat Zuhur dan ada juga yang dilakukan dengan arak-arak keliling kampung terlebih dahulu yang diiringi dengan pukulan rebana dan hadrah. Laki-laki biasanya menggunakan baju gamis dengan sorban dan perempuan memakai hijab yang nampak cantik.

Namun dalam perkembangannya, khataman al-Qur’an dilakukan secara massal oleh pemerintah Kota/Kabupaten Bima dan institusi-institusi pendidikan seperti di Pondok Pesantren Ash-Shiddiqiyah ini bahkan sudah disiarkan secara live dengan menggunakan teknologi informasi modern seperti tablets, smartphones, dan lain-lain.

Kegiatan khataman ini tujuannya di samping unjuk berita tentang kemampuan membaca al-Qur’an santri dihadapan khayalak, juga untuk meneguhkan bahwa yang bersangkutan harus menjaga citra diri agar berkelakuan sesuai dengan ajaran al-Qur’an.

Ketiga, kegiatan wisuda akbar II tahfiz al-Qur’an ini bertepatan dengan peringatan isra mikraj Nabi besar Muhammad saw. yang diisi oleh penceramah asal Desa Nata Palibelo yang berdomisili di Surabaya; Drs. H. Ridwan Abubakar, M.Si. Beliau adalah dosen Fakultas Adab UIN Sunan Ampel Surabaya sekaligus kakak dari ibu Hj. Marjan Abubakar, pengasuh pondok Ash-Shiddiqiyah.

Ilustrasi: Humas Protokol Kota Bima

Tinggalkan Komentar

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan.