Salat Memberi Energi Baru

Salat sebagai satu ajaran penting yang harus benar-benar kita pahami sebagai seorang muslim, ia menjadi pembeda antara seorang muslim dan non muslim. Syariat salat yang Tuhan berikan kepada umat Muhammad saw menjadi energi yang membarukan dalam seluruh sendi kehidupan umat muslim setiap waktu dan setiap saat.

Selama lima waktu yang berganti dalam sehari semalam, idealnya setiap ruas pergantian waktu salat itulah kita mendapatkan energi yang membarukan, energi baru yang Tuhan berikan untuk melakukan aktivitas baru atau melanjutkan aktivitas sebelumnya.

Seorang muslim yang menjalankan salat tepat pada waktunya secara kontinu dan konsisten akan mendatangkan energi baru untuk menjalankan aktivitas selepas salat. Tuhan menjamin kondisi itu sesuai firman-Nya dalam surah al Jumu’ah ayat 10 , “Fa idza qudiyatus sholaatu fan tasyiruu fil ardhi”. Apabila telah dilaksanakan salat, maka menyebarlah ke segala penjuru dunia.

Firman Tuhan di atas, mengabarkan bahwa salat yang dijalankan dengan benar dan baik akan memberi energi baru untuk menaklukkan seluruh penjuru bumi. Maka seorang mukmin yang telah selesai menunaikan salat, harus yakin bahwa energi dalam raga dan pikiran telah dibarukan oleh Tuhan melalui gerakan-gerakan tumakninah dan untaian-untaian doa dalam bacaan-bacaan yang dilafalkan secara benar sepanjang proses salat yang dijalani.

Dulu Nabi saw sebelum menerima syariat salat, sehari-harinya beliau dalam keadaan gundah, sedih, dan tidak punya semangat. Tuhan memanggilnya untuk menerima syariat salat. Dengan syariat salat yang diterima dan kemudian dijalankan dengan sungguh-sungguh, beliau mendapatkan energi baru untuk tampil lebih percaya diri, lebih semangat, lebih tenang, dan berenergi untuk menatap visi ke depan.

Tentunya energi yang dihasilkan oleh salat itu tidak saja Tuhan berikan hanya kepada Nabi saw, tetapi bagi siapa saja yang menjalankannya sesuai dengan yang dijalankan oleh Nabi saw, termasuk bagi para pengikutnya hingga akhir zaman.

Tuhan dan Rasul-Nya telah menjamin adanya energi baru bagi pelaku salat, tetapi kita sering tidak menyadarinya, bahkan tidak meyakininya dengan benar-benar percaya. Bukankah Tuhan telah mengatakan dalam firman-Nya di surah al Baqarah ayat 45,Wasta’iinuu bissabri was Salaah”. Jadikanlah salat dan sabar sebagai penolongmu. Adalah jaminan Tuhan akan adanya energi baru untuk para pelaku salat.

Nabi saw meyakinkan para pengikutnya terkait dengan suntikan energi bagi pelaku salat, dengan memilih diksi yang berbeda, bahwa proses pelaksanaan salat itu adalah mi’raj, naik mendekat kepada Tuhan  ke Sindratulmuntaha. Mendekat sedekat-dekatnya kepada Tuhan sebagai sumber energi, sehingga siapapun yang sudah mendekat kepada sumber energi dengan sungguh-sungguh, maka energi dalam dirinya akan terbarukan.

Wajar kalau Nabi saw dan para sahabatnya selepas menjalankan salat, mereka lebih yakin terhadap kemampuan dirinya dalam menghadapi orang-orang musyrik dan fasik, lebih yakin untuk mendapatkan kemenangan dan kesuksesan dalam berjuang, dan lebih mantap hatinya menghadapi kejahiliahan lingkungannya saat itu. 

Jika nabi dan sahabatnya telah membuktikan dengan yakin akan kehebatan syariat salat, yang mampu mendatangkan energi baru, bagaimana dengan kita? Penting untuk kita evaluasi diri terkait dengan salat yang selama ini kita jalankan. Sudahkah kita menjadikan salat sebagai wasilah untuk menyandarkan diri kepada Tuhan dalam setiap permasalahan yang kita hadapi? Sudahkah kita memikrajkan diri tatkala melaksanakan salat? Sudahkah kita mendekat sedekat-dekatnya dengan sumber energi?

Kalau kita masih ogah-ogahan dalam menjalankan ritual salat, masih asal-asalan rukuk, sujud, dan tumakninah, masih tergesa-gesa dan tidak menghayati gerakan apa yang kita lakukan dan bacaan apa yang kita lantunkan, maka kita sesungguhnya masih sangat jauh dari sumber energi, belum memenuhi syarat untuk mikraj—mendekat kepada sumber energi.

Dalam hal ini, penting kita renungkan satu pernyataan indah dari seorang ulama yang bernama Al Habib Al Habsyi dari Kwitang, “Wahai yang enggan dalam mengerjakan salat, musibahmu lebih parah daripada Iblis, Iblis menolak sujud kepada Adam as, sedangkan kamu  menolak bersujud kepada rabbnya Adam as.”

Jadi berhati-hatilah kita dalam menyikapi kewajiban salat, banyak hal yang harus kita perhatikan untuk dapat menemukan titik mikraj dalam salat kita. Termasuk memperbaiki hati agar tetap ikhlas dan patuh dalam menjalankan syariat salat, jangan sampai ada rasa enggan untuk menjalankannya.

Dalam proses menemukan titik mikraj, Nabi saw menyederhanakan prosesnya dengan satu kalimat singkat, tetapi memiliki makna yang sama dengan mikraj. Kata Nabi, “arihni bishshalah”. Saya beristirahat dengan salat yang saya lakukan. Artinya tatkala beliau sedang menjalankan sahalat, beliau menerawang jauh ke sisi sumber energi, melupakan sejenak segala hirup pikuk dunia, meninggalkan sesaat hiruk pikuk lingkungannya, dan memisahkan diri beberapa saat dari hiruk pikuk permasalahan manusia.

Beliau untuk sementara waktu dalam menjalankan salat tidak membuat cabang dalam pemikirannya, tetapi fokus khusus hanya untuk Tuhannya, segala permasalahan hidup yang dihadapi ditinggalkan sejenak, sehingga beliau benar-benar fresh dan mendapat energi baru selepas salat.

Tinggalkan Komentar

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan.