Pandemi, Vaksin, dan Segala Kemungkinannya (2)

Dalam sejarah “pervirusan”, beberapa negara penguasa, sebenarnya telah menggunakan virus, kuman, racun dan sejenisnya sebagai senjata biologi. Anda masih ingat bukan, suku Indian (penduduk asli Amerika) yang dibasmi secara tidak manusiawi oleh orang (Amerika sekarang)?

Mungkin saja penggunaan virus, racun, dan kuman sebagai senjata biologi tersebut tidak hanya berhenti sampai di situ. Bahkan jika Anda baca beberapa catatan sejarah, virus-virus ini semakin dikembangkan dan dimodifikasi sedemikian rupa—dan bahkan dijadikan sebagai senjata paling ampuh saat perang dunia ke- I dan II.

Kemudian apa jaminannya, jika virus-virus ini tidak digunakan hingga sekarang? Dengan kecanggihan tehknologi seperti yang ada saat ini—menurut saya bukanlah hal yang tidak mungkin, untuk kemudian virus-virus ini dimodifikasi ulang dengan cara yang jauh lebih canggih dan mematikan—ditambah lagi jika negara-negara tersebut memiliki kekuatakan dan kekuasaan yang besar. “Mungkin”!

Jika dirilis dari sejarah perkembangan “pervirusan” di dunia, virus yang mewabah bukan hanya korona. Mungkin Anda juga masih ingat dengan kemunculan flu burung, demam berdarah atau AIDS/HIV yang katanya belum ditemukan obatnya.

Tetapi yang menarik untuk dianalisis; jika kita baca beberapa keterangan dari pihak medis—bahwa antara korona (MERS, SARS, flu burung, demam berdarah) memiliki jenis yang hampir mirip—hanya tingkat keganasannya saja yang berbeda. Jika proses penularan flu burung dari unggas ke manusia, demam berdarah dari nyamuk ke manusia, MERS dari onta ke manusia, SARS dan COVID-19 dari kelelawar ke manusia. Miripkan?

Dengan kata lain; maka hewan-hewan ini seperti sengaja digunakan sebagai penyebar virus. Anda bisa bayangkan, misalnya jutaan nyamuk yang telah sengaja dikontaminasi dengan virus—lalu kemudian dijatuhkan dari atas pesawat. Tentu cara ini sangat efektif, terlepas dengan masih banyak lagi cara lainnya. “Mungkin”!

Pada awalnya, “hewan hanyalah hewan,” namun menjadi mengerikan ketika hewan-hewan itu dirubah menjadi semacam “zombie” oleh “sekelompok orang”—yang menurut saya jauh lebih mengerikan dan kejam dari hewan. Mungkin Anda yang membaca tulisan ini sepakat, jika kelompok-kelompok ini tersebar di beberapa Negara, dengan kendali organisasi yang sangat besar. Bukan hal yang mustahil jika Indonesia tidak tahu menau mengenai fenomena-fenomena semacam ini? Tenang, kita akan mencoba melacaknya di dalam polemik kasus pandemi korona saat ini.

 Tapi sebelum itu, Anda mungkin tahu atau bahkan telah membaca buku; Saatnya Dunia Berubah:Tangan Tuhan di Balik Flu Burung” karya Siti Fadillah Supari dan Deadly Mist: Upaya Amerika Merusak Kesehatan Manusia, karya dari Jerry D. Gray. Dua buku yang saya hadirkan ini akan dapat memberikan Anda jawaban atas pertanyaan-pertanyaan penting terhadap masalah pandemi yang dialami oleh manusia di dunia saat ini.

Dalam kasus ini, saya tidak akan mengulas semua “mahakarya” tersebut—karena alasan keterbatasan. Namun, saya ingin menganalisis dipenjaranya dua penulis buku tersebut. Siti Fadillah Supari dijatuhi hukuman empat tahun penjara pada 2017 karena kasus “korupsi”. Sedangkan Jerry D. Grey juga ditangkap dan masuk penjara pada 2019 dengan kasus “penyebaran Hoax” dan “menghina Presiden.” Lalu apa kaitan dipenjaranya mereka dengan pandemi saat ini?

Barangkali kita semua menyadari, bahwa Siti Fadillah Supari merupakan salah satu mantan Menteri Kesehatan (Menkes) RI yang berani secara “lantang-menentang” menolak vaksin dari Organization World Health (WHO) dan pihak Amerika Serikat. Fadillah mengatakan, “mekanisme mereka dalam mengumpulkan virus-virus dari beberapa negara berkembang sangat tidak adil.

Mereka telah melakukan konspirasi dalam pengumpulan sampel-sampel virus flu burung beserta produk-produk vaksinnya; cara yang sama sebuah negara imperialis memperlakukan koloninya. Fadillah menolak diploma dengan mereka, karena menurutnya diplomatik di mata negara-negara super-power, berarti kita harus melakukan apa yang mereka ingin lakukan, (Gray, 2009: 191).

Ironisnya, pembuatan vaksin adalah perusahaan yang ada di negara-negara industri, negara maju, negara kaya yang minim kasus flu burung pada manusia. Dan kemudian vaksin itu dijual ke seluruh dunia juga akan dijual ke negara kita.
~ Siti
 Fadillah Supari

Buku yang ditulis oleh Siti Fadillah Supari ini terlebih dahulu diterbitkan di London-Inggris pada 2006 dan kemudian pada 2008 diterbitkan di Indonesia. Sedangkan buku-buku yang ditulis oleh Jerry D. Grey sebagian besarnya adalah tentang kritikan terhadap kejahatan AS. Dalam Deadly Mist, Jerry menulis, “Sejak perang Dunia II secara sangat rahasia, pemerintah AS berkolaborasi dengan Hitler berencana menciptakan “The New World Order” dengan membuat senjata kimia dan biologi pemusnah massal”.

Terlepas di luar dari keberanian mereka, hal yang cukup aneh menurut saya adalah “MEREKA SAMA-SAMA DI PENJARA”. Yah, meskipun berbeda tahun dan juga kasus, namun keduanya seperti memiliki kesamaan nasib—dengan pernyataan yang sama bahwa; “KAMI DITUDUH”. Maka jika demikian, pasti ada penyebab yang besar-kan, mengapa mereka sampai dituduh dan di penjara!

Beberapa contoh kasus yang saya hadirkan di atas, hanyalah bahan analis untuk melahirkan kemungkinan-kemungkinan; meskipun saya sendiri sangat menyakini, bahwa di balik setiap permasalahan, selalu ada pihak yang menguntungkan dan dirugikan. Sudah pasti pihak yang dirugikan adalah—yang tidak mengetahui sama sekali permainan-permainan ini. Jangankan pihak yang tidak mengetahui sama sekali, mereka yang mengetahui saja tetap akan dirugikan—lebih-lebih jika melawan. Sebab situasi semacam ini, diam atau bertindak itu sama-sama menimbul konsekuensi yang tidak logis.

Maka saya ingin katakan bahwa virus ini benar-benar ada—dan bahkan lebih “gila” dari tingkat “kewarasan virus” yang sebenarnya.

Bohongi aku sekali, betapa buruknya aku.
Bohongi aku dua kali, betapa buruknya kamu.”~Pepatah

Demikian; sejarah perkembangan pandemi dari masa ke masa, memang selalu disertai dengan solusi vaksinasi. Keduanya seakan tak bisa dipisahkan. Pokoknya di mana ada pandemi, di situ ada vaksin. Sehingga dapat dikatakan perkembangan pandemi selalu berbanding lurus dengan komersialisasi vaksin itu sendiri. Seperti halnya perang dengan keuntungan fantastik melalui perdagangan senjatanya—dan ketika Negara tidak mampu membelinya, kemudian terpaksa harus menghutang ke mereka. Apapun alasannya, semua tak lepas dari kepentingan ekonomi dan kekuasaan.

Menerima vaksin, berarti menerima kemungkinan terjadinya pandemi yang lebih dahsyat di kemudian hari.~ St. Fadillah Supari

Terlepas dari itu semua, ada beberapa hal penting yang menurut saya juga perlu disadari oleh kita saat ini—adalah tentang “melubernya” industrialisasi yang mulai tak terkontrol, penggunaan sumber daya alam secara berlebihan, dan meningkatnya pertumbuhan jumlah penduduk manusia—yang akan menyebabkan kemungkinan terjadinya bencana besar di masa yang akan datang.

Maka, tugas terpenting sekarang adalah tetap menjaga keseimbangan ekosistem melaui langkah-langkah kecil yang bisa dilakukan di sekitar kita. Jangan sampai orang-orang yang tak ber-prikemanusiaan sejak awal itu, melakukan cara-cara spekulatif untuk membasmi populasi manusia yang ada hanya karena alasan; “keamanan global.” Selamat merenung!

Ilustrasi: suara.com

Tinggalkan Komentar

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *