Cita-cita (Beban!) Seorang Guru Besar

APA YANG disebut cita-cita, bagi saya, sebenarnya kata lain dari beban. Ya, beban! Tuntutan dari amanat yang diemban oleh seorang akademia yang telah sampai ke jenjang akademik tertinggi itu.

Bayangkan, nggak ada yang sebelum jadi profesor acak-acakan lalu klimis setelahnya. Yang terjadi sebaliknya. Sudah gitu, banyak pantangan, biar pun minum kopi di pinggir jalan (ya lah, harusnya minum kopi di gelas!).

Ada suatu waktu, ngobrol di taman sambil ketawa-ketiwi, seseorang “menegur”, katanya: “Jaga-jaga, Prof!” Iya juga sih. Tapi, susah benar budaya kita ini, tidak toleran pada “profesor juga manusia (bangat)”.

Ada yang bilang, jadi profesor itu puncak karir akademik. Nyatanya, masih nyusun tangga-tangga capaian lagi. Siapa yang suruh? Ya diri sendiri. Diamini rektor, dekan, dan kolega. Amin-nya adalah “perintah”.

Masyarakat juga ikutan kasih tugas. Taunya guru besar tahu segala. Tapi ibarat kata: berani berbuat, berani bertanggungjawab. Berani jadi profesor berani pula menanggung amanat yang melekat padanya.

Makanya, menjadi GB bukan lantas sama dengan “Good Boy” atau “Georgous Bos” – bukan anak manyun yang duduk manis di belakang meja. GB itu “Gede Beban”. “Gak Bosan-bosan”. “Gak Berhenti-berhenti”… dst.

Cuma, kata para arif, kalau pekerjaan dilakukan dengan ikhlas maka boro-boro beban, ia akan jadi sebab dari keberkahan (wooo). Ini semacam “es kelapa muda di tengah terik”. Iming-iming ibadah memang manjur.

Baca Juga: Dari Pidato Sang Sarjana ke Pidato Sang Profesor

Sebagai guru besar (baru), saya lalu periksa diri, terutama daya dan sumbernya. Infrastrukturnya. Daya dukung. Jarak tempuh. Perangkat. Area studi dan peta. Teman ber(se)jalan. Dan, jenis temuan yang hendak dicari.

Saya kena halilitar ‘dawuh’ salah seorang guru, Prof Amin Abdullah: “Jadi guru besar yang benar ya!” Benar-benar menyambar! Saya terbakar. On fire! Meski sebatas niatan. (Itulah mengapa murid butuh takdhim kepada guru).

Baca Juga  Membaca Masa Depan Kendaraan Listrik

Saya juga nemu “peti” bernama Horizon Ilmu. Di dalamnya ada gagasan tentang ilmu. Ilmu, sekali dipicu selamanya akan menyala. Menjangkau keluar. Sampai berpagutan dengan aras ilmu dari belahan lain.

Saya sendiri membuat pengandaian – melalui Horizon Ilmu – bahwa ilmu tidak bisa berdiri sendiri di hadapan dunia, apalagi jagat kontemporer yang serba kompleks. Ilmu harus bergandengan satu sama lain.

Bagi saya yang melibati secara eklektik bidang kajian Islam (Islamic studies), Ilmu sosial dan antropologi – kajian budaya (cultural studies), ilmu semata-mata menjadi bagian dari dinamika dan perubahan masyarakat.

Ambisi ilmu dan niat kaum ilmuwan itu besar. Di situlah beban beratnya. Padahal kapasitas kita kecil-kecil. Jangkauan kita pendek-pendek. Sudah begitu, bidang kajian terkotak-kotak. Dan terpisah-pisah.

Maka, kiranya, perlu pendekatan. Saya sendiri cenderung kepada kajian kawasan. Indonesia bagian timur pilihanya. Kawasan ini memang kurang tersentuh (understudied). Padahal, ini wilayah budaya yang kaya dan kompleks.

Bagaimana masyarakat Muslim hidup di tengah perubahan zaman? Bagaimana pula mereka hidup dalam keragaman budaya. Bagaimana mereka melihat dunia? Dan, seperti apa mereka ingin dilihat oleh dunia?

Perihal itu menggelayut ketika kita bertamasya ke Bima, Sumbawa, dan Lombok. Juga ketika kita bercengkerama dengan orang-orang di Manggarai, Sumba, Kupang, juga Bali dan Papua, bahkan di Timor Leste.

Baca Juga: Mbak Atun dan Bung Wahid Ialah Guru Saya

Kita – bukan saya lagi – perlu kawal perubahan sosial di kawasan ini. Memberi informasi tentang dinamika dan arah perubahan. Karena, perubahan sosial perlu arah, dan arah yang benar itu ditunjuki oleh ilmu pengetahuan.

Di sini saya bukan lagi saya. Tapi kita. Yang satu sama lain bergandengan tangan. Kolaborasi. Bersinergi. Saling memperkuat. Saling berbagi. Peneliti to peneliti. Kampus to kampus. Riset senter to riset senter. Dan seterusnya.

Baca Juga  Facebook Pro: Bikin Cuan atau Bikin Pusing?

Tugas dan peran kita pun terbatas. Hanyalah berikhtiar menemukan penjelasan lain atas fenomena masyarakat. Dibantu teori-teori dan konsep-konsep. Juga refleksi dan ijtihad kita sendiri.

Jangan lupa, ajak yang muda-muda untuk turut serta. Mereka yang melanjutkan, saat kita tak grinta lagi nanti. Hanya dengan itu, tradisi keilmuan lama yang belum selesai, hari ini, dan akan datang bisa kontinum.

Setelah yang muda berdaya, kita hanya perlu kembali ke meja lagi. Nyeruput kopi dan klangenan. Main kuda atau bersepeda. Nulis novel atau jadi jama’ah tarekat. Sambil jadi ketua RT atau takmir masjid. Sesekali ke kebun, sawah, atau gunung. Buat ‘the Lazy Town’.

Benar belaka cetusan Amin Mudzakkir, jangan semua potensi untuk “menyenangkan kapitalisme”. Sisakan 10 tahunan sebelum pensiun untuk sufisme atau sosialisme. Hanya begitu hidup seorang profesor bisa normal.[]

Tinggalkan Komentar

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *