Cerita dari Udara

Sejak kapan engkau lebih dekat dengan pesawat terbang? Sejak kami berlarian mengejar bayangannya sambil berteriak lantang meminta uang. Pesawat, minta uang, ayo jatuhkan uang yang banyak, ungkap kami kompak. Ade kecil, Yati kecil, Aida kecil, Tuti kecil berlarian berkejaran sampai bayangan pesawat itu hilang. Setiap mata kami menengadah ke langit, dan menemukan pesawat, kamipun akan melakukan hal yang sama. Berlarian, berkejaran dengan bayangan pesawat-pesawat itu. Walau kami tau, tidak akan ada uang, atau apapun yang dijatuhkan dari pesawat.

Kami tidak kehabisan akal untuk bertemu dan bermain-main dengan pesawat. Boges, kakak lelaki kami selalu membuatkan pesawat kertas. Pesawat itu dibagikan satu-satu pada empat sekawan yang selalu bermain bersama.  Dengan riang badan pesawat kami pegang. Menerbangkan pesawat ini punya tehnik tersendiri. Bagian bawah pesawat diapit antara jari jempol dan telunjuk. Untuk menerbangkan biasanya kami menunggu angin sepoi-sepoi, dengan sedikit mengerahkan tenaga, pesawat itu kami lempar ke angkasa. Terkadang ia jatuh disebelah pagar rumah tetangga, atau kembali terbang kearah kami sesuai arah mata angin.

Saban hari, kami kerap berlarian mengejar bayangan pesawat. Setia dengan harapan yang sama, ada uang yang dijatuhkan. Saat letih berlarian, terdengar ungkapan Aida, bagaimana rasanya naik pesawat terbang itu? Suatu saat kita akan merasakannya, entah siapa yang duluan, ungkap Tuti.

Baca juga: Pulang ke Asal Rumah Asal

Tibalah waktunya, tahun 2012 untuk pertama kalinya Ade kecil naik pesawat.  Waktu itu diajak salah seorang pegiat LSM untuk menghadiri kegiatan pelatihan di Jakarta. Tidak perlu pikir panjang untuk menyetujuinya. Akhirnya Ade akan merasanakan naik pesawat. Untuk menunggu hari keberangkatan esoknya, Ade hampir tidak bisa tidur dengan tenang. Pagi buta, sebuah taxi datang menjemput, kami berangkat bersama. Secara kami mendapat penerbangan pertama. Tingkahnya kikuk. Ade hanya mengikuti langkah senior itu. Biar saya yang urus semuanya, ungkapnya. Semua proses administrasi untuk penerbanganpun selesai. Kami menuju ruang tunggu. Ade berdiri tepat depan kaca ruang itu. Bukan tanpa alasan, ia ingin menikmati dari dekat pesawat yang hilir mudik. Ada yang baru mendarat, ada yang terbang. Semuanya berlangsung aman terkendali. Terlihat seorang petugas mengenakan rompi orange. Kedua tangannya seperti memegang papan tenis meja. Ia disebut Marshaller, seorang  yang memberikan komando kepada pilot pesawat terbang untuk memarkirkan burung besi raksasa tersebut ketika mendarat pada landasan pacu. Seorang marshaller harus benar dan tepat saat memberikan tanda atau komando kepada pilot. Sebab untuk memarkirkan pesawat terbang yang memiliki ukuran besar harus berhati-hati dan tidak boleh lengah sedikitpun. Meskipun hanya seorang tukang parkir pesawat terbang, tetapi untuk menjadi marshaller harus memiliki pendidikan khusus.  

Tiba saatnya kami naik pesawat. Terdengar suara perempuan yang menginformasikan hal tersebut. Lakuku masih sama, berjalan mengikuti senior. Secarik kertas boarding pass diserahkan. Ia menjelaskan posisi tempat dudukku. Sambil menegaskan untuk menjaga kertas itu jangan sampai hilang. Panitia kegiatan akan meminta kertas ini, sebagai bagian dari bukti administrasi, ujarnya. Setelah menempati posisi duduk, kertas itupun kuamankan di saku ransel.

Seorang pramugari terlihat mengecek kami satu persatu. Memastikan telah duduk dengan sempurna dan mengenakan sabuk pengaman.  Setelah semuanya duduk menempati nomor kursinya, pramugari menjelaskan cara menggunakan alat yang ada di pesawat sampai dalam keadaan darurat. Ade menyimaknya dengan seksama sambil melihat buku petunjuk yang disediakan. Mesin pesawat mulai dinyalakan, suaranya terasa memekakkan telinga. Ade menutup telinga rapat-rapat. Pesawat mulai melaju pelan. Perlahan tapi pasti besi raksasa itu naik keangkasa. Tangannya gemetar, mulut-pun komat kamit membaca do’a. Tiba-tiba perut terasa kosong, tangannya kuat memegang penyangga kursi. Sesekali pramugari memberitahukan kondisi selama penerbangan. Kondisi cuaca, atau mengingatkan untuk tetap mengenakan sabuk pengaman, membuka penutup jendela. Perasaan Ade terus berkecamuk, naik pesawat rasanya sangat tidak menyenangkan. Matanya menengok ke jendela, ia seperti melihat 4 anak berlarian mengejar bayangan pesawat. Ingin rasanya ia membuka jendela dan menjatuhkan koin. Bahwa pesawat terbang bisa membagikan uang untuk anak-anak yang berlarian itu. Ia seperti melihat dirinya sendiri.

Baca juga: Memahami Kematian, Menghargai Arti Hidup

Karena kebutuhan dan tuntutan pekerjaan, semakin banyak orang menggunakan transportasi udara sebagai pilihan perjalanan yang efisien. Dengan semakin maraknya maskapai penerbangan yang memberikan layanan jasa transportasi,  obral tiket promo,  masyarakat semakin menjadikannya sebagai pilihan utama perjalanan. Apakah sepanjang layanan jasa transportasi udara aman tanpa kecelakaan?

Sejak 1946 Indonesia menjadi salah satu negara dengan rekor kecelakaan penerbangan sipil terburuk di Asia. Data yang dirilis Aviation Safety Network mencatat Indonesia telah mengalami setidaknya 104 kecelakaan penerbangan sipil sejak setahun usai merdeka. Angka ini menjadikan Indonesia sebagai salah satu negara dengan penerbangan sipil terburuk di Asia. Di masa lalu kecelakaan pesawat di Indonesia kerap dikaitkan dengan buruknya kemampuan pilot, kegagalan mekanis, masalah kontrol lalu lintas udara, dan perawatan pesawat yang buruk, maka tidak demikian dengan insiden serupa dalam beberapa tahun terakhir. Sebagai perbandingan dengan negara tetangga di Asia Tetangga, Indonesia telah mengalami setidaknya 153 kecelakaan fatal dari total 3.039 korban meninggal sejak 1946 hingga 2020. Indonesia sempat mengalami masa buruk ketika mengalami tujuh kecelakaan penerbangan di tahun 2009 dan enam insiden pada 1988.

Awal tahun 2021, Indonesia kembali diterpa berita duka untuk jasa transportasi penerbangan. Pesawat dengan nomor penerbangan SJ 182 mengalami kecelakaan yang menewaskan 62 orang, terdiri dari 6 awak aktif, 40 orang dewasa, 7 anak-anak, 3 bayi dan 6 awak sebagai penumpang. Berita kecelakaan ini sangat mengagetkan. Tiap hari semua media (televisi, radio, online) fokus menginformasikan berita tersebut. Walau masih ada oknum media yang tidak memiliki sense humanity dan berpihak pada hak korban saat memberitakan kejadian.

Peristiwa ini cukup membuat pengguna jasa transportasi udara merasa cemas. Tak terkecuali Ade. Bagaimana tidak, mendapatkan informasi kejadian tersebut,  ia sedang naik pesawat untuk pulang kampung ke Bima. Perasaan berkecamuk. Tenggorokan tercekat. Sepanjang penerbangan, ia hanya memejamkan mata dan berdoa semoga perjalanan lancar dan dimudahkan. Alhamdulillah pesawat mendarat dengan sempurna dengan cuaca sedikit gerimis. Selama seminggu Ade berada di kampung halaman. Berkumpul bersama keluarga, menjumpai sahabat, mengerjakan penelitian kebencanaan.

Sehari sebelum balik ke Mataram, perasaan Ade kembali tidak tenang. Antara menempuh perjalanan darat dengan menggunakan bis selama 24 jam, atau kembali naik pesawat dengan 1 jam perjalanan. Bayang-bayang kecelakaan pesawat begitu kuat mengakar dipikiran. Dengan menguatkan hati melalui doa akhirnya Ade  memilih untuk kembali ke Lombok dengan pesawat. Bismillahirrohmanirrahim…

Di ruang tunggu Bandara Sultan Salahudin Bima, penumpang terlihat sedang duduk diam.  Entah apa yg dipikirkannya. Tampak seorang perempuan muda sibuk pencat pencet tombol hp nya. Sesekali meladeni seseorang yg bertanya sesuatu. Dengan logat khas Bima, obrolan itu terasa ada yg berbeda, mereka sedang membicarakan pesawat yang belum saja mendarat. Kenapa tidak ada pemberitahuan delay, sudah jam 14.30, ungkapnya penuh kesal. Penumpang lain menimpali dan menegaskan kekesalannya. Mereka kembali sibuk dengan hp-nya masing-masing untuk membunuh waktu. Bukankah menunggu perkara sulit!

Ade terdiam di kursi tunggu, hatinya berkecamuk tak karuan. Sesekali air matanya tumpah. Sholat dan berdoa sudah dilakukan. Hatinya tetap saja tak tenang. Serupa ada sesuatu yg berlarian, merebut sesuatu. Ade menelpon anak-anak, memberitahukan akan pulang siang ini dengan nomor penerbangan IW 1865. Wajah mereka sumringah, akhirnya ibu pulang, horeeeee.. ungkap Sirra.

Ade memandang matanya dalam-dalam. Ada kerinduan disana. Walaupun senyumnya sumringah, ia tau Sirra ingin segera rebah dalam pangkuan ibunya.  Air matanya tak terasa kembali jatuh. Ia tidak peduli dengan sekeliling. Isaknya kembali menjadi, sambil berdoa, mengelus dada yg mulai sesak. 

Dari kejauhan, ia melihat landasan pacu pesawat. Kosong, kemana pesawatnya mendarat? Awan menghitam. Sekian lama menunggu, tidak ia temukan apa-apa, hanya suara yang terus lalu lalang melintas dikepala. Pesawat dengan nomor penerbangan SJ 182 belum ditemukan. Tapi Ade melihat mereka menari bersama kuda putih sambil sesekali melambaikan tangan. Sampai bertemu dikeabadian.

Terdengar seseorang menepuk pundaknya,  ibu…kita telah sampai di Bandara Praya – Lombok,  silakan ambil barang-barang ibu dengan hati-hati agar tidak terjatuh. Ade-pun menoleh ringan disamping jendela pesawat, memastikan apa yang disampaikan pramugari. Hatinya terasa ringan, ia melihat dari jauh seorang gadis cantik berlari bersama ibunya dilapangan pacu, sambil sesekali mereka berbegangan tangan. Sirra, tunggu ibu!!!

Ilustrasi: Suara.com

Tinggalkan Komentar

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *