Kenikmatan Mana yang Kamu Perjuangkan?

SUNGGUH kehidupan dunia memang menyajikan kenikmatan yang begitu menggoda. Jika kita abai dari menahan diri, kehidupan ini akan menyuguhkan kenikmatan sebanyak yang kita mau. Namun perlu kita sadari bahwa kehidupan saat ini sebenarnya merupakan lempengan ruang, yang telah berisi kenikmatan hakiki dan kenikmatan semu.

Tuhan memberi jatah kenikmatan kepada kita secara utuh dalam ruang yang bernama kehidupan dunia, dan kita diberikan kemerdekaan untuk menikmatinya secara bijak dan adil, berapa persen harus kita ambil di kehidupan sekarang dan berapa persen kita ambil di kehidupan akhirat nanti. 

Kita tidak boleh tergoda untuk mengambil porsi kenikmatan itu secara berlebihan di kehidupan sekarang. Kita harus ingat peringatan Tuhan bahwa kehidupan saat ini hanya tipuan dan senda gurau, kehidupan nanti jauh lebih baik dan nikmatnya akan kita rasakan abadi.

Baca juga: Salat Memberi Energi Baru

Porsi kenikmatan itu seharusnya kita siapkan lebih banyak untuk kehidupan nanti, karena kehidupan akhirat adalah kehidupan yang sebenar-benarnya dan hakiki sepanjang masa, maka persediaan porsi kenikmatan itu harus kita canangkan lebih banyak ketimbang di kehidupan sekarang.

Kita terkadang terpedaya dengan hingar-bingar bujuk rayu dunia atas nama ketenaran, padahal hanya fatamorgana yang kilauannya sungguh sangat menipu.

Berapa banyak dari kita-kita yang rela habis-habisan hanya untuk membayar prestise dan membayar nama besar. Bahkan untuk sebuah “atas nama”, untuk sebuah “pengakuan”, dan tidak sedikit yang menggadaikan saham yang telah ditanam untuk kebahagiaan hakiki nanti, demi sebuah pengakuan.

Penting kita mengambil iktibar dari kisah seorang sahabat Nabi saw, dikisahkan bahwa ada seorang sahabat yang telah melakukan perjalanan dakwah melintasi padang pasir yang sangat tandus dan panas, karena menempuh perjalanan yang sangat jauh, sahabat tersebut sangat kahausan.

Di tengah perjalanannya, dia membayangkan nikmatnya meneguk air putih. Sampailah dia di tepian padang pasir, dan melihat satu gubuk kecil, maka mampirlah dia di gubuk tersebut hendak meminta segelas air.

Baca Juga  Money Laundering yang Tak Disadari

Singkat cerita, penghuni gubuk memberikannya segelas air. Ketika air hendak diminumnya, terdengarlah suara bacaan al-Qur’an dari dalam gubuk, secara kebetulan ayat yang dibaca adalah surat at-Taubah ayat 38, “Araditum bil hayatidduniya minal akhirati fama mata’ul hayatidduniya fil akhirati illa qalilun”. Apakah kamu lebih menyenangi kehidupan di dunia daripada kehidupan di akhirat? Padahal kenikmatan hidup di dunia ini (dibandingkan dengan kehidupan) di akhirat hanyalah sedikit.

Baca juga: Menjadi Arsitek Hunian Kampung Akhirat

Sontak sahabat tersebut mengurungkan niatnya untuk meminum segelas air putih itu, dan mengembalikannya kepada pemilik gubuk seraya berkata, mendengar ayat yang dibaca dari dalam gubukmu, aku merasa ketakutan dan khawatir kalau-kalau dengan meminum segelas air ini, akan menghilangkan kebahagiaanku di akhirat nanti.

Begitu dalamnya makna dari pernyataan sahabat tersebut, ada rasa ketakutan di dalam hatinya, jangan-jangan dengan meminum segelas air, kelelahan dan kehausan yang dirasakan sebagai akibat dari perjalanan dakwahnya di atas padang pasir akan terbayarkan, dan Tuhan tidak lagi menyediakan balasan kebahagiaan untuknya di akhirat.

Kita hendaknya dapat mengambil hikmah dari kisah singkat di atas, jangan sampai prestasi berbasis akhirat yang telah kita kumpulkan dalam kurun waktu yang lama selama hidup kita, di mana balasan kebahagiaan telah Tuhan siapkan, tiba-tiba kita tukar dengan hanya “sebuah pengakuan”.

Jangan pula prestasi berbasis amal jariyah yang telah kita semai dalam kurun waktu yang panjang dalam kehidupan kita di bumi ini, di mana balasan kebahagiaan hakiki telah Tuhan sediakan, tiba-tiba kita tukar dengan hanya “sebuah sebutan nama besar”.

Jangan pernah prestasi berbasis jasa dan kemanusiaan yang telah kita pupuk begitu lelah, begitu susah, dan dalam deret masa yang cukup panjang dan lama di kehidupan kita saat ini, di mana Tuhan telah berjanji untuk memberikan kebahagiaan sejati nanti dengan mudahnya kita tukar dengan hanya “sebuah panggilan dan sebutan”.

Baca Juga  Menyoal Iqra dari Lisan Jibril

Janganlah pula prestasi berbasis alam semesta dan kemakhlukan yang sudah kita ukir dengan jerih payah dan pengorbanan yang cukup besar dan dalam waktu yang tidak singkat, di mana kita telah yakin bahwa Tuhan tidak tidur, tetapi memperhatikan kiprah kita dan pasti menyediakan sebanyak-banyaknya kebahagiaan abadi nanti tiba-tiba kita tergiur untuk menukarnya dengan hanya akan “dikisahkan dan diceritakan”.

Tuhan begitu berpihak kepada kita agar tidak terlalu cepat tergiur dan terpesona hanya dengan sebuah pengakuan, nama besar, panggilan kehormatan, dan disebut dalam kisah dan cerita. Kata Tuhan dalam surah Luqman ayat 33, “Fala tagurrannakumul hayatud duniya”. Maka janganlah sekali-kali kehidupan dunia memperdaya kamu.

Baca juga: Mendikte Perilaku Saat Melayat

Orang-orang yang terpedaya yang dimaksudkan Tuhan adalah orang yang rela menukar kebahagiaan yang Tuhan janjikan dengan sesuatu yang amat sangat kecil dan tak bernilai di hadapan Tuhan. Maka berhati-hatilah kita agar tidak mengambil putusan yang keliru dalam merebut dan menerima material kebahagiaan, jangan sampai menggadaikan amal akhirat, amal jariyah, jasa kemanusiaan, kebaikan kemakhlukan, dan bangunan keharmonisan alam semesta yang kita lakukan di kehidupan ini.

Ingatlah, bahwa segala yang diraih dan diperjuangkan dengan modal dan basis keduniawian adalah fana, maka raih dan perjuangkanlah sekenanya saja. Kebahagiaan yang sesungguhnya adalah nanti di kehidupan akhirat, maka sisakan modal yang lebih banyak untuk kebahagiaan hakiki.[] 

Tinggalkan Komentar

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *