Potensi Filantropi Tenaga di Indonesia

FILANTROPI pada awalnya memang berasal dari kegiatan keagamaan berupa pemberian uang kepada kelompok masyarakat yang tidak beruntung. Kegiatan filantropi pada arus awal hanya terbatas pada kegiatan yang melibatkan pemberian uang atas dasar belas kasih. Pola kegiatan ini biasanya tidak memiliki tujuan yang khusus, melainkan hanya untuk memuaskan naluri manusia sebagai makhluk sosial untuk saling membantu. Inilah yang dinamakan filantropi tradisional.

Seiring dengan perkembangan dan peningkatan kebutuhan, pola kegiatan filantropi tradisional berganti menjadi filantropi modern. Filantropi modern dapat dilihat sebagai kegiatan filantropi yang telah memiliki tujuan dan lebih terencana. Jika pada filantropi tradisional berpola individu, maka filantropi modern lebih bersifat kolektif. Filantropi modern yang juga dikenal sebagai filantropi arus kedua ini juga dimaknai tidak hanya terbatas pada pemberian uang, melainkan segala sesuatu yang ditujukan untuk membantu kelompok masyarakat yang membutuhkan untuk kesejahteraannya. Sehingga kini berkembang lah makna kegiatan filantropi.

Filantropi kini tidak lagi identik dengan ‘orang tua’ atau ‘orang kaya’ yang menyantuni kelompok yang lain. Dalam filantropi modern, seluruh orang dapat melakukan kegiatan filantropi melalui berbagai bentuk. Menurut Erna Witoelar (2016), Ketua Badan Pengarah Filantropi Indonesia, filantropi kini dapat dilakukan dengan menyumbangkan ke dalam 6 bentuk, yakni pengetahuan/keterampilan, waktu/tenaga, suara/aspirasi, jaringan, cinta, dan dana.

Salah satu bentuk filantropi yang dapat dilakukan oleh semua orang adalah filantropi tenaga. Bentuk kegiatan ini diwujudkan dengan cara menyumbangkan tenaga dan waktu yang dimiliki oleh seseorang, untuk melakukan aktivitas dan kegiatan yang ditujukan untuk kemanusiaan, tanpa mengharapkan imbalan uang atau materi. Berbeda dengan kegiatan filantropi yang berbentuk menyumbangkan uang, filantropi tenaga lebih berfokus pada kerelaan seseorang untuk menggunakan waktu dan tenaganya untuk kegiataan kemanusiaan. Sehingga dalam melakukan kegiatan filantropi tenaga, seseorang tidak dituntut untuk memiliki uang atau materi dengan jumlah tertentu. Inilah yang membuat filantropi tenaga ini dapat dilakukan oleh siapapun, tanpa melihat kondisi ekonominya. Jenis filantropi ini lebih mampu menyerap partisipasi yang luas dan tanpa hambatan ekonomi.

Potensi yang Dimiliki Indonesia Indonesia menjadi negara dengan tingkat relawan tertinggi di dunia pada tahun 2017 (Iswara, 2019). Menurut lembaga statistik Gallup yang mengambil lebih dari 150.000 sampel di 146 negara, pada tahun 2017 Indonesia menyumbang 53% relawan di seluruh dunia. Di bawah Indonesia terdapat negara Liberia dengan angka 47% relawan, kemudian Kenya dan Sri Lanka dengan 45%, dan Australia dengan 40%. Sementara menurut statistik ini, negara dengan tingkat relawan terendah adalah Laos dengan angka 4%.(hal 74).

Menurut Gallup, data tersebut diambil dengan cara menanyakan responden mengenai kegiatan 30 hari belakangan yang berkaitan dengan sumbangan uang, menjadi relawan, atau sekadar membantu orang asing. Berdasarkan data tersebut, nampaknnya faktor jumlah penduduk tidak menjadi faktor penentu tingkat relawan di sebuah negara. Amerika sebagai negara dengan jumlah populasi sebanyak 325 juta pada tahun itu bahkan tingkat relawannya hanya menunjukkan angka 39%. Sementara Cina di tahun yang sama, meskipun memiliki 1,3 miliar, namun tingkat relawannya hanya menunjukkan angka 7%.

Ini menunjukkan bahwa menjadi relawan merupakan hal yang banyak dilakukan di Indonesia. Dari tingginya angka relawan, dapat terlihat bahwa masyarakat Indonesia gemar melakukan kegiatan kemanusiaan, tidak hanya terbatas pada menyumbangkan harta, melainkan juga menyumbangkan tenaga dan waktunya. Hal ini juga dapat berarti bahwa Indonesia tengah bergerak dari bentuk filantropi tradisional ke arah filantropi modern. Sisi lain yang menarik adalah fakta bahwa Indonesia memiliki tingkat filantropi tenaga yang tinggi tersebut mendapat peluang tambahan dari fenomena bonus demografi.

Melihat perkembangan bentuk filantropi yang tidak hanya menyumbangkan harta, maka wadah-wadah filantropi pun ikut menyesuaikan dirinya. Kini, komunitas, lembaga, atau organisasi filantropi yang ada mulai menyediakan tempat untuk individu yang ingin memberikan tenaga dan waktunya kepada kegiatan kemanusiaan. Perekrutan relawan menjadi hampir ada di setiap lembaga filantropi. Dompet Dhuafa dan Aksi Cepat Tanggap (ACT) yang kini telah memiliki relawannya sendiri dapat menjadi contoh yang relevan.

Selain lembaga, kini filantropi tenaga juga telah dibantu dengan adanya pihak penghubung (connecting actor). IndoRelawan, salah satu connector berbentuk website ini merupakan penghubung antarcalon relawan dengan pencari relawan. Dengan tampilan yang sederhana, IndoRelawan memuat berbagai macam aktivitas untuk para relawan yang siap menyumbangkan tenaga dan waktunya. Kegiatan yang ditawarkan di dalamnya tentu saja merupakan kegiatan yang berhubungan dengan kemanusiaan, bahkan terdapat klasifikasi jenis kegiatan tersebut ke dalam kategori yang lebih spesifik. Dalam website tersebut, IndoRelawan mengklaim jumlah relawan yang telah dan tengah terlibat sejumlah 125.966 relawan. Sementara organisasi yang terlibat di dalamnya mencapai 2.308 dan terdapat setidaknya 4.800 aktivitas yang telah dan tengah ditawarkan.

Beberapa bentuk perkembangan tersebut juga didukung oleh komunitas-komunitas relawan yang semakin banyak. Gerakan relawan di bidang pendidikan, lingkungan, pangan, bencana, bahkan budaya menjadi lingkup yang disediakan oleh banyak sekali komunitas. Wilayah operasi komunitas relawan ini pun tidak hanya terbatas pada nasional saja, bahkan hingga internasional. Melihat potensi relawan yang begitu tinggi di Indonesia, bahkan kini kita disuguhkan dengan adanya Sekolah Relawan. Sebuah lembaga pelatihan yang memberikan pengetahuan dan keterampilan kepada para calon relawan yang akan terjun ke masyarakat. Dengan umurnya yang terbilang muda (baru menginjak 6 tahun), Sekolah Relawan memiliki empat bentuk pelatihan yang dapat diikuti dengan melakukan pembayaran sejumlah investasi. Pelatihan tersebut yakni Orientasi Relawan, Disaster Leadership Training, Volunteer Management Training, dan Emergency Situations Training.

Dari serangkaian contoh di atas, dapat terlihat bahwa tingginya minat relawan di Indonesia setidaknya telah berusaha diimbangi dengan wadah-wadah yang semakin banyak dan variatif. Hal ini menarik karena dengan wadah yang semakin berkembang ini, tentunya praktik filantropi tenaga juga akan semakin berkembang. Semakin banyaknya orang yang dapat menyalurkan minta relawannya, maka semakin banyak kegiatan berbentuk filantropi tenaga ini dilakukan. Dampak panjangnya, energi untuk melakukan filantropi tenaga ini dapat tersalurkan sehingga dapat diteruskan oleh lebih banyak orang. Wadah-wadah ini yang perlu dijaga untuk tetap eksis.

Keinginan dan minat masyarakat pada hal kerelawanan, perlu diwadahi oleh komunitas, lembaga, atau sekadar penghubung kepada kegiatan relawan. Apabila wadah ini dapat tetap eksis, atau bahkan berkembang, maka kegiatan filantropi tenaga tentu akan terus bergulir. Semakin luas filantropi tenaga dilakukan, maka semakin besar dampaknya. Jika kegiatan relawan dilakukan secara terstruktur dan terorganisasi, maka kegiatan filantropi tenaga tersebut dapat terarah dan tepat sasaran. Sehingga hasil yang diberikan tidak hanya sekali selesai, namun dapat berkelanjutan.[]

Ilustrasi: liputan6.com

Tinggalkan Komentar

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *