Historisitas Tasbih – Alat Hitung Zikir Orang Saleh

SECARA antropologis, tasbih adalah produk kreasi teknologi seorang hamba yang rindu Tuhannya. Secara tradisional, tasbih hanya disebut alat hitung jumlah bacaan zikir. Sebetulnya, misteri religi tasbih menyimpan jejak napak tilas obsesi dan aktivitas ibadah orang-orang saleh.

Sahabat! Suatu saat, ketika saya memegang tasbih, seseorang jemaah mushola yang tidak akrab dengan tradisi tasbih berujar bahwa berzikir tidak butuh tasbih, apalagi sampai jumlah 99. Katanya, kalau mau berzikir, tinggal gunakan ruas-ruas tangan untuk menghitungnya. Ini pernyataan yang tidak salah, tetapi ia nampaknya mereduksi dan mendistorsi fungsi eksistensial tasbih.

Pernyataan jemaah tadi mengusik kuriositasku (keingintahuan). Kegundahanku bermuara dari satu pertanyaan bukankah sesuatu alat menjadi ada, karena kebutuhan terhadapnya? Sendok dibuat untuk memenuhi kebutuhan alat bantu menikmati makanan berkuah. Sepeda, motor, mobil, pesawat, dan kapal, diciptakan untuk kebutuhan memudahkan transportasi. Jam adalah alat bantu untuk mengetahui titik waktu secara pasti dan akurat. Begitu juga sejarah dan fungsi instrumen teknologis lainnya. Ketidakmengertian terhadap sejarah dasar sebuah alat bisa melahirkan salah tafsir dan membentuk kesan pejoratif terhadapnya.

Sahabat! Tabsih juga punya sejarah, seperti sejarah sempoa dan kalkulator sebagai alat hitung. Waktu di kelas 1 madrasah ibtidaiyah (MI), tahun 1969, saya disuruh membawa beberapa batang lidi. Sesuai arahan guru berhitung, lalu lidi itu saya patahkan menjadi jumlah 10-20. Sesuai usia dan nalar emprisku yang masih anak-anak, untuk memudahkan ingatan jumlah, guru mengajarkan berhitung sederhana dengan menggunakan patahan lidi, tentu untuk menghitung jumlah yang terpikirkan oleh anak-anak.

Saat di kelas-kelas awal MI, jumlah patahan lidi terasa cukup untuk menghitung jumlah benda yang dihitung anak kecil yang belum terobsesi untuk menggapai prestasi-capaian kinerja yang banyak, seperti jumlah keuntungan juragan-kapitalis yang keserakahannya tidak berbatas.

Dengan aset dan omzet perusahaan multinasionalnya yang cukup untuk membeli semua mimpi-mimpi duniawinya, sang juragan-bos kapitalis, pasti merasa tidak akan cukup dengan patahan lidi, untuk menghitung aset dan omzet perusahaannya. Dia butuh alat hitung (sempoa untuk Cina, dan kalkulator untuk orang Barat) yang super canggih dan berkapasitas besar; tidak cukup dengan limit 2-3 digit angka (menghitung puluhan dan ratusan) untuk menghitung jumlah capaian yang jauh melampaui jumlah standar umum, dan tradisional, dalam kerangka obsesi dan kesadaran orang awam. Dia butuh kalkulator-sempoa yang memilik kapasitas hitung untuk jumlah sampai, atau melebihi puluhan digit angka.

Sahabat! Subhanallah, saat zikirku melampaui hitungan umum, sampai ratusan, bahkan ribuan kali, ruas-ruas tanganku terasa tidak cukup untuk membantuku yakin tentang akurasi hitungan zikir; padahal saya ber‘azam (terobsesi) untuk berzikir dalam jumlah yang TIDAK BOLEH kurang dalam hitungan tertentu. Dengan obsesi taqarrubku kepada sang Khaliq melalui zikir, aku mulai was-was jika ruas-ruas tanganku membuatku salah (miscalculating), atau kurang dalam menghitung jumlah minimal zikir harianku seperti jumlah yang dicontohkan Rasulullah, dan juga orang-orang saleh; jumlah ratusan, sampai ribuan ucapan zikir.

Saat ruas-ruas tanganku terasa tidak cukup, dan saya takut jumlah ruas-ruas tanganku tidak akurat untuk menghitung jumlah minimal zikir menurut ukuran standar hitungan zikir Rasulullah, saya mulai merenungi makna yang terlecehkan dari TASBIH. Bukankah tasbih adalah produk tenologi orang saleh yang ingin jumlah zikirnya tidak kurang. Bagi orang awam yang hitungan jumlah zikirnya cuma puluhan.

Sahabat! Tasbih memang tidak terlalu diperlukan oleh orang awam untuk menghitung jumlah zikirnya yang hanya sebatas jumlah yang cukup dihitung dengan memultiplikasi jumlah ruas-ruas tangan. Akhirnya, saya memahami misteri nilai-nilai religi dari tasbih, sebagai alat bantu hamba-hamba yang terobsesi dengan jumlah zikirnya yang berlipat-ganda, dan takut terhadap jumlah zikir yang kurang dari standar minimal yang dipraktikkan baginda Rasulullah.

Oleh sebab itu, tasbih adalah indikator instrumental sederhana untuk menuntun kita berzikir dalam jumlah yang super, seperti jumlah yang biasa dipraktikkan Rasulullah. Obsesi amaliah zikir yang mengejar standar jumlah zikir Rasulullah menjadi spirit konstruktif produksi dan pemanfaatan Tasbih. Bagaimana kebiasaanmu menggunakan tasbih.

Sahabat! Mungkin karena jumlah zikir kita tidak banyak, maka tasbih hilang dari rutinitas zikir kita. Aku membutuhkan tasbih untuk menghitung jumlah zikirku, agar ia tidak kurang dari jumlah standar yang dipraktikkan baginda Rasulullah.[]

Pamulang, 6 Jumad al-Tsani 1442 H.

(Sumber: facebook.com – Noryamin Aini, 21 Des 2020)

Tinggalkan Komentar

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *