Rasa yang Terbuang dan Hilang

Sejarah kehancuran kota Baghdad mencatat momentum dan monumen kebengisan Hulagu Khan. Beragam versi historis mencatat jumlah korban pembantaian terhadap muslim (200 ribu atau 400 ribu orang) oleh pasukan Mongolia di pusat kerajaan Abbasiyah. Itu peristiwa sejarah. Semuanya sudah berlalu, dan ia tidak perlu direproduksi untuk membenci siapapun; kebencian yang membuat banyak haters-nya terjerat dalam perangkap kesedihan masa lalu. Kita harus move on, dengan merenungi pesan inspiratif dari kasus tragis tersebut.

Refleksi ini tidak menginvestigasi kebenaran sejarah di atas, karena tulisan ini bukan narasi ilmiah. Ungkapan sederhana ini hanya akan menggali hal-hal yang hilang, tenggelam dalam hegemoni narasi besar sebuah tragedi pembantaian (massacre) umat Islam.

Sahabat, Hulagu diingat oleh umat Islam sebagai pemimpin yang supra bengis, bin sadis. Otoritarianisme dan kebengisannya membuat banyak orang tidak bernyali untuk menatap, apalagi, berseberangan dengannya, terutama umat muslim saat itu.

Dalam sebuah riwayat, suatu saat, Hulagu mengundang pemuka Muslim yang paling disegani dari sisi kredibilitas dan keilmuannya untuk bertatap muka, dialog dengannya. Tokoh pemuka yang diimaginasikan saat itu berprofil berwibawa, jenggotan, tua, perkasa, dan bernyali besar dengan suara lantang. Permintaan itu disampaikan kepada pembesar Islam. Tidak ada sosok pembesar yang merespon, dan semuanya ciut, mungkin karena ketakutan.

Tiba-tiba di satu pojok kota Baghdad muncul seorang anak muda, guru madrasah, yang kemudian dikenal dengan nama Kadihan. Dengan percaya diri dan berani, dia meresponse undangan Hulagu. Dia bersedia berjumpa Hulagu. Pemuda ini nampak bersahaja. Tapi dia terlihat cerdas dan visioner.

Waktu dan tempat pertemuan dengan Hulagu sudah disepakati di markasnya. Kadihan dalam lawatan bertemu Hulagu membawa tiga ekor hewan, yaitu unta, kambing-bandot, dan ayam jantan-pelung. Hewan-hewan itu tentu ditinggal di luar ruang, tempat pertemuannya dengan Hulagu.

Hulagu menatap tajam anak muda ini, yang nampak PD, tidak salah tingkah. Kali ini, Hulagu menampilkan wajah ramahnya. Dia menatap tajam Kadihan dari kepala sampai ujung kaki, lalu, mulai membuka pembicaraan dengan agak santai. Dia bertanya “apa yang menjadi bekalmu untuk dialog ini?”

Kadihan menjawab dengan gontai. Katanya, “Saya membawa tiga ekor hewan, yang semua diamankan di luar gedung. Jika anda menginginkan tamu yang besar, saya membawa UNTA super untuk memenuhi harapan anda; jika anda menginginkan sosok yang jenggotan, saya sudah siapkan kambing-bandot yang jenggotan; dan jika anda menginginkan sosok yang bersuara keras, lantang, saya juga sudah siapkan ayam pelung”. “Baginda bisa memilih sosok tamu yang mana saja, sesuai pesanan”, sambung Kadihan tanpa ragu.

Hulagu tidak marah dengan gaya narasi dan diplomasi Kadihan. Dia lalu bertanya “Apa, menurutmu, menjadi faktor yang membawa kami, orang Mongolia, datang ke Baghdad?” Kadihan menjawab “Allah telah memanjakan umat Islam dengan gaya hidup glamour, dan limpahan nikmat berlebih yang membuat mereka, terutama pejabatnya, lupa diri, mabok berebut harta, jabatan, dan kekuasaan; bertikai satu dengan lainnya; hidup mereka sangat hedonis, penuh euphoria. Allah telah mengirim anda ke sini untuk mencabut semua limpahan rahmat dan karunia Allah itu, guna menyadarkan umat muslim tentang arti Islam” (pasrah dalam kesatuan-kebersamaan).

Hulagu senang dengan jawaban Kadihan, dan dia tentu tidak merasa penyerbuannya menjadi akar kehancuran Baghdad. Hulagu kemudian mengajukan pertanyaan lain “Wahai Kadihan, apa, menurutmu, faktor yang menjadi penyebab kami kembali akan terusir dari Baghdad?”. Jawaban Kadihan terhadap pertanyaan ini sangat inspiratif. Cermati dengan baik!

Sahabat! Kadihan dengan bahasa diplomasinya menjawab singkat. Katanya “Faktor yang akan mengusirmu dan pasukan dari Baghdad adalah tumbuhnya kesadaran umat Islam untuk menyukuri semua rahmat dan karunia Allah; berhenti hidup hedonis-glamour, berhenti bertikai, dan kembali ke spirit nilai-nilai etik-moral Islam, yaitu nilai-nilai persatuan umat Islam”.


Jawaban Kadihan membuat Hulagu terdiam, dan jawaban Kadihan ini akhirnya menjadi kenyataan. Kita akan kuat dalam kebersamaan.

Sahabat, kekuatan utama untuk semua kesuksesan adalah kegigihan (persistence), kesatuan (unity) dan kebersamaan (togetherness). Pertikaian antar sesama menjadi batu sandungan kedigjayaan. Mari kita hentikan pertikaian; kita rajut kebersamaan, walaupun kita tidak harus selalu sama dalam pilihan agama dan orientasi politik. Kita disatukan atas nama harapan bersama; sukses bersama, hidup damai dalam keragaman, tapi tetap dalam spirit kesaatuan-kebersamaan di tanah air tercinta ini, Indonesia.

Pamulang, 26 Jumadil Akhir 1442 H/26 Januari 2021

Ilustrasi: moeslimchoice.com

Tinggalkan Komentar

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan.