Memahami Pesyair yang Jadi Guru

Apa yang kalian sebut kebenaran? Kesesatan yang berabad-abad usianya. Apa itu kesesatan? Kebenaran yang dialami hanya semenit (Spinoza)

Eka sebenarnya lebih dulu jadi seniman ketimbang seorang guru. Semasa tinggal di Jogja merintis kelompok teater dan aktif di dunia sastra. Mungkin itu petualangan waktu muda tapi bisa juga itu pilihan hidupnya. Baginya Jogja seperti memberi udara segar dalam membentuk karya sastranya.

Ia betah di Jogja karena seperti menemukan petunjuk hidup. Menjadi seorang seniman yang punya kebebasan untuk memperagakan jalan hidup, mengikuti kata hati dan melahirkan karya. Semangat itu pula yang menjadikannya  untuk hidup bersama banyak aktivis kala itu. Yang saya tahu Eka hidup dalam suasana api demokrasi sedang menyala dengan gairah. Ia ikut sebuah gelombang gerakan yang kala itu ingin membangun Indonesia dengan impian idealnya.

Bahkan saat kembali ke kampung mimpi itu masih menyala. Saya tiap kali datang ke Bima selalu mendapat banyak cerita darinya. Mengenai suasana politik dan situasi aktivis disana. Ia tak berubah hanya makin bertambah usia. Menjadi seorang guru, bapak dan suami. Saya merasa ia memang makin tua tapi masih punya mimpi bagai anak muda. Cerita pada saya tentang siswa siswanya yang menang lomba teater lalu membagi pengalamannya saat menjadi mahasiswa.



Seluruh kisahnya mirip dengan gaya puisinya: jelas, kronologis dan realis. Itu sebabnya ia memimpin organ guru yang progresif: meneriakkan keadilan untuk para pendidik, menyoal perkara korupsi hingga meminta komitmen seorang kepala daerah. Ia bukan seniman yang sibuk membuat panggung tapi lebih tepatnya seorang aktivis yang menginginkan suasana sosial itu mirip dengan sebait puisi. Indah, mengagumkan dan menyentuh.

Saat saya disodori buku ini dan dimintai pengantar saya tentu gembira. Bukan karena Eka kawan karib tapi juga karyanya adalah ekspresi keresahannya. Puisinya tidak mengandung humor, tidak liris tapi lugas. Kalimatnya kurang berbunga tapi jujur dan yang unik baitnya selalu ditata dengan rapi. Mungkin itu cerminan seorang guru yang ingin semua berjalan tertib.

Puisinya bukan seperti teks pelajaran tapi lebih mirip dengan stelan baju seragam yang dikenakannya. Bersih, licin dan tenang. Walau ada puisi yang bergolak untuk menjelaskan keresahannya tapi Eka mirip orang Jawa tulen: halus, berpembawaan tenang dan selalu gampang dimintai bantuan. Tiap kali saya ke Bima maka semua urusan Eka yang bisa bereskan. Menghubungi tokoh, ketemu dengan aktivis bahkan mencari makanan yang enak. Ia mudah membantu dan gampang dimintai bantuan. Dalam hal ini ia memang seorang guru.

Sebagai pendidik tentu keresahannya berbeda dengan penyair. Tiap hari dirinya berhadapan dengan siswa yang kebanyakan orang tak mampu. Mereka punya mimpi besar di tengah suasana sosial yang pelik. Eka tak hanya sebagai guru tapi juga seorang ayah. Percaya kalau anak-anaknya juga ingin hidup sukses, mendapatkan sekolah terbaik dan kesempatan yang bagus. Itu sebabnya sebagai guru keresahannya mencakup segala hal: masa depan siswanya, pelajaran yang diberikan dan birokrasi pendidikan. Dikepung oleh masalah itu saya kadang kasihan mendengar ceritanya.

Mengenai gaji guru yang disunat, tenaga honorer yang belum diangkat dan jabatan kepala sekolah yang digilir secara politik. Baginya guru bukan hanya mengajar tapi juga bersiasat dengan posisi dan perannya. Terutama di tengah hingar bingar politik.

Eka memang sinis bahkan marah dengan situasi. Sebagai guru rasanya percuma membekali pengetahuan pada siswa jika itu tak bisa dipakai sama sekali. Di bait puisi awalnya Eka menyindir keras kekerasan:

Dan sebuah kejadian hari ini terdengar di media Anak negeri tersungkur di bumi pertiwinya. Selongsong peluru mengejar mereka tanpa belas kasihan. Tak ada yang berkutik sepertinya mereka telah terdiam

Eka bukan bicara pembunuhan tapi brutalitas yang dilakukan oleh aparat pada enam anak muda. Mereka remaja yang usianya sama dengan siswanya di kelas. Bagi Eka pembunuhan itu bukan hanya menghancurkan masa depan mereka tapi juga merusak nilai-nilai kemanusian yang mestinya dipelihara. Sebagai pendidik peristiwa pembunuhan itu telah merusak kepercayaan anak didik pada pemuliaan hak dan kehormatan seseorang. Maka puisi yang mirip cerpen ini hendak melontarkan gugatan, kemarahan dan protes dengan semangat pendidik. Tidak mencaci, bukan menghakimi tapi memberikan tolak ukur.

 Tuan! Kemana kata kemanusiaan yang adil dan beradab itu”. Dan negeri ini memang sepetak perintah bagimu, tetapi negeri ini adalah bumi kami juga

Mungkin itu yang membuat kumpulan karya ini seperti tanah lapang yang bisa membuat kita meluncur kemana-mana. Mengikuti keresahan seorang guru yang berada dalam situasi yang kompleks, rumit dan penuh harap. Kompleks karena Eka memang menyaksikan sebuah iklim demokrasi yang gaduh tapi suara yang dominan hanya keluar dari orang itu-itu saja.



Di sisi lain Eka juga mendambakan sebuah hidup yang tenteram, damai dan tenang. Sebuah lingkungan pembelajaran dimana setiap orang punya kesempatan untuk mengungkapkan pikirannya dengan bebas. Pada situasi seperti ini bukan ledakan pernyataan tapi sebuah ajakan untuk melakukan renungan. Itu mungkin yang membuat puisi ini juga mengantarkan doa pada keadaan yang sangat disesali

Doa kami rakyat kecil warga negara biasa. Ya Tuhanku Kami terus menerus bertikai di negeri ini hanya untuk rasa keakuan kami dan keegoisan untuk membenarkan sesuatu yang tidak benar Di negeri kami yang terbentang luas kami hidup di negeri yang kaya Akan tetapi menara-menara menjulang terbuat dari emas, dan permata bukan milik kami.

Bak sebuah adegan film laga maka si jahat muncul dengan pupuk sifat buruknya: rakus, tamak dan arogan. Muncul melalui figur aparat yang suka melakukan kekerasan, tak ingin dipertanyakan semua tindakannya dan ingin berkuasa. Sedang korbannya biasanya anak muda, punya idealisme yang menyala dan kalah oleh keadaan.

Diantarkan oleh sebuah situasi politik yang pengap maka kumpulan puisi ini seperti ingin merekam semua bentuk keresahan. Pada anak muda yang ingin perubahan, terhadap aparat yang keji atau anak yang mengenang kasih sayang. Maka buku ini bukan sebuah ekspresi tekad melainkan upaya seorang guru untuk memberikan pelajaran pada pembaca. Bahwa situasi yang kita alami ini sangat meresahkan bahkan semua orang patut untuk berjuang mengubahnya.

Itu sebabnya karya ini seperti cara Eka mengungkap situasi. Yang baginya tak bisa dijelaskan dengan konsep semata melainkan perlu dirasakan. Perasaan itulah yang membungkus semua karya ini mirip seperti adegan belajar: diajak pembaca untuk mengerti, dipahamkan pembaca tentang situasi yang dirasakan kemudian diakhiri dengan upaya untuk merenungkan keadaan. Kita bukan seperti dilatih untuk berpikir melainkan diajak untuk mengambil sikap.

Sikap sebagaimana yang dinyatakan Eka dalam sejumlah karyanya: menolak penganiayaan, melibatkan anak muda untuk bertindak dan memastikan kalau keadaan yang ada perlu diubah segera. Hanya sebagai guru dirinya lebih mengerti jika keadaan yang ada hari ini bukan peragaan sebuah panggung rekayasa tapi kemestian zaman yang kita tak bisa menampiknya begitu saja.

Pada sisi karya buku ini memberikan Eka kekuatan tenaga: tulisannya makin menggigit, jeritannya menyayat kemana-mana dan sindirannya tajam. Mungkin situasi sosial yang buruk membuat Eka terpanggil untuk tak lagi mengajar di kelas. Melainkan bicara, berseru bahkan mengajak untuk bergerak. Tidak saja melawan kezaliman tapi juga sikap pengecut yang ada di diri kita. Kini Eka tak sekedar guru tapi penyair yang melawan!

Tinggalkan Komentar

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *