Mengenang Guru Sejati

Bagi saya semua guru itu berjasa dalam hidup saya. Setiap mereka dengan caranya masing-masing  turut berkontribusi dalam membentuk saya. Namun, dari semua guru saya sejak SD hingga PT, saya sangat terkenang dengan seorang guru waktu  tsanawiyah. Pertemuan saya dengannya  pun  terjadi  secara kebetulan.

Ceritanya, menjelang naik ke kelas 6 SD saya terpaksa pindah ke sekolah tetangga, MI. Madrasah ini hanya berselang satu SD lainnya dari sekolah asal saya. Jaraknya sangat dekat. Kepindahan saya agak dramatis karena  gara-gara dipukul guru matematika. Guru ini menggunakan semacam pola “tanggung renteng”. Jika satu murid bersalah maka seisi kelas kena hukuman. Suatu hari kami diberi PR. Ketika di kelas setiap orang diminta memperagakan di papan tulis hasil pekerjaannya.

Celakanya, ternyata tak satu pun yang benar. Guru menjadi marah. Kami disuruh maju di depan kelas dan dipukul satu-satu. Kami diminta membuka telapak tangan dan beliau menghantam cukup keras dengan bilahan bambu  untuk pagar sekolah. “Plak..plak..plak…” tiap orang kebagian tiga kali pukulan belahan bambu segar  itu. Untuk ukuran bocah SD  pukulan itu keras dan menakutkan.  Saat dipukul kami tak sanggup melihatnya. Begitu tangan disodorkan untuk dipukul  kami memalingkan muka. Karena kerasnya pukulan tangan-tangan mungil itu sampai menjuntai ke bawah. Di bagian telapak warnanya merah. Sakitnya juga tak terkirakan. Perih.

Usai hukuman itu, besoknya saya lihat  beberapa teman tidak masuk sekolah. Sebagian langsung hengkang dari sekolah dan tak kembali, sebagian lagi  pindah ke sekolah lain. Saya dan beberapa teman yang bertahan mencoba rembuk apa keputusan selanjutnya. Ada yang masih bertahan dengan harapan kekerasan itu tak akan terulang lagi, tapi ada pula yang sudah bulat untuk pindah  termasuk saya. Kendati  jarak sekolah asal dengan sekolah baru  berdampingan, namun tetap saja teman-teman tak mampu membendung kesedihan. Ini wajar karena cukup lama kami bersama—menikmati keindahan khas dunia anak-anak dengan segala keceriaan dan suka dukanya.

Akhirnya saya pindah ke MI. Saya disambut baik karena madrasah ini kekurangan murid. Saya merasa diperlakukan istimewa oleh ibu guru, terlebih kemudian saya mampu menunjukkan prestasi, termasuk untuk matapelajaran agama di madrasah tersebut. Beberapa kali saya meraih peringkat satu di kelas mengalahkan teman-teman lain. Meski begitu, hukuman di SD itu  meninggalkan trauma mendalam dalam diri saya. Saya menjadi kurang percaya diri bahkan membenci matapelajaran matematika itu.

Atas saran ayah, setelah tamat MI saya melanjutkan sekolah ke MTs, padahal saya hendak masuk SMP. Kedua sekolah ini pun berdekatan. MTs bahkan satu kompleks dengan MI. Seperti halnya MI, MTs ini berstatus filial alias separonya berstatus  swasta. Sekolah ini pun sedikit siswanya. Dibandingkan SMP negeri di sebelahnya, tentu pamor tsanawiyah ini tidak begitu popular. Anak-anak yang masuk ke sini biasanya karena ‘keturunan’. Maksudnya, mereka yang orangtuanya dulu sekolah di sini maka biasanya akan mendaftarkan anak-anaknya ke madrasah ini. Atau dari orangtua yang “fanatik” dengan pendidikan agama sehingga  memasukkan anaknya ke madrasah ini—terlepas dari mutunya yang pas-pasan sebagaimana madrasah umumnya.

Di MTs ini gurunya sedikit sehingga terpaksa mengajar beberapa matapelajaran baik yang umum maupun  agama. Repotnya lagi, beberapa guru juga malas-malasan masuk sekolah. Mungkin karena capek karena rangkap mengajar itu. Meski kondisi madrasah memprihatinkan, namun   saya sangat terkesan  dengan salah satu guru di sini. Dialah Pak Manan, seorang guru asal Nata, Bima. Di zaman itu kebanyakan guru yang ditugaskan di Dompu berasal dari Kabupaten Bima. Saya perhatikan, guru ini sangat sabar dalam membimbing dan mengajar kami. Dia juga sabar dalam menghadapi kebengalan kami. Jika marah dia tetap mampu mengendalikan emosinya. Ekspresinya tetap terkontrol. Setelah itu beliau menasihati kami dengan suaranya yang lembut. Kebapakan sekali. Seperti kebanyakan guru di desa, selain mengajar Pak Manan juga bertani atau mengambil kayu di hutan di hari libur atau sepulang sekolah.

Secara bergantian dia mengajar kami beberapa matapelajaran yang berbeda: Sejarah Kebudayaan Islam, Fiqih, Bahasa Arab atau Al-Quran Hadist. Yang mengagumkan saya adalah kreativitasnya menulis kaligrafi. Di tengah kesulitan uang membeli cat dia tak kehilangan akal. Entah dapat ide darimana, suatu hari saya melihat ia tiba-tiba menggunakan biji mangga sebagai pengganti cat. Dengan memanfaatkan getah pada biji mangga ia berkarya dan melepas imajinasinya. Di sepanjang dinding kelas penuh dengan hiasan kaligrafi karyanya. Meski  warnanya  tak terlalu tajam, tapi karyanya tetap terlihat artistik. Indah sekali. Saya menikmatinya, bahkan hingga beberapa tahun setelah tamat saya masih terkesan dengan ide brilian guru ini. Saya kagum dengan kreativitasnya. Di tengah keterbatasn yang ada ia tak kehilangan cara untuk membangun citra madrasah di zaman itu. Sayang, monumen  kaligrafi itu kini  sudah tiada setelah dibangun gedung baru.

Setelah saya tamat  SMA Pak Manan pindah. Saya dengar beliau mengajar di Kadindi, Manggelewa. Sejak itu saya juga tak pernah bertemu lagi. Bahkan saya tak tahu apakah beliau masih hidup atau sudah wafat. Mengenang ketulusannya, saya jadi kangen dengan guru sederhana ini. Saya ingin sekali mencium tangannya sambil membisikan rasa terima kasih atas jejak hidup yang ditinggalkannya. Termasuk kesabarannya dalam mengajar sangat menginspirasi saya. Salam hormat wahai guru sejati. Selamat Hari Guru Nasional!    

Ilustrasi: Taslabnews.com

Tinggalkan Komentar

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *