Pulang ke Asal Rumah Asal

Salah satu novel Tere Leye berjudul PULANG. Nampaknya, kata pulang lebih menyimpan romantisme dibandingkan kata pergi. Jika pergi bermakna meninggalkan tempat asal, sebaliknya, pulang bermakna kembali. “Pulang kampung” adalah awal pengulangan kebahagiaan, minimal nostalgia, romantisme lama yang dirindukan, penuh kenangan. Dalam arti ini, ritual sosial “pulang kampung” selalu meriah, dan ditunggu, tidak hanya oleh orang yang menunggu kedatangan, tetapi juga didambakan oleh orang yang pulang.

Sahabat! Jika psikologi PERGI (meninggalkan) menyiratkan “entitas asal’ yang KURANG (kualitas dan atau kuantitas), karenanya diperlukan petualangan pergi untuk perubahan, perbaikan. Sebaliknya, psikologi PULANG menyiratkan kerinduan ke asal-usul, sumber kebaikan. Dari sini kita belajar kenapa kalau ada orang wafat (meninggal), atau tertimpa musibah, umat muslim diajarkan mengucapkan “Innâlillâhi, wainnâilaihirâji‘ûn” (sesungguhnya kita milik Allah, dan kita akan kembali, pulang kepada-Nya) (QS. 2:156).

Konsep “pulang” dan “pergi”, hakikinya, mengajarkan psikologi penyikapan seseorang terhadap keadaan. Dalam kaitan ini, kalau kita bepergian jauh, biasanya menggunakan pesawat terbang, kita sering membeli tiket dengan status “PP”. Lalu, apa kepanjangan dari singkatan PP? Wow, banyak orang menjawabnya “PULANG-PERGI”. Menarik!

Pertanyaan yang menarik, dan menggelitik “kepo-ku” (kuriositas) dari jawaban itu adalah “jika PP bermakna “PULANG-PERGI”, lalu, perjalanan kepulangan itu berangkat dari mana?” Makna implisitnya, titik berangkat perjalanan itu pasti BUKAN dari tempat asal primordialnya, yaitu keluarga inti, rumah, kampung halaman, atau asal-usul yang sangat bernilai romantis.

Baca juga: Historisitas Tasbih – Alat Hitung Zikir Orang Saleh

Ada kesan bahwa akronim PP (pulang-pergi) berasal dari petualangan negatif, atau pengalaman anak bandel, anak jalanan, atau orang yang tersesat dari jalan lurus, pergi, kabur dari asal surgawinya, karena kenakalan. Kepulangan seperti ini pasti tidak menyenangkan, karena warga tempat tujuan kepulangannya (rumah, asal-usul) belum tentu merindukan kedatangannya. Mengingat kepulangannya tidak dirindukan, maka, dia pergi lagi (dari rumah), terusir karena rekam jejak keburukannya, dia kembali ke jalanan, atau kembali ke kubangan keburukan-dosa.

Sahabat! Makna PP (pulang-pergi) di atas menyiratkan bahwa “rumah asalku” BUKAN “surgaku” karena ia akan ditinggalkan kembali (pergi). Psikologi kepulangan ke tempat yang TIDAK “MERINDUKAN” dan TIDAk “DIRINDUKAN” seperti ini, pasti, tidak menyenangkan.

Berdasarkan QS. 2: 156 di atas, lalu kenapa Allah menyiratkan kematian adalah perjalanan pulang ke pangkuan-Nya? Jika kematian adalah arah balik untuk pertemuan ke asal-usul kesucian (ruh) Allah (QS. 15:29), kenapa banyak orang takut terhadap kematian? Seharusnya, kematian adalah napak tilas balik yang sangat menyenangkan, dirindukan oleh setiap orang beriman, karena dia akan bertemu Allah, sang Idola yang dipujanya setiap saat. Kematian ada proses pulang ke “kampung asal manusia”, yaitu surga.

Sahabat! Ketakutan terhadap kematian, sebetulnya, sebagai indikator psikologis pengingkaran kita terhadap asal-usul yang menyenangkan. Psikologi ketakutan ini, nampaknya, sebagai buah pengkhianatan-pengingkaran terhadap janji primordial seorang hamba tentang pengakuan Allah sebagai Tuhan, sumber asal-usul, mata air kebaikan, kebahagiaan, kedamaian, dan kasih-sayang (QS. 7:172).

Karena kita berasal dari Dzat yang Suci (QS. 15:29), maka kematian adalah sesuatu yang menyenangkan, karena ia merupakan perjumpaan ulang kesucian jiwa manusia dan ruh Allah. Maksiat, dosa, kedzoliman, dusta, dan perselingkuhan, adalah aktivitas yang mengotori kesucian diri kita yang membuat kita terjerat oleh dan dalam psikologi ketakutan kembali ke asal-usul primordial.

“Wahai jiwa yang tenang (dalam dan karena kesucian), kembalilah kepada Rabb (Tuhan)-mu dengan kerinduan hati yang terpuaskan, lagi di-ridhoi-Nya! Wahai jiwa yang tenang masuklah kalian ke komunitas (jamaah) hamba-hamba-Ku, dan masuklah kalian ke dalam surga-Ku (taman yang menyenangkan! [QS. 89:27-30].

Pamulang, 8 Jumad al-Tsani 1442 H.

Ilustrasi: pixabay.com

Tinggalkan Komentar

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *