Pandemi, Vaksin, dan Segala Kemungkinannya (1)

Tentang virus, kuman dan sejenisnya, “mungkin” keberadaannya telah ada sejak dunia ini diciptakan—atau bahkan telah hidup bersama umat manusia hingga saat ini. Seiring berjalannya waktu, manusia semakin sadar bahwa ada mahluk-mahluk kecil tak kasat mata (microorganism) seperti virus, kuman dan sejenisnya. Pada awalnya, semua hanyalah sebatas tentang penemuan dan pengembangan pengetahuan manusia (dalam arti baik). Namun, segera ia akan menjadi hal yang menakutkan, ketika virus-virus ini berhasil dimanfaatkan oleh sekelompok manusia untuk merusak manusia lain melalui modifikasi-modifikasi tertentu. Misalnya penemuan sains terhadap atom; awalnya merupakan penemuan-penemuan murni oleh kalangan saintis, namun ketika atom-atom tersebut berhasil dikembangkan dan dimodifikasi sedemikian rupa—segera ia pun kemudian juga menjadi senjata mengerikan—dengan kekuatan daya yang mampu membunuh ratusan juta umat manusia. “mulai saat itulah para ilmuan “mengenal dosa.” Ungkap Prof. Karlina Supelli.

Di beberapa bulan terakhir ini, saya sedang menulis buku tentang sains dan agama. Namun konsentrasi saya agak sedikit terganggu oleh perbincangan pro-kontra mengenai korona dan vaksinasi melalui pemberitaan di beberapa media. Mungkin saya adalah salah satu dari sekian banyak orang yang memiliki keresahan yang sama; kemudian atas dasar keresahan itu pula, akhirnya saya memutuskan untuk sedikit “membelokan” tulisan ini ke arah permasalahan yang sekarang sedang hangat diperbincangkan—dengan harapan, dapat menyumbang sedikit gagasan melalui prespektif di bidang keilmuan yang saya pelajari.

Pada salah satu bab tulisan saya, terdapat sub-judul; “Menuju ModernitasDalam pembahasannya saya menegaskan bahwa sejarah awal pembentukan modernitas dewasa ini ialah di bangun melalui cara-cara yang tidak manusiawi, brutal, dan keji—atau dengan kata lain—peradaban yang lahir dari “bibit busuk.” Tentu kritikan demi kritikan itu saya bangun berdasarkan krisis yang terjadi saat ini; seperti krisis lingkungan (polusi, malapetaka atomik, mencairnya topi es Antariksa) dan krisis kemanusiaan (alienasi individu, dampak psikologis, depresi, psikosis, krisis spiritual, fenomena bunuh diri)—yang akan tarus berlangsung hingga terakumulasi pada puncak krisis secara global.

Sudah jelas bagi banyak orang—bahwa bahaya mengerikan telah tumbuh dari kekeliruan-kekeliruan epistemologi Barat.”~Gregory Bateson

Dari sekian banyak krisis yang saya sebutkan, tentu virus korona yang menggegerkan dunia saat ini—juga merupakan bagian dampak lain dari peradaban modernitas itu sendiri. Karena hal yang sudah pasti, bahwa berbicara tentang peradaban modernitas berarti berbicara tentang sains modern—sekaligus tentang penerapannya. Anda bisa bayangkan bagaimana awal mula penemuan atom yang saya contohkan di awal—kemudian dikembangkan dan dimodifikasi lalu menjadi senjata nuklir yang telah tersebar di beberapa Negara. Tentu ketersediaan senjata-senjata nuklir ini, sangatlah cukup untuk menghancurkan umat manusia. Bahkan yang telah tersebar hingga saat ini, diperkirakan sekitar empat puluh ribu hulu ledak bom nuklir, dengan masing-masing daya kekuatan ribuan kali bom yang pernah dijatuhkan di kota Hirosima dan Nagasaki, (Bagir, 1988 : 8).

Sebenarnya bukan hal yang tidak mungkin, jika virus-virus yang ditemukan dalam sejarah perkembangan ilmu pengetahuan manusia dewasa ini—tidak digunakan dan dimanfaatkan untuk kepentingan-kepentingan tertentu oleh sebagian kelompok. Jika anda baca The Atlas of the North American Indian karya dari Carl Waldman dan The Conspiracy of Potiac and the Indian War after the Conquest of Canada karya Francis Parkman (1823-1893), anda akan mengetahui bagaimana virus dan kuman dijadikan sebagai senjata biologis untuk memusnahkan suku Indian. Beberapa data yang tertuang dalam dua buku ini, dikatakan bahwa salah satu Jenderal bernama Jeffrey Amherst menyetujui pendistribusian selimut dan sapu tangan yang telah terkontaminasi bibit cacar untuk digunakan sebagai alat perang wabah penyakit terhadap suku Indian Amerika, (Gray, 2009 : 20).

Jika di awal saya mengatakan, bahwa peradaban modernitas dibangun berdasarkan “bibit yang busuk”—lalu apa bedanya dengan yang dilakukan oleh para penjajah (Amerika sekarang) terhadap suku Indian (penduduk asli Amerika) dulu? Bahkan kemungkinan-kemungkinan besar lainnya bisa saja terjadi; bukan lagi melalui selimut atau sapu tangan—virus-virus ini disebarkan, melainkan melalui hewan-hewan; seperti nyamuk, serangga, unggas, kelelawar, tikus atau bahkan lewat prodak-prodak yang didistribusikan, seperti; makanan/minuman hingga obat-obatan—yang perlahan-lahan dapat menghancurkan otak, serta bagian organ tubuh lainnya. Lalu bagaimana dengan jenis virus bernama covid-19 yang mucul saat ini?

Sebelum menjawab pertanyaan ini, terlebih dahulu saya ingin menegaskan bahwa jawaban yang akan saya uraikan ini bersifat deskriptif-analisis, melalui beberapa referensi sejarah yang pernah saya baca—dan bukan berdasarkan analisis farmasi atau makanan yang menggunakan prespektif medis apalagi sebagai seorang mikrobiolog dan sejenisnya.

Dari hasil telaah beberapa tulisan yang saya baca, bahwa korona merupakan virus yang telah ada sejak 1960’an—dengan gejala seperti orang yang terkena flu biasa. Selain menyerang populasi manusia, virus ini juga menyerang populasi hewan seperti; kelelawar, ayam, kelinci, babi, anjing, tikus dan sebagainya—yang kemudian oleh para ahli virologi menyebutnya sebagai virus zonootik (yang bisa menular dari hewan ke manusia). Selain itu, korona juga merupakan virus yang masih satu jenis dengan Severe Acute Respiratory Syndrome (SARS)—yang pernah mewabah dan menjangkit 26 negara di Asia pada 2002-2003—dan Negara yang paling parah waktu itu adalah China Selatan, dengan pola penyebaran dari kelelawar ke manusia.

Selain memiliki jenis yang sama dengan SARS, korona juga masih satu jenis dengan Middle East Respiratory Syndrome (MERS)—yang pernah muncul pada 2012 dan menjangkit 27 negara Asia, dan Negara yang paling para adalah Uni Emirat Arab, dengan pola penyebaran dari onta ke manusia. Setelah berselang beberapa tahun kemudian, pada akhir 2019—tepatnya di Wuhan-China, virus korona kembali mengganas dengan pola nular yang jauh lebih agresif, dan mewabah ke 121 Negara. Kemunculanya kali ini menimbulkan ketegangan yang sangat luar biasa dan melumpuhkan perekonomian di beberapa Negara termasuk Indonesia—bahkan tercatat sebagai pandemi global. (Lanjut dibagian ke 2)

Ilustrasi: pixabay.com

Tinggalkan Komentar

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *